Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Merangin Bertandang, Putri Kusuk Disajikan

4 min read

Oleh: Oky Akbar

JURNAL PUBLIK – Merangin Bertandang menjadi judul besar kegiatan Dewan Kesenian Merangin. Kegiatan ini menyajikan pameran lukisan dari Rumah Kreativ Merangin dan pertunjukan teater oleh Sanggar Seni Budaya Batin Penghulu. Berpusat di Taman Budaya Jambi, kegiatan berlangsung mulai dari tanggal 1 sampai dengan 10 April 2021.

Pertunjukan teater oleh Sanggar Seni Budaya Batin Penghulu digelar pada tanggal 2 April di Arena Taman Budaya Jambi. Pertunjukan mengangkat Legenda Putri Kusuk, dari Desa Liki, Kabupaten Merangin. Putri Kusuk merupakan perempuan cantik berambut panjang. Kecantikannya tersohor sampai ke penjuru negeri. Karena kecantikannya, banyak lelaki yang ingin menikahinya. Ia menjadi rebutan para bangsawan dan saudagar kaya. Namun sayang, pernikahannya tidak pernah berlangsung lama. Suami Putri Kusuk meninggal tak lama setelah mereka menikah. Lalu Putri Kusuk menikah lagi. Tak lama kemudian, suaminya meninggal lagi.

Kematian para suami Putri Kusuk disebabkan oleh Lipan Putih, penjaga/bodyguard Putri Kusuk. Hingga berkali-kali menikah, nasibnya selalu sama. Mereka terbunuh oleh Lipan Putih. Suatu saat datang petani miskin. Mereka berjumpa, berkisah, dan bersepakat untuk menikah. Berbeda nasib dengan suaminya terdahulu, petani miskin tidak mampu dibunuh oleh Lipan Putih.

Diperankan delapan aktor, pertunjukan berlangsung kurang lebih satu jam. Para aktor sudah berusaha menjalankan tanggungjawabnya secara maksimal. Ilustrasi musik yang bernuansa kedaerahan cukup membantu ‘mewarnai’ setting suasana kampung, suasana alam yang asri, ditambah pula hamparan daun-daun kering dan sebatang pohon di atas panggung memperkuat daya artistik pertunjukan.

Dua aktor yang bernyanyi diawal pertunjukan merupakan abstraksi cerita yang kemudian peranannya beralih pada tokoh Nenek. Nenek kemudian memegang kendali jalannya cerita sebagai narator dengan adegan membuka buku yang berdebu, seolah-olah sedang berdongeng. Nenek bergerak secara fleksibel. Ia dibebaskan untuk bergerak ke posisi penonton dan sesekali masuk ke dalam panggung. Pertunjukan menampilkan adegan romantisme Putri Kusuk dengan Bangsawan, Saudagar Kaya dan Petani Miskin serta pertarungan/perkelahian Lipan Putih dengan para Suami Putri Kusuk.

BACA JUGA:  Perjalanan Betuah (10)

Rangkaian peristiwa menampilkan grafik alur yang menanjak. Konflik yang terjadi di setiap adegan menjadi tahapan untuk mencapai klimaks pertunjukan. Dengan kekuatan karakter masing-masing tokoh, Febra Muyu selaku sutradara mengeksplorasi seluruh komponen yang dimiliki. Kemunculan pertentangan status sosial kaya-miskin, tradisional-modern, dengan pengaplikasian beberapa bahasa asing seperti ayang beb, by the way, bodiguard, tranding topik, yang justru menjadi letupan-letupan humor. Usaha itu sudah cukup baik.

Kritik sosial juga bermunculan dalam pertunjukan ini. Dengan hukum azaz praduga tak bersalah, saya coba menafsirkan beberapa hal. Pertama, kritik terhadap pemerintah. Munculnya dialog di sini susah sinyal mengisyaratkan bahwa pembangunan sektor fisik, khususnya telekomunikasi, yang juga terjadi di beberapa daerah, tidak berjalan baik. Kondisinya dari tahun ke tahun masih seperti itu-itu saja. Padahal, masyarakat daerah juga memiliki hak yang sama untuk bisa mengakses internet. Di sisi lain, juga menjadi makna tersirat bahwa, kami –Sanggar Seni Budaya Batin Penghulu-  adalah komunitas yang berasal dari daerah. Ada semacam rasa segan, rasa berkecil hati, karena pentas dipanggung yang begitu representatif.

Kedua, kritik terhadap ekonomi. Tokoh Furqon merupakan representasi saudagar kaya dengan latar budaya Arab. Ditandai dengan penggunaan gamis, kumis, dan jenggot yang menyatu (brewok), serta berdialek arab. Dalam dialognya, ia menyebut sebagai saudagar kaya yang berbisinis di daerah tersebut. Sebagai simbol kekayaan, ia memberi hadiah satu peti emas kepada Putri Kusuk. Ia bisa dikatakan sebagai ‘sultan’. Ia melihat ada banyak peluang bisnis di daerah tersebut, salah satunya penambangan emas. Jika dikaitakan dengan konteks Jambi, penambangan emas banyak terdapat di daerah Merangin. Dengan modal yang ‘kuat’, ia bisa saja membuka bisnis tambang. Artinya, ia bisa mendapat keuntungan dari kekayaan daerah, sedangkan yang menanggung kerusakan alam adalah masyarakat. Apakah pemodal tambang di Merangin berasal dari Arab? Perlu kajian lain untuk menjawab ini.

BACA JUGA:  Rumit, Remeh dan Ramahnya Penanggulangan Pandemi Covid-19 di Indonesia

Ketiga, kritik moral. Tokoh Lipan Putih menjadi simbol kearoganan seorang pengawal. Bukan membela/melindungi melainkan menjadi sumber kesedihan. Seringkali pengawal justru menjadi penghancur. Bisa dianalogikan kepada konstelasi politik yang terjadi. Calon Kepala Daerah (cakada) sering kali dirusak citranya oleh pengawal -bisa kita sebut tim sukses- yang tindakannya justru merugikan. Meskipun dicitrakan dengan kata ‘putih’ yang sepadan dengan makna suci, Lipan tetap menjadi binatang yang berbahaya.

Keempat, kritik strata sosial. Sebagai sutradara perempuan, Febra Muyu juga berusaha mengangkat nilai-nilai keperempuanan. Lewat pertunjukan ini, Putri Kusuk yang dua kali menikah dengan laki-laki yang berkecukupan –kaya- justru tidak hidup bahagia. Harta yang seringkali dinomorsatukan terbantahkan oleh ketulusan hati tokoh petani miskin. Kaya-miskin, baik-buruk, hitam-putih selalu menjadi pertentangan dalam kehidupan. Pemenangnya adalah keikhlasan.

Selain keempat hal di atas, tentu juga terdapat beberapa kelemahan. Misalnya, dua penyanyi sebagai pembuka adegan justru bersifat kontradiksi sebab peranannya kemudian diambil alih oleh tokoh Nenek yang berperan sebagai narator. Sebagai narator, awalnya nenek sudah menggiring penonton untuk masuk ke dalam cerita. Nenek membuka buku yang berdebu, yang dimaknai sebagai simbol keusangan atau cerita yang sudah sangat lama, tetapi kemudian buku itu justru dilepas dan diletakkan begitu saja di samping level. Karakter tokoh Nenek tidak cukup bertahan sampai pertunjukan selesai. Ornamen-ornamen yang menempel pada tubuh juga masih terpasang, gelang dan cincin misalnya. Pada hal lain, sangat disayangkan munculnya koda cerita. Barangkali ini bagian dari konsep yang diusung oleh sutradara.

Pertunjukan ini cukup menarik. Banyak hal baik yang bisa diperoleh dan tentu saja banyak juga hal-hal teknis yang masih bisa untuk disempurnakan. Terima kasih. Terus berkarya. Salam budaya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *