banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIK

Akhlak Utama dalam Mendidik Anak: Refleksi Tarbiyah Luqmanul Hakim

×

Akhlak Utama dalam Mendidik Anak: Refleksi Tarbiyah Luqmanul Hakim

Sebarkan artikel ini

Oleh: Prof. Mukhtar Latif (Guru besar UIN STS Jambi)

A. Pendahuluan: Konstruksi Madrasah Nabawiyah dalam Keluarga

Dalam perspektif pendidikan Islam, keluarga adalah ekosistem pendidikan yang paling fundamental. Kita mengenal konsep.

Al-aaba’ mudirul madrasah

“Ayah adalah kepala madrasah” yang menentukan arah kebijakan ideologis dan visi besar keluarga. Al Ummu hiyal ustadzah Alamsyah ‘Ibu sebagai pendidik Utama yang menyentuh relung hati anak dengan kurikulum kasih sayang.

Al kibaro uswah Hasanah ‘orang dewasa di lingkungan rumah berfungsi sebagai model percontohan, atau dikenal dengan teori modern pendidikan parenting.

​Anak tidak hanya mendengarkan instruksi, tetapi mereka adalah pembaca perilaku yang ulung. Tanpa keteladanan dari “Kepala Sekolah” dan “Guru Utama” serta orang dewasa di lingkungannya, narasi pendidikan hanya akan menjadi teori yang gersang.

​B. Pesan Luqman: 4 Akhlak Utama (Arkanul Akhlak) dalam Mendidik Anak
​Pola pendidikan Luqmanul Hakim yang diabadikan dalam Al-Qur’an mencakup empat pilar integratif:

​1. Arkanul Iman & Islam: Fondasi Tauhid dan Ibadah

​Pilar pertama adalah menanamkan kedaulatan Allah dalam jiwa anak. Luqman mengajarkan:

Ya bunayya la tusyrik billah, innasy-syirka lazhulmun ‘azhim.

Artinya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

​Narasi: Luqman memulai dengan “tauhid” karena inilah akar dari segala perbuatan. Tafsir At-Tabari menjelaskan bahwa kesyirikan disebut kezaliman karena ia mengaburkan hakikat kebenaran. Orang tua harus mengenalkan Al-Qur’an dan rukun Islam sebagai bentuk ketaatan mutlak. Anak yang mengenal Tuhannya akan memiliki kemerdekaan jiwa, karena ia tidak akan menghamba pada materi maupun makhluk.

​2. Arkanul Ihsan: Kesalehan Sosial (Habluminannas)

​Anak harus dilatih memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosialnya. Allah berfirman melalui lisan Luqman:

Ya bunayya aqimish-sholata wa’mur bil-ma’rufi wan-ha ‘anil-munkari washbir ‘ala ma ashabak.

Artinya: “Wahai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.” (QS. Luqman: 17)

​Narasi: Inilah konsep Ta’muruna bil-ma’ruf (mengajak kebaikan). Anak diajarkan untuk tidak hidup dalam “menara gading”. Kemewahan, kemilau harta, tapinpeaona Mereka harus berani menjadi agen perubahan di masyarakat. Kesalehan individu (salat) harus berbuah menjadi kesalehan sosial.

​3. Arkanul Insan: Sadar Diri dan Integritas (Self-Awareness)

​Pendidikan Luqman membentuk kecerdasan diri melalui pengawasan melekat (Muraqabah).

Ya bunayya innaha in taku mithqala habbatim min khardalin fatakun fi shakhratin aw fis-samawati aw fil-ardhi ya’ti bihallah.

Artinya: “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya).” (QS. Luqman: 16)

​Narasi: Ini adalah pendidikan karakter yang berbasis Self-Control. Anak diajarkan untuk cerdas mengenali dirinya sebagai hamba. Jika anak merasa Allah selalu hadir, maka ia akan memiliki integritas moral baik saat sendiri maupun di keramaian.

​4. Arkanul Alam: Etika Ekologis dan Harmoni Semesta

​Luqman mengajarkan kerendahan hati yang juga berimplikasi pada cara kita memperlakukan semesta.

Wala tusha’ir khaddaka lin-nasi wala tamsyi fil-ardhi maraha.

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)

​Narasi: Larangan bersikap angkuh mencakup cara kita memperlakukan alam. Merusak tumbuhan atau menyakiti lingkungan adalah bentuk kesombongan manusia terhadap ciptaan Allah. Arkanul Alam mengajarkan bahwa pohon yang hijau memberikan oksigen untuk kehidupan; maka merusak alam berarti merusak napas kehidupan itu sendiri.

​C. Penutup​Kesimpulannya, pendidikan anak adalah upaya komprehensif yang melibatkan kesadaran tauhid, aksi sosial, kejujuran diri, dan pelestarian alam. Mari kita jadikan rumah-rumah kita sebagai madrasah yang penuh dengan keteladanan.

​Referensi:
1. Al-Asqalani, Ibnu Hajar. (2012). Fathul Bari: Penjelasan Kitab Shahih Al-Bukhari. Jakarta: Pustaka Azzam.
2. Al-Ghazali, Imam. (2003). Ihya Ulumuddin. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiya.
3. At-Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. (2001). Tafsir al-Tabari: Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an. Kairo: Dar al-Hajr.
4. ​Latif, Mukhtar. (2020). Teori dan Praktis Pendidikan Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
5. ​Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

Tinggalkan Balasan