Perspektif Sufistik, Psikologis, dan Neurosains
Oleh: Prof. Mukhtar Latif
(Ketua ICMI Orwil Jambi – ketua MUI bidang PKU)
A. Pendahuluan
Ramadhan bukan hanya ritual musiman menahan lapar dan dahaga, tapi juga sebuah “laboratorium eksistensial”, utamanya di mana manusia diajak untuk melakukan dekonstruksi terhadap ego (nafs).
Bulan ini menjadi momentum sakral bagi manusia untuk melakukan hisab total terhadap tiga dimensi batiniah: Muhasabah (evaluasi diri), Keikhlasan (pemurnian niat), dan Saling Memaafkan (memperbaiki hubungan sosial).
Secara filosofis, Ramadhan adalah masa jeda dari hiruk-pikuk keduniawian untuk mendengarkan kembali suara ilahiyah yang sering teredam oleh kebisingan ambisi.
Kehidupan modern seringkali menjebak manusia dalam ritme yang mekanistik, di mana jiwa kehilangan orientasi. Tanpa muhasabah, puasa berisiko terjebak dalam formalitas kering tanpa ruh.
Muhasabah diperlukan agar manusia menyadari kefanaan dan kesalahannya; keikhlasan memastikan transformasi tersebut murni karena Tuhan; dan memaafkan adalah manifestasi nyata dari hati yang telah bersih dari residu kebencian. Ketiganya merupakan pilar utama menuju derajat Taqwa yang sesungguhnya.
B. Konsep Muhasabah, Keikhlasan, dan Memaafkan
1. Muhasabah:
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wal-tanẓur nafsum mā qaddamat ligad.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”
2. Keikhlasan:
Hadis dari Sayyidina Umar bin Khattab RA:
Innamal-a’mālu bin-niyyāt.
“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim).
3. Memaafkan:
QS. Ash-Shura [42]: 40:
Faman ‘afā wa aṣlaḥa fa ajruhū ‘alallāh.
“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.”
B. Konsekuensi Menolak Memaafkan: Doa Jibril AS
Terdapat peringatan keras bagi mereka yang memasuki atau mengakhiri Ramadhan namun tetap memelihara dendam dan enggan memaafkan. Dalam sebuah riwayat, Malaikat Jibril AS berdoa dan diaminkan oleh Rasulullah SAW:
Raghima anfu ‘abdin dakhala ‘alayhi ramadhānu thumma insalakha qabla an yughfara lahu.
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (karena enggan bertaubat dan memaafkan).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Hadis ini menegaskan bahwa puasa dan amal seseorang akan “tergantung” di antara langit dan bumi jika ia belum menyelesaikan urusan pemaafan dengan sesama manusia. Tuhan tidak akan membuka pintu ampunan-Nya bagi mereka yang menutup pintu pemaafan bagi saudaranya.
C. Fadhilah Silaturahim: Rezeki, Umur, dan Kesehatan
Memaafkan adalah kunci pembuka silaturahim. Rasulullah SAW memberikan janji konkret bagi mereka yang menjaga hubungan baik:
Man ahabba an yubsatha lahu fī rizqihi wa yunsa-a lahu fī atharihi falyashil rahimahu.
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (serta diberi kesehatan/keberkahan pada jejaknya), maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari & Muslim).
Dalam konteks medis-neurosains, silaturahim meningkatkan hormon oksitosin dan menurunkan hormon kortisol (stres), yang secara langsung berdampak pada kesehatan jantung dan sistem imun.
D. Pandangan Sufi: Muhasabah Gerbang Taubah
Dalam tradisi tasawuf, muhasabah dipandang sebagai pintu gerbang mutlak untuk memasuki “Gerbang Taubah”. Pandangan sufi Basyar Al-Wafi menekankan bahwa taubah yang diawali dengan muhasabah harus bersifat mendasar dan total. Bagi Basyar Al-Wafi, seseorang tidak akan pernah mencapai derajat kesucian batin sebelum ia mampu menghisab setiap detik umurnya dengan penuh kejujuran.
Gerbang taubah ini ditandai dengan dua aktivitas esensial: Istighfar dan Shalawat. Istighfar berfungsi sebagai penghapus noda (detergent spiritual), sedangkan shalawat berfungsi sebagai cahaya penghubung (konektor) menuju kemuliaan Rasulullah. Sufi kontemporer seperti Seyyed Hossein Nasr (2002) menambahkan bahwa muhasabah adalah cara manusia modern memulihkan integritas dirinya yang terpecah-belah.
E. Neuro-Spiritual: Menghidupkan God Spot
Secara saintifik, aktivitas muhasabah mengaktifkan “God Spot”. V.S. Ramachandran (1998) mengidentifikasi bahwa lobus temporal manusia memiliki sirkuit yang sangat responsif terhadap pengalaman transenden. Saat hamba beristighfar dan merenung (muhasabah), ia sedang menghidupkan sinyal Ilahiyah di otaknya. Ini memicu perpindahan aktivitas dari amygdala (pusat emosi dan amarah) ke prefrontal cortex (pusat kebijakan dan empati).
F. Eksistensi God Light dan Tragedi Ruh yang Gentayangan
Hati manusia adalah wadah bagi “God Light” (Cahaya Ilahiyah). Dalam filsafat Ibn Arabi (1989), hati (qalb) bersifat fluktuatif dan harus terus disinari agar tidak membeku oleh kebencian.
1. Suasana Hati Tanpa Cahaya
Ketika posisi hati God Light tidak bercahaya akibat keengganan memaafkan, maka efeknya adalah suasana hati yang gelap tanpa cahaya Ilahiyah. Secara psikologis, ini bermanifestasi sebagai depresi spiritual dan rasa hampa. Tanpa sinar dari langit, batin manusia menjadi ruang yang dingin dan penuh sesak oleh kabut kebencian. Memaafkan menyalakan kembali lampu di rumah batin kita sendiri.
2. Ruh yang Gentayangan dan Kegelisahan Maqam
Narasi sufi menjelaskan bahwa ruh manusia memiliki “maqam” atau tempat tinggal yang tenang dalam kedekatan dengan Allah. Namun, ketika hati gelap, ruh tersebut kehilangan ketenangannya. Ruh akan terasa “gentayangan” keluar dari diri, sebuah kondisi keterasingan eksistensial (alienation).
Ketidakhadiran ruh di “maqamnya” menyebabkan kegelisahan yang luar biasa. Manusia tersebut mungkin secara fisik ada di masjid, namun ruhnya mengembara di lembah-lembah kemarahan. Kegelisahan ini hanya bisa disembuhkan dengan mengembalikan ruh ke maqamnya melalui proses mengikhlaskan (takhalli) dan menghiasinya dengan cahaya pemaafan (tahalli).
G. Mengapa Orang Berat Memaafkan; Analisis Psikologi dan Filosofis
1. Perspektif Psikologi: Mekanisme Pertahanan Ego
Menurut Everett Worthington (2006), hambatan utama adalah “unforgiveness” yang dipicu oleh rasa takut akan kerentanan (vulnerability). Secara kognitif, otak manusia cenderung menyimpan memori negatif lebih kuat sebagai alat proteksi diri.
2. Perspektif Filosofis: Ressentiment
Friedrich Nietzsche (1887) mengulas tentang Ressentiment, sebuah kondisi di mana ketidakmampuan memaafkan melahirkan moralitas yang busuk. Keengganan mengikhlaskan berakar pada “keinginan untuk memiliki” masa lalu dan rasa sakitnya.
3. Fenomena Thick Face Black Heart (Tebal Muka Hati Hitam)
Kondisi paling ekstrem adalah “Thick Face Black Heart” (Chu, 1992).
a. Muka Tebal (Thick Face): Seseorang kehilangan rasa malu (haya’). Ia tidak punya malu lagi dalam berbuat salah namun enggan meminta maaf.
b. Hati Hitam (Black Heart): Hati yang telah kotor dan membatu oleh noda dosa. Orang dalam kondisi ini telah memutus sinyal God Spot di otaknya. Memaafkan dianggap sebagai kelemahan para pecundang.
H. Perintah, Fadhilah, dan Hikmah
1. Muhasabah: Jalan Menuju Kesadaran
Fadhilah: Menurut Ibn al-Qayyim (2010), muhasabah memberikan mata hati (bashirah) untuk melihat aib diri.
2. Memaafkan: Kemuliaan yang Nyata
Pandangan Sufi: Rumi (2004) menggambarkan memaafkan sebagai cara untuk memecahkan penjara ego agar jiwa bisa menyatu dengan samudera Tuhan.
3. Mengikhlaskan: Pembebasan Ruhani
Filsafat: Søren Kierkegaard (1941) menekankan bahwa kemurnian hati adalah “menginginkan satu hal” (Tuhan). Mengikhlaskan berarti melepaskan segala keterikatan selain kepada-Nya.
I. Penutup
Ramadhan adalah revolusi batin. Muhasabah adalah kunci pembuka pintu taubah sesuai ajaran Basyar Al-Wafi, yang disirami dengan istighfar dan shalawat. Ingatlah peringatan Jibril AS: puasa kita terancam sia-sia jika dendam masih bertahta.
Sebaliknya, janji Rasulullah nyata: silaturahim yang diawali pemaafan akan mendatangkan rezeki, kesehatan, dan panjang umur.
Kita harus berjuang agar God Spot di pikiran tetap aktif mengirimkan sinyal ketuhanan, dan God Light di hati tetap menyala terang.
Jangan biarkan diri terjebak dalam kegelapan Thick Face Black Heart.
Dengan memaafkan, kita memanggil kembali ruh kita yang “gentayangan” untuk pulang ke maqam ketenangan di hadirat Ilahi. Hanya dengan hati yang bening kita dapat melihat wajah Tuhan di akhir perjalanan puasa kita.
Referensi:
1. Al-Qushayri, A. (2007). Al-Qushayri’s Epistle on Sufism. Garnet Publishing.
2. Chittick, W. C. (1989). The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-Arabi’s Metaphysics of Imagination. SUNY Press.
3. Chu, Chin-Ning. (1992). Thick Face, Black Heart. AMC Publishing.
4. Enright, R. D. (2001). Forgiveness Is a Choice. American Psychological Association.
5. Heidegger, M. (1962). Being and Time. Harper & Row.
6. Ibn al-Qayyim al-Jawziyya. (2010). Madarij al-Salikin. Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
7. Kierkegaard, S. (1941). Purity of Heart Is to Will One Thing. Harper & Brothers.
8. Nasr, S. H. (2002). The Heart of Islam. HarperOne.
9. Nietzsche, F. (1887/1967). On the Genealogy of Morals. Vintage Books.
10. Ramachandran, V. S., & Blakeslee, S. (1998). Phantoms in the Brain. William Morrow.
11. Rumi, J. ad-Din. (2004). The Masnavi: Book One. Oxford University Press.
12. Smith, M. (2010). Rabi’a The Mystic. Cambridge University Press.
13. Worthington, E. L. (2006). Forgiveness and Reconciliation. Routledge.















