Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd.
(Guru besar UIN STS Jambi)
A. Era Perkembangan Artificial Intelligence (AI)
Dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar terhadap kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Tahun 2025 menjadi momentum penting ketika teknologi AI tidak lagi dipandang sebagai inovasi masa depan, melainkan telah menjadi bagian nyata dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari. Kehadiran teknologi seperti ChatGPT, Gemini, Copilot Education, Khanmigo, Quizizz AI, Meta, depseek dan Grammarly AI telah mengubah pola belajar siswa dan mahasiswa, pola mengajar guru dan dosen, hingga sistem evaluasi pendidikan modern (Kasneci et al., 2023).
Teknologi AI mulai digunakan dalam berbagai aktivitas pendidikan, seperti:
penyusunan materi pembelajaran,
asesmen otomatis,
personalized learning,
tutor virtual,
analisis kemampuan siswa,
hingga pengembangan media pembelajaran interaktif.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian integral pendidikan modern. Namun di sisi lain, ledakan teknologi ini juga memunculkan berbagai persoalan baru, seperti:
menurunnya kemampuan berpikir kritis, tumbuh suburnya
budaya instan,
rendahnya integritas akademik,
dan melemahnya pendidikan karakter.
Fenomena tersebut semakin relevan ketika pemerintah Indonesia mulai mendorong integrasi AI dan coding dalam sistem pendidikan nasional pada tahun ajaran 2025/2026 (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025). Selain itu, pendekatan deep learning juga mulai diperkenalkan sebagai strategi transformasi pendidikan nasional menghadapi era digital.
Persoalannya bukan saja bagaimana AI digunakan dalam pendidikan, tetapi bagaimana pendidikan tetap mampu menjaga dimensi kemanusiaan di tengah derasnya perkembangan teknologi. Sebab pendidikan sejatinya tidak hanya membentuk manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang memiliki moralitas, empati, kreativitas, dan kebijaksanaan.
Tulisan ini membahas tantangan pendidikan di tengah ledakan Artificial Intelligence, dampaknya terhadap proses pembelajaran, kesiapan guru menghadapi transformasi digital, serta pentingnya pendekatan humanistik dalam menjaga keseimbangan antara teknologi dan nilai kemanusiaan.
B. Artificial Intelligence dan Transformasi Pendidikan Modern
Artificial Intelligence merupakan teknologi yang memungkinkan sistem komputer melakukan proses yang menyerupai kemampuan berpikir manusia, seperti memahami bahasa, menganalisis data, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan (Russell & Norvig, 2021).
Dalam dunia pendidikan, AI telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Jika sebelumnya siswa harus mencari informasi melalui buku, jurnal, dan proses diskusi panjang, maka saat ini jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui AI generatif.
Perubahan tersebut menjadikan pembelajaran lebih:
cepat,
fleksibel,
personal,
dan efisien.
Menurut penelitian Zawacki-Richter et al. (2023), AI dalam pendidikan berkembang pesat pada aspek:
adaptive learning,
intelligent tutoring system,
automated assessment,
learning analytics,
dan academic support system.
AI memungkinkan guru melakukan analisis kemampuan siswa secara lebih cepat dan akurat. Selain itu, teknologi AI membantu guru dalam:
penyusunan perangkat pembelajaran,
pengembangan evaluasi,
pembuatan media interaktif,
dan administrasi akademik.
Penelitian Holmes et al. (2022) menjelaskan bahwa AI berpotensi meningkatkan efektivitas pendidikan apabila digunakan secara etis dan proporsional. Namun tanpa pengawasan yang tepat, AI juga dapat menimbulkan persoalan serius terhadap kualitas pembelajaran.
Fenomena ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan modern.
C. Tantangan Pendidikan di Era Artificial Intelligence
1. Menurunnya Kemampuan Berpikir Kritis
Salah satu tantangan terbesar pendidikan era AI adalah menurunnya kemampuan berpikir mendalam peserta didik. Kemudahan memperoleh jawaban instan membuat sebagian siswa menjadi terbiasa menerima informasi tanpa proses refleksi dan analisis yang cukup.
Carr (2020) menjelaskan bahwa budaya digital dapat mengubah pola kerja otak manusia menjadi lebih cepat tetapi dangkal. Individu menjadi terbiasa membaca singkat, berpikir instan, dan kehilangan daya reflektif.
Fenomena tersebut terlihat dari:
rendahnya minat membaca panjang,
menurunnya daya tahan belajar,
meningkatnya budaya copy-paste,
dan ketergantungan pada jawaban instan.
Padahal menurut Piaget (1972), belajar sejati terjadi ketika individu aktif membangun pengetahuan melalui proses berpikir dan pengalaman mandiri. Oleh karena itu, pendidikan yang terlalu bergantung pada AI berpotensi melemahkan konstruksi intelektual peserta didik.
2. Krisis Integritas Akademik
Artificial Intelligence juga memunculkan persoalan serius terhadap integritas akademik. Banyak siswa menggunakan AI untuk:
membuat tugas,
menyusun esai,
menjawab soal,
bahkan menghasilkan karya ilmiah.
Akibatnya, hasil akademik tidak selalu mencerminkan kemampuan asli peserta didik.
Menurut Cotton et al. (2023), penggunaan AI generatif tanpa regulasi yang jelas dapat meningkatkan risiko plagiarisme dan academic dishonesty dalam dunia pendidikan.
Kohlberg (1981) menjelaskan bahwa perkembangan moral manusia dibentuk melalui latihan pengambilan keputusan etis. Ketika siswa terbiasa mengambil jalan instan tanpa proses intelektual yang jujur, maka perkembangan moral akademik menjadi terganggu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengembangkan kecerdasan teknologi, tetapi juga harus memperkuat integritas moral peserta didik.
3. Melemahnya Interaksi Sosial dalam Pembelajaran
Kemajuan AI juga menyebabkan interaksi sosial dalam pendidikan mulai berkurang. Sebagian siswa lebih nyaman berinteraksi dengan teknologi dibandingkan berdiskusi langsung dengan guru maupun teman sebaya.
Padahal Vygotsky (1978) menjelaskan bahwa perkembangan kognitif manusia sangat dipengaruhi interaksi sosial. Pembelajaran yang efektif terjadi melalui:
dialog,
kolaborasi,
pengalaman sosial,
dan komunikasi interpersonal.
Jika pendidikan terlalu bergantung pada teknologi, maka:
empati sosial,
kemampuan komunikasi,
dan kolaborasi siswa dapat melemah.
Karena itu, AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan.
4. Melemahnya Peran Guru sebagai Figur Pendidikan
Perkembangan AI membuat guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Siswa kini merasa semua jawaban tersedia di internet dan AI mampu menjelaskan materi secara otomatis.
Namun guru tetap memiliki fungsi penting sebagai:
mentor,
pembimbing karakter,
fasilitator berpikir,
dan teladan moral.
Freire (1970) menjelaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer informasi, tetapi proses membangun kesadaran kritis manusia. Oleh karena itu, guru tetap memiliki posisi sentral yang tidak dapat digantikan AI sepenuhnya.
D. Kesiapan Guru Menghadapi Transformasi AI
Salah satu tantangan terbesar pendidikan era digital bukan hanya kesiapan siswa, tetapi juga kesiapan guru menghadapi perkembangan teknologi AI. Banyak guru masih mengalami kesulitan dalam memahami penggunaan AI secara efektif dan etis dalam pembelajaran.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa literasi digital guru sangat memengaruhi keberhasilan implementasi AI di sekolah (Kohnke et al., 2023). Guru yang memiliki kompetensi digital lebih mampu:
memanfaatkan AI secara kreatif,
mengembangkan pembelajaran inovatif,
dan mengarahkan siswa menggunakan teknologi secara sehat.
Namun sebagian guru masih memandang AI sebagai ancaman terhadap profesi pendidikan. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya resistensi terhadap transformasi digital.
Padahal di era Artificial Intelligence, guru tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai materi. Guru masa depan harus mampu menjadi:
mentor,
fasilitator pembelajaran,
pembimbing karakter,
problem solver,
dan pengarah etika penggunaan teknologi.
Menurut Goleman (1995), hubungan emosional dalam pembelajaran memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pendidikan. Karena itu, meskipun AI berkembang pesat, sentuhan kemanusiaan guru tetap tidak dapat digantikan teknologi.
Transformasi pendidikan era AI menuntut guru untuk:
terus belajar,
meningkatkan literasi digital,
memahami teknologi,
dan tetap menjaga pendekatan humanistik dalam pendidikanl.
E. Deep Learning sebagai Respons Pendidikan Indonesia
Menghadapi ledakan Artificial Intelligence, pemerintah Indonesia mulai memperkenalkan pendekatan deep learning sebagai strategi transformasi pendidikan nasional pada periode 2025–2030.
Deep learning dalam konteks pendidikan bukan sekadar teknologi AI, melainkan pendekatan pembelajaran yang menekankan:
pemahaman mendalam,
berpikir kritis,
refleksi,
kreativitas,
dan pembelajaran bermakna.
Pendekatan ini menjadi penting karena era AI menuntut kemampuan yang sulit digantikan teknologi, seperti:
kreativitas,
empati,
kebijaksanaan,
komunikasi,
dan kemampuan reflektif.
Menurut Fullan et al. (2018), deep learning membantu siswa membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui pembelajaran kolaboratif dan reflektif.
Pendekatan deep learning juga mendorong pendidikan bergerak dari:
budaya hafalan, menuju:
budaya pemahaman dan pemaknaan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, pendidikan tidak lagi hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga pada pembangunan kemampuan berpikir dan karakter manusia.
F. Pendekatan Humanistik dalam Pendidikan Era AI
Di tengah perkembangan Artificial Intelligence, pendekatan humanistik menjadi semakin penting. Pendidikan humanistik memandang manusia sebagai makhluk yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga:
emosi,
moralitas,
kesadaran sosial,
kreativitas,
dan dimensi spiritual.
Goleman (1995) menjelaskan bahwa Emotional Intelligence memiliki peran besar dalam keberhasilan hidup manusia. Kemampuan:
mengendalikan emosi,
memahami orang lain,
membangun empati,
dan menjalin hubungan sosial,
tidak dapat digantikan teknologi.
Namun realitas pendidikan digital saat ini menunjukkan meningkatnya:
budaya instan,
cyberbullying,
rendahnya kesabaran,
dan krisis empati generasi muda.
Bandura (1977) menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi lingkungan sosial. Ketika lingkungan digital dipenuhi:
ujaran kebencian,
budaya pamer,
dan validasi semu,
maka perilaku tersebut mudah ditiru peserta didik.
Karena itu, pendidikan humanistik harus menjadi fondasi penting dalam menghadapi era Artificial Intelligence.
G. Perspektif Spiritual dan Pendidikan Moral
Selain pendekatan humanistik, pendidikan era AI juga membutuhkan penguatan dimensi spiritual dan moral. Frankl (2006) menjelaskan bahwa manusia membutuhkan makna hidup, bukan sekadar efisiensi teknologi.
Jika pendidikan terlalu fokus pada aspek teknis dan digital, maka manusia berisiko:
kehilangan orientasi nilai,
mengalami kekosongan makna,
dan melemahnya kesadaran moral.
Dalam perspektif pendidikan Islam, Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan akhlak dan penyucian jiwa. Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kerusakan sosial.
Karena itu, teknologi harus dikendalikan oleh:
moralitas,
kebijaksanaan,
dan tanggung jawab kemanusiaan.
Pendidikan masa depan harus mampu menciptakan keseimbangan antara:
kecerdasan digital,
kecerdasan emosional,
dan kecerdasan spiritual.
H. Membangun Pendidikan Masa Depan yang Seimbang
Menghadapi era Artificial Intelligence, pendidikan masa depan membutuhkan transformasi yang seimbang antara teknologi dan nilai kemanusiaan.
Pertama, AI harus diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir manusia. Peserta didik perlu diajarkan etika penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Kedua, sekolah perlu memperkuat pembelajaran berbasis:
refleksi,
diskusi,
problem solving,
project based learning,
dan kolaborasi sosial.
Ketiga, pendidikan karakter harus kembali menjadi prioritas utama melalui:
keteladanan,
pembiasaan moral,
penguatan empati,
dan pengembangan spiritualitas.
Keempat, guru perlu bertransformasi menjadi mentor dan pembimbing karakter, bukan sekadar penyampai informasi akademik.
Kelima, pemerintah dan institusi pendidikan perlu memastikan bahwa transformasi digital tidak menghilangkan dimensi kemanusiaan dalam proses belajar.
Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang bijak dalam mengendalikan teknologi.
I. Penutup
Ledakan Artificial Intelligence telah membawa perubahan besar terhadap sistem pendidikan modern. AI mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran, memperluas akses ilmu pengetahuan, dan mempercepat transformasi digital pendidikan.
Namun di balik manfaat tersebut, AI juga menghadirkan tantangan serius terhadap:
kemampuan berpikir kritis,
integritas akademik,
interaksi sosial,
dan pendidikan karakter.
Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya membangun kecerdasan digital. Pendidikan juga harus memperkuat:
moralitas,
empati,
refleksi,
spiritualitas,
dan kebijaksanaan manusia.
Pendekatan deep learning, humanistik, dan pendidikan moral menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan di era Artificial Intelligence.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh kemampuan manusia menjaga nilai, akhlak, dan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi tersebut.
+++++++++
Referensi:
1. Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. New Jersey: Prentice Hall.
2. Carr, N. (2020). The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. New York: W.W. Norton.
3. Cotton, D. R. E., Cotton, P. A., & Shipway, J. R. (2023). Chatting and cheating: Ensuring academic integrity in the era of ChatGPT. Innovations in Education and Teaching International, 61(2), 228–239.
4. Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
5. Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep Learning: Engage the World Change the World. California: Corwin Press.
6. Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.
7. Holmes, W., Bialik, M., & Fadel, C. (2022). Artificial Intelligence in Education: Promises and Implications for Teaching and Learning. Boston: Center for Curriculum Redesign.
8. Kasneci, E., Sessler, K., Küchemann, S., Bannert, M., Dementieva, D., Fischer, F., et al. (2023). ChatGPT for good? On opportunities and challenges of large language models for education. Learning and Individual Differences, 103, 102274.
9. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). “Implementasi Deep Learning dan AI dalam Pendidikan Nasional.”
10. Kohnke, L., Moorhouse, B. L., & Zou, D. (2023). Exploring generative artificial intelligence preparedness among educators. Computers and Education: Artificial Intelligence, 4, 100133.
11. Kohlberg, L. (1981). Essays on Moral Development. San Francisco: Harper & Row.
12. Piaget, J. (1972). The Psychology of Intelligence. New Jersey: Littlefield Adams.
13. Russell, S., & Norvig, P. (2021). Artificial Intelligence: A Modern Approach (4th ed.). New Jersey: Pearson.
14. Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society. Cambridge: Harvard University Press.
15. Zawacki-Richter, O., Bond, M., Marin, V. I., & Gouverneur, F. (2023). Systematic review of artificial intelligence applications in higher education. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 20(1), 1–28.














