banner 120x600
banner 120x600
EKBIS

Kontraktor Bantah Air Tak Mengalir, Warga Tuntut Kejelasan dan Perbaikan Total SPAM Muaro Bantan

×

Kontraktor Bantah Air Tak Mengalir, Warga Tuntut Kejelasan dan Perbaikan Total SPAM Muaro Bantan

Sebarkan artikel ini

JAMBIDAILY.COM – Polemik proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Desa Muaro Bantan kian mengemuka. Warga mengeluh air tak pernah mengalir normal ke rumah mereka. Namun kontraktor pelaksana membantah keras tudingan tersebut. Silang klaim ini bukan hanya memicu perdebatan, tetapi juga membuka pertanyaan soal kualitas perencanaan dan pengawasan proyek.

Sejumlah warga menyebut aliran air tidak stabil, bahkan ada yang mengaku belum pernah menikmati distribusi air sebagaimana dijanjikan. Ditambah lagi, bak penampungan dilaporkan longsor dan sambungan pipa kerap terlepas.
Kontraktor pelaksana, Frengki, menegaskan proyek tersebut sebelumnya sudah berfungsi.

“Tidak benar kalau disebut tidak pernah mengalir. Air sudah pernah kita uji coba dan sempat mengalir ke warga,” ujarnya.
Ia menilai tudingan tersebut sebagai klaim sepihak.
“Itu klaim sepihak dari warga yang tidak senang dengan kepala desa sebelumnya karena tidak dimasukkan dalam daftar penerima manfaat,” tegasnya.

Frengki mengakui saat ini distribusi terganggu akibat bak penampungan mengalami kerusakan karena longsor. Menurutnya, sebelum kejadian itu debit air sangat deras hingga menimbulkan tekanan udara dalam pipa.

“Airnya kencang sekali, sehingga pipa jadi berangin dan sering terlepas. Saya sudah berulang kali memperbaiki,” katanya.

Ia juga membantah tudingan bahwa ada pipa yang tidak ditanam.

“Kalau di tebing cadas memang tidak bisa digali, tapi kita ikat kuat. Di wilayah perkampungan tidak ada pipa yang tidak kita tanam. Total jaringan lebih dari tiga kilometer,” ujarnya.

Sementara itu, PPTK kegiatan, Randa, yang sebelumnya telah dikonfirmasi menyatakan proyek tersebut sempat diuji coba dan air sudah mengalir. Namun ia membenarkan adanya kerusakan akibat faktor alam.

“Air sudah pernah mengalir saat uji coba. Saat ini memang ada kerusakan pada bak penampungan akibat longsor,” ujar Randa.

Ia menegaskan proyek masih dalam masa pemeliharaan sehingga kontraktor tetap bertanggung jawab melakukan perbaikan.

Meski demikian, polemik ini memunculkan pertanyaan lebih jauh. Apakah kajian teknis terkait kontur lahan dan risiko longsor telah diperhitungkan sejak tahap perencanaan? Bagaimana fungsi pengawasan selama proses pekerjaan berlangsung? Dan sejauh mana evaluasi dilakukan sebelum proyek dinyatakan selesai?

Warga kini mendesak bukan hanya perbaikan teknis, tetapi juga transparansi dan kepastian agar proyek bernilai miliaran rupiah itu benar-benar memberi manfaat nyata. Sebab bagi mereka, yang dibutuhkan bukan sekadar bantahan atau penjelasan, melainkan air bersih yang mengalir stabil setiap hari.
(nzr)

Tinggalkan Balasan