banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIKRAGAM

PERTARUNGAN BUDAYA LOKAL DAN BUDAYA GLOBAL: SIAPA PEMENANGNYA?

×

PERTARUNGAN BUDAYA LOKAL DAN BUDAYA GLOBAL: SIAPA PEMENANGNYA?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd.
(Guru Besar UIN ata Jambi)

A. DUNIA SEDANG MENYERAGAMKAN MANUSIA

Hari ini manusia boleh jadi tinggal di negara berbeda, tapi mulai berpikir, berpakaian, berbicara, dan berperilaku dengan pola yang sama. Globalisasi membuat dunia terkoneksi dalam hitungan detik. Budaya global masuk lewat internet, film, musik, media sosial, dan industri hiburan. Di sisi lain, budaya lokal tersingkir perlahan, bukan karena lemah, tetapi karena ditinggalkan.

McLuhan 1962 menyebut “the world is becoming a global village”. Dunia memang makin dekat. Tapi kedekatan global dibayar mahal: hilangnya identitas lokal. Globalisasi tidak selalu datang lewat senjata. Kadang ia datang lewat hiburan dan gaya hidup yang tampak tidak berbahaya.

Narasi yang kami suguhkan dalam Artikel ini membedah pertarungan budaya lokal vs global dengan kerangka Geertz tentang budaya sebagai sistem makna, Appadurai tentang arus budaya global, dan Adorno-Horkheimer tentang Culture Industry. Fokusnya 5 hal: definisi, penyebab kuatnya global, faktor desakan lokal, peran media sosial, dan jalan keluar 2024-2025.

B. DUA LOGIKA BUDAYA: AKAR VS PASAR
1. Budaya Lokal: Lahir dari Akar Pengalaman Manusia
Koentjaraningrat 2009 mendefinisikan budaya sebagai keseluruhan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Budaya lokal punya 3 ciri yaitu: diwariskan turun-temurun, terikat wilayah dan sejarah, mengandung nilai sosial dan spiritual. Ia tumbuh dari tanah, ritual, bahasa daerah, gotong royong, relasi manusia dengan alam. Budaya lokal tidak diproduksi, ia dihidupi. Contoh: wayang, batik, upacara adat, bahasa Banjar/Jawa. Nilainya bukan kecepatan, tetapi kedalaman makna dan kesinambungan generasi.

2. Budaya Global: Lahir dari Jaringan Pasar
Budaya global bersifat lintas negara, diproduksi massal, disebar media digital. Appadurai 1996 menjelaskan globalisasi budaya terjadi lewat 5 arus: ethnoscapes, mediascapes, technoscapes, financescapes, ideoscapes. Arus media dan ide membuat gaya hidup, Jepang, Korea atau Amerika masuk ke kamar anak di Kalimantan, di Papua bahkan di pelosok desa sekalipun, hanya dalam 1 detik

Perbedaan intinya: budaya lokal tumbuh dari akar masyarakat, budaya global tumbuh dari jaringan pasar. Satu mencari makna, satu mencari skala. Satu diwariskan, satu dijual.

C. MENGAPA BUDAYA GLOBAL MENANG TELAK?
1. Logika Industri Budaya
Adorno dan Horkheimer 1947 menyebut budaya modern diproduksi massal seperti barang pabrik. Musik, film, fashion distandarkan agar mudah dikonsumsi jutaan orang sekaligus. Budaya bukan lagi identitas, tapi komoditas ekonomi. K-pop, Hollywood, fast fashion, tren TikTok adalah produk industri yang didukung kapital triliunan.

2. Tiga Senjata Global
Pertama, *teknologi*. Ponsel membuat budaya global masuk ke ruang privat tanpa izin. Kedua, *viralitas*. Algoritma mengejar engagement dan emosi. Konten 15 detik mengalahkan refleksi 1 jam. Ketiga, *kapital*. Industri hiburan punya dana besar untuk memproduksi dan membuat budaya global terlihat “keren”.

Hasilnya: budaya global menang bukan karena lebih bermakna, tapi karena lebih masif dan sistematis. Ia menang di medan kecepatan dan jangkauan.

D. MENGAPA BUDAYA LOKAL TERDESAK?
1. Ditinggalkan, Bukan Dikalahkan
Giddens 1990 bilang modernitas mengguncang tradisi lewat perubahan cepat. Urbanisasi, migrasi digital, dan budaya instan membuat anak muda takut dianggap kuno kalau pakai bahasa daerah atau adat.

Data resmi menampar. BPS 2023 mencatat penutur bahasa daerah turun 25% dalam 10 tahun terakhir. BPS 2024 melaporkan hanya 34% Gen Z yang aktif menggunakan bahasa ibu di rumah. UNESCO 2024 mencatat 1 bahasa daerah punah tiap 2 minggu di dunia. Indonesia punya 718 bahasa, 11 sudah dinyatakan punah. Ini bukan statistik, ini tanda akar mulai kering.

2. Empat Luka Lokal
Pertama, “keluarga” berhenti mewariskan. Orang tua sibuk HP, komunikasi diganti chat. Kedua, “sekolah” terlalu formal dan berorientasi ujian. Muatan lokal jadi pelengkap, bukan jantung. Ketiga, “media” lebih untung jual budaya global karena pasarnya luas. Keempat, “psikologi sosial”: anak malu pakai batik di sekolah tapi bangga pakai hoodie K-pop. Yang paling berbahaya bukan budaya asing masuk, tapi ketika masyarakat sendiri malu dengan budayanya.

E. MEDIA SOSIAL: MEDAN PERANG BUDAYA
1. Perang di Layar Ponsel
Hari ini perang budaya tidak terjadi di medan perang, tapi di layar ponsel. Media sosial membentuk tren, menentukan apa yang “keren”, dan mengatur perhatian manusia. Baudrillard 1981 menyebut masyarakat modern hidup dalam simulasi dan citra. Yang viral lebih penting dari yang benar. Estetika mengalahkan makna.

We Are Social & Meltwater 2024: anak Indonesia 8 jam 36 menit/hari di media sosial. Itu ruang privat paling panjang dalam sehari, dan isinya dikuasai algoritma asing. Algoritma lebih menentukan selera Gen Z daripada guru dan orang tua.

2. Tirani Algoritma
Algoritma tidak netral. Ia hanya mengejar 4 hal: engagement, durasi tonton, klik, emosi. Konten budaya lokal yang butuh konteks dan refleksi kalah telak dengan konten 15 detik pemicu tawa atau marah. Ini kolonialisme baru: bukan penjajah fisik, tapi penjajah atensi. Ruang privat manusia sudah dikuasai teknologi digital.

F. SIAPA YANG MENANG? KECEPATAN VS KEDALAMAN*
Kalau ukurannya popularitas, budaya global menang telak. Industri K-pop 2024 tembus 12 miliar USD. TikTok punya 1,5 miliar pengguna aktif. Budaya global unggul dalam pengaruh, ekonomi, media, gaya hidup, konsumsi hiburan. Ia membuat manusia terhubung lintas batas.

Tapi kalau ukurannya makna hidup, jawabannya belum tentu. Geertz 1973 menegaskan budaya adalah sistem makna. Di titik ini budaya lokal masih bertahan: dalam identitas komunitas, nilai sosial, spiritualitas, solidaritas, hubungan manusia dengan alam. Budaya global unggul kecepatan, budaya lokal unggul kedalaman. Budaya global membuat manusia terhubung, budaya lokal membuat manusia merasa memiliki.

Paradoksnya: kita terhubung dengan dunia, tapi kesepian di rumah sendiri. Kita hafal nama influencer, tapi lupa nama tetangga. Keterhubungan digital tidak otomatis melahirkan rasa memiliki dan akar psikologis.

G. APA YANG TERJADI JIKA BUDAYA LOKAL KALAH?
Bauman 2000 menyebut era Liquid Modernity: manusia modern hidup dalam ketidakpastian identitas. Ketika budaya lokal hilang, dampaknya nyata: krisis identitas, individualisme, hilangnya solidaritas, kesepian sosial, masyarakat mudah terpecah.

Ketika bahasa ibu hilang, cerita leluhur putus. Kampung kehilangan komunitas karena semua sibuk dengan dunianya sendiri. Budaya berubah dari “kehidupan” menjadi “tontonan”. Dulu kita kenal tetangga. Hari ini kita lebih kenal influencer daripada warga sebelah rumah. Masyarakat tanpa budaya lokal mudah dikendalikan karena kehilangan pegangan nilai. Ia jadi konsumen pasif, bukan subjek budaya.

H. MASA DEPAN: MELAWAN ATAU BERADAPTASI?
Stuart Hall 1996 menegaskan identitas budaya tidak statis, ia selalu dinegosiasikan dan terus berubah. Budaya lokal tidak harus melawan dunia, tapi harus cukup kuat agar tidak hilang di dalamnya. Musuh terbesar bukan modernitas, tapi ketidakberdayaan.

Enam Jalan Bertahan 2025/2026-2045:
1. Digitalisasi budaya lokal: wayang digital, batik NFT, makanan, bahasa daerah jadi konten TikTok edukatif.
2. Lahirkan kreator budaya: anak muda jadi duta lokal, bukan sekadar ikut tren.
3. Pendidikan berbasis budaya: sekolah ajarkan nilai lokal lewat proyek, bukan hafalan.
4. Hidupkan bahasa ibu: 1 hari/minggu “Hari Bahasa Daerah” di sekolah dan kantor.
5. Festival budaya modern: kemas tradisi dengan panggung, musik, estetika kekinian.
6. Ekonomi kreatif lokal*: UMKM kuliner, kriya, wisata budaya jadi mesin ekonomi desa.

Prinsipnya: jangan anti-modern. Yang penting nilai tetap hidup, identitas tetap kuat, masyarakat tidak kehilangan akar. Smith 2009 menyebut etno-simbolisme: bangsa kuat kalau simbol dan mitosnya hidup di era modern.

I. PENUTUP
Pertarungan budaya bukan soal siapa paling modern, tapi siapa yang mampu mempertahankan makna kemanusiaannya. McLuhan benar: dunia jadi desa global. Tapi desa tanpa rumah adat, tanpa bahasa ibu, tanpa ritual bersama, bukan desa. Ia hanya kumpulan individu yang kebetulan tinggal berdekatan.

80 tahun Indonesia merdeka, kita di persimpangan. Kalau budaya lokal mati, dunia tetap berjalan. Tapi manusia akan berjalan tanpa arah. Globalisasi kasih kita sayap untuk terbang, budaya lokal kasih kita akar agar tidak tersesat.

Jawabannya: jangan tolak global, tapi teguhkan lokal. Biarkan anak fasih TikTok, tapi juga fasih tembang macapat dan beragam tembang daerah yang sangat kaya. Biarkan nonton Netflix, tapi juga paham filosofi gotong royong. Bangsa besar adalah bangsa yang bisa bicara dengan dunia, tanpa lupa bahasa ibunya sendiri.

REFERENSI:
1. Adorno, T. W., & Horkheimer, M. 1947. Dialectic of Enlightenment. New York: Herder and Herder.

2. Appadurai, A. 1996. Modernity at Large: Cultural Dimensions of Globalization. Minneapolis: University of Minnesota Press.

3. Badan Pusat Statistik. 2023. Statistik Kebahasaan dan Kesenian 2023. Jakarta: BPS.

4. Badan Pusat Statistik. 2024. Profil Statistik Kebudayaan 2024. Jakarta: BPS.

5. Bauman, Z. 2000.
Liquid Modernity. Cambridge: Polity Press.

6. Baudrillard, J. 1981. Simulacra and Simulation. Ann Arbor: University of Michigan Press.

7. Geertz, C. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

8. Giddens, A. 1990. The Consequences of Modernity. Cambridge: Polity Press.

9. Hall, S. 1996. “Cultural Identity and Diaspora”. In Identity: Community, Culture, Difference. London: Lawrence & Wishart.

10. Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

11. McLuhan, M. 1962. The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Toronto: University of Toronto Press.

12. Smith, A. D. 2009. Ethno-symbolism and Nationalism: A Cultural Approach. London: Routledge.

13. UNESCO. 2024. Atlas of the World’s Languages in Danger. Paris: UNESCO Publishing.

14. We Are Social & Meltwater. 2024. Digital 2024: Global Overview Report. London: DataReportal.
——-

Tinggalkan Balasan