27/09/2022

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Catatan dan Saran Juri Festival Teater Remaja Se-Provinsi Jambi Tahun 2022

9 min read

Para Dewan Juri/Foto: Ist

Oleh: Putra Agung

Pekan lalu, saya didapuk menjadi salah seorang juri Festival Teater Remaja (FTR) yang bertemakan “Telusur Tanah Berjejak” yang dilaksanakan UPTD Taman Budaya Jambi, bersama Mas Yanusa Nugroho (sastrawan/dramawan) dan Bung Titas Suwanda (aktor/sutradara).

Pelaksanaan FTR tahun ini terasa berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dikarenakan Taman Budaya Jambi melaksanakan FTR tahun 2022 dengan bentuk pementasan teater rakyat yang bersumber dari upacara adat yang ada di Provinsi Jambi dan membawakan salah satu dari sembilan naskah hasil workshop penulisan naskah abdul muluk modern yang dilakukan oleh Taman Budaya Jambi pada April lalu.

Selama dua hari penuh dewan juri secara cermat dan detail menyaksikan, mencatat, menilai serta berdiskusi mengenai kelebihan dan kekurangan keempat belas pertunjukan peserta FTR. Semua itu dilakukan demi menemukan para pemenang yang betul-betul layak menang dengan penilaian secara profesional, proposional, objektif, adil dan bertanggung jawab. Secara umum, penilaian yang kami lakukan meliputi tiga aspek utama yaitu (1) Pemeranan, (2) Penataan dan (3) Penyutradaraan.

Saat ini proses penilaian dan pengumuman pemenang telah dilakukan, meski begitu terdapat sejumlah catatan dan saran dewan juri yang mungkin dipahami sekaligus diterapkan demi peningkatan kuantitas serta kualitas karya pertunjukan dari para remaja di Provinsi Jambi untuk masa yang akan datang.

 

CATATAN

Pahami Juknis

Dalam mengikuti sebuah perlombaan, para peserta seharusnya membaca dan memahami secara baik tentang petunjuk teknis (juknis) yang telah ditetapkan oleh panitia.

Hal ini penting agar para peserta memahami syarat, kewajiban, tematik hingga teknis lomba. Termasuk mengetahui kriteria penilaian, bentuk garapan, serta durasi karya. Membaca dan memahami juknis berarti sudah mendekatkan diri pada kemenangan. Kenapa? Dikarenakan peserta bisa menyelami apa yang diinginkan panitia dan dewan juri.

Jelas disebutkan bahwa panitia dalam hal ini UPTD Taman Budaya Jambi menginginkan pertunjukan teater rakyat yang dikemas dalam bentuk hukum panggung modern.

Artinya, peserta diharapkan menampilkan pertunjukan teater rakyat yang lebih fokus pada isi dan tujuan, tidak kaku, spontanitas, melakukan interaksi dengan penonton, terkadang muncul pantun, narator, nyanyian atau tarian.

Bentuk pertunjukan rakyat yang bebas ini harus dimainkan dengan menjaga hukum panggung modern. Seperti, komposisi bloking, kehadiran konflik hingga resolusi, akting yang baik dan sewajarnya, kehadiran logika pertunjukan, hingga komposisi musik, busana, properti dan seting yang apik, dan lain sebagainya.

Alih-alih memahami juknis dengan baik, para peserta FTR 2022 banyak ‘terjebak’ dalam lelucon kasar alias komedi slapstik yang overdosis dengan alibi teater dul muluk sekaligus melupakan hukum panggung yang mestinya diterapkan.

Akibatnya, kebanyakan peserta hanya menyajikan ‘tontonan’ tanpa ‘tuntunan’.

 

Ikuti Technical Meeting & Jangan Enggan Bertanya

Bagi saya pribadi, salah satu penyebab peserta kalah saat festival adalah menggampangkan proses pertemuan teknis atau lazim disebut technical meeting (TM).

Pada saat TM, peserta dapat berinteraksi secara langsung dan bersamaan tidak hanya dengan panitia namun juga berjumpa dengan dewan juri serta koordinator panggung. Sayangnya, kebanyakan peserta menganggap ‘receh’, menganggap TM sebatas formalitas dan enggan bertanya terkait pelaksanaan festival termasuk teknis penilaian.

Alhasil, sejumlah peserta terlihat gagap dan bingung saat diminta plot lighting, desain panggung dan konsep pemanggungan serta sibuk bertanya kesana-kemari terkait apa yang diinginkan juri.

(Teater Arasy, Juara 1 Festival Teater “Telusur Tanah Berjejak” Tahun 2022)

Lakukan Secara Serius Kerja Penyutradaraan

Dalam pertunjukan teater, sutradara merupakan penanggung jawab kekaryaan sehingga baik-buruknya sebuah pertunjukan sangat dipengaruhi oleh kualitas sutradara.

Ini menandakan, menjadi sutradara bukan ‘gegayaan’ dan tidak bisa asal jadi, grasa-grusu dan harus berbasis proses, pengalaman batin, pemahaman serta ilmu pengetahuan.

Menjadi sutradara berarti memiliki kesadaran penuh untuk bertanggung jawab serta berkerja keras untuk 1) menentukan lakon, 2) melakukan tafsir lakon 3) memiliki konsep pertunjukan yang jelas, 4) berdiskusi dengan penulis naskah lakon bila memungkinkan, 5) melakukan riset terkait bentuk garapan 6) memilih aktor dengan alasan yang profesional, 7) memberikan arahan penggarapan berdasarkan tafsir teks, subteks hingga interteks, 8) menjelaskan, berdiskusi dan berdebat secara terbuka, sehat dan kritis dengan aktor serta para penata (artistik, musik, busana, rias, dan cahaya), 9) memiliki kejelian serta daya khayal yang tinggi agar mencapai sebuah pertunjukan yang baik serta 10) sanggup mempertanggungjawabkan secara fisik dan mentak (dipuji, dicaci,dikritisi) terkait hasil karya pertunjukan yang dihasilkan.

BACA JUGA:  Meneropong Perkembangan Demokrasi di Indonesia

Beratnya tugas yang harus diselesaikan seorang sutradara tersebut membuat posisi ini bergengsi sehingga siapapun mampu menjadi sutradara (tak peduli apapun latar belakangnya) asalkan memiliki kemauan belajar, berusaha, dan berproses.

Metode dan ilmu penyutradaraan mesti dipelajari baik secara langsung melalui jalur sekolah seni atau dapat juga dipahami secara otodidak dengan membaca buku-buku metode penyutradaraan diimbangi dengan rutin menyaksikan beragam pertunjukan baik amatir maupun profesional, mengamati karya rupa, musik, tari hingga sastra, rajin bertanya kepada mereka yang sudah terlebih dahulu terjun di dunia penyutradaraan serta yang paling penting, rutin berproses menyutradarai karya pertunjukan.

Dalam FTR 2022, posisi sutradara banyak didominasi anak-anak muda namun belum memiliki pengetahuan penyutradaraan yang cukup, pemahaman literasi yang kuat serta pengalaman emosional keaktoran dan penyutradaraan yang mumpuni. Hal ini berimbas pada kualitas karya teater maupun kualitas dari kelompok teater tersebut. Disisi lain, dengan segala kekurangannya, keberanian dan semangat para milenial untuk menyutradarai merupakan hal yang patut disyukuri malahan mereka harus diberikan ruang untuk terus berani berkarya.

Kedepan, para sutradara muda ini secara sadar dan sedini mungkin menanamkan sifat tahan kritik, nekat, mau belajar, konsisten berkarya. Kerja-kerja penyutradaraan harus dilakukan dengan kesabaran dibarengi kemandirian untuk mau melatih diri, memahami dramaturgi, menelaah kerja-kerja emansipatoris teater, mempelajari artistik, manajemen panggung serta menjadikan tujuan latihan berteater sebagai sebuah laboratorium kerja bukan sebatas rehearsal untuk naik pentas.

Jika enggan atau tak mau berproses, pun gengsi melakukannya, maka anda akan terus-menerus masuk dalam golongan ‘sutradara dalam rangka’ atau ‘katanya sutradara’.

Pelajari Ilmu Keaktoran

Menjadi aktor bukan pekerjaan mudah namun tidak juga sulit asalkan benar-benar mau mempelajari ilmu keaktoran, selalu berproses.

Sebab aktor tidak sebatas membacakan dialog diatas panggung. Seorang aktor melakukan proses akting: perpaduan antara atraksi fisikal (ketubuhan), intelektual (analisis karakter dan naskah), spiritual (transformasi nilai dan jiwa).

Seorang aktor sebelum naik ke panggung harus memahami isi, konsep, latar belakang hingga esensi naskah yang dimainkan. Seorang aktor ‘wajib’ berani mempertanyakan kebenaran dan keinginan sutradara sembari berdiskusi secara intens dengan aktor lainnya.

Apakah selesai? Tentu saja belum. Seorang aktor (tak peduli latar belakang pendidikannya) harus menguasai ilmu keaktoran, minimal dasar-dasar keaktoran agar mengetahui secara detail apa itu blocking, gruping, respons, teknik muncul, konflik, momentum, improvisasi, gimik, eksplorasi properti, gestikulasi kalimat, pernafasan, ketubuhan, logika gerak, vokalitas, logika dialog, ruang imajinatif, struktur dramatik, aksi-emosi, premis, komposisi, penjiwaan/psikologi.

Jangan lupakan pula, pemahaman tentang gestur ilustratif, gestur indikatif, gestur empatik dan gestur autistik serta ruang pentas pun ruang imajinasi.

Aktor juga dituntut mampu menyampaikan dialog dengan baik dengan ciri: 1) terdengar (volume baik), 2) jelas (artikulasi baik), 3) dimengerti (lafal benar), 4).menghayati (sesuai dengan peran yang ditentukan dan logika dialog dalam kehidupan).

Aktor juga diminta bergerak dengan baik dengan takaran; 1) terlihat (blocking baik), 2) jelas (tidak ragu ragu, meyakinkan), 3) dimengerti (sesuai dengan logika gerak dalam kehidupan), 4). menghayati (sesuai dengan peran yang dalam naskah)

BACA JUGA:  Mengapa Alharis?

Aktor juga harus menggunakan dan mengeksplorasi suara/vokalnya dengan “tepat guna dan suasana”. Artinya, vokal dengan cara ucap yang sesuai dengan kebutuhan suasana naskah. Tak sebatas itu, aktor juga dituntut menyampaikan kata dalam dialog dengan artikulasi yang jelas, lantang dan tenang agar kata maupun kalimat yang disampaikan bisa didengar penonton tanpa terjadi kesalahan pemahaman sehingga peristiwa pertunjukan bisa didedahkan secara paripurna.

Kenapa semua itu penting? Karena aktor adalah seniman yang mewujudkan sebuah peran didalam sebuah lakon ke realita seni pertunjukan; karena aktor adalah orang yang mengubah kisah menjadi peristiwa.

Aktor merupakan mesin penggerak dari sebuah pertunjukan sehingga seorang aktor tak hanya sebatas membacakan dialog, tidak sekedar melucu saat tuntunan naskah menulis adegan komedi atau lucu.

Aktor tidak boleh berpura-pura dan hanya mendemonstrasikan emosi psikologis yang palsu diatas panggung sehingga ketika berperan sebagai dukun dalam lakon “Ngabit Ujan”, aktor tidak hanya membuat penonton TAHU bahwa ia berakting sebagai dukun tetapi YAKIN bahwa ia benar-benar seorang dukun (knowing and believing).

Semua ilmu keaktoran tersebut dapat dipelajari dan penting untuk dicatat bahwa seorang aktor saat berada dipanggung harus bermain sewajarnya dan tidak berlebihan, kecuali memang menjadi tuntutan naskah.

Bermain sewajarnya berarti seorang aktor memainkan sebuah karakter dalam lakon secara intuitif, menggunakan rasa, psikologi dan emosi secara kontinyu, memakai ‘rangsangan’ dari aktor atau pendukung pertunjukan lainnya secara santai dan tepat, serta menyajikannya melalui sikap, ekspresi, laku, gerak, dan vokal tanpa kehilangan kesadaran ruang pun waktu.

Aktor dituntut mampu menciptakan kebenaran peran, dan mengutip pernyataan Peter Brook, berakting dari seribu ‘kesalahan’ dan hanya satu saja ‘kebenaran’ hanya tercipta bila melakukan proses secara terus-menerus.

 

Penataan dengan sungguh-sungguh

Penataan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar semua pertunjukan yang dihadirkan dapat menjadi tidak sekedar indah namun juga ‘memperkuat dan berbunyi’.

Penataan artistik merupakan bagian tim produksi yang didalamnya terdapat beberapa divisi diantaranya set studio (set panggung), music ambience (musik dan bebunyian pendukung), wardrobe (busana), make up (rias wajah) dan property (perlengkapan). Setiap divisi memiliki tanggung jawab yang berbeda namun bersifat satu kesatuan untuk mendukung kelancaran pertunjukan.

Untuk kebutuhan pertunjukan, maka penataan artistik harus membuat konsep artistik dan daftar apa saja yang diperlukan. Mulai dari setting dekorasi panggung, properti yang akan digunakan, rias wajah para aktor, busana yang akan dikenakan, dan lain sebagainya. Semuanya harus dicatat dan didiskusikan bersama pimpinan produksi serta sutradara. Penting untuk diingat supaya tak memakai properti artistik yang tak digunakan diatas panggung serta semata-mata menjadi pemanis tanpa dipakai ataupun dieksplor oleh para aktor.

Set studio (set panggung) dibuat menekankan penggambaran 1) suasana atau keadaan peristiwa lakon, 2) dimana peristiwa lakon terjadi, 3) kapan terjadinya peristiwa lakon tersebut terjadi, 4) efektifitas dan fleksibilitas perubahan suasana dan peristiwa lakon.

Kebutuhan set panggung harus dicatat secara detail karena ini berkaitan dengan biaya produksi. Seorang penata artistik harusnya secara cerdik mampu mensiasati set panggung sesuai dengan keinginan sutradara dengan ketersediaan biaya (jikalau ada) serta memanfaatkan barang atau benda yang ada di sekeliling panggung untuk meminimalisir pengeluaran produksi.

Music ambience juga harus diperhatikan dengan seksama dengan penekanan, 1) jenis bebunyi apakah elektro atau akustik 2) apakah efek bebunyian atau musik pendukung pertunjukan mampu mendukung suasana pertunjukan, 3) seberapa volume efek bebunyian atau musik pendukung pertunjukan agar tidak mengganggu ertunjukan bila terlalu keras, 4) mampukah efek bebunyian atau musik pendukung pertunjukan menciptakan malah bisa menstimulasi permainan aktor atau hanya sekedar tempelan belaka.

BACA JUGA:  Tambang di Sungai Kambang
Zander Subagja, Sutradara Terbaik Festival Teater “Telusur Tanah Berjejak” Tahun 2022

Hindari pula kebiasaan menggunakan musik atau backsound yang bersifat komersial. Selain berkaitan dengan hak cipta, hal ini juga menunjukan ketidaksiapan sebuah sanggar dalam membuat pertunjukan. Tak hanya itu, penggunaan musik atau backsound komersil juga kadang bisa mengurangi penilaian dalam sebuah perlombaan.

Begitu pula dengan wardrobe (busana) yang dikenakan para aktor. Seorang penata mesti dapat mengidentifikasi dan mengetahui karakter sebuah peran, berapa usianya, apa sifat karakternya, bahan busana seperti apa. Kesemua itu agar busana yang dipakai sesuai dengan peran yang dimainkan dan mampu menunjang peran yang dibawakan aktor.

Setidaknya ada tiga jenis tata rias wajah (make-up). Pertama, rias wajah karakter, kedua rias wajah fantasi  serta ketiga rias wajah cantik.

Dari ketiga jenis riasan tersebut, harus disesuaikan dengan keinginan sutradara, tak bisa asal-asalan dan mempertimbangkan sejumlah aspek. Mulai dari 1) karakter sebuah peran dalam pertunjukan, 2) bentuk wajah aktor, 3) jenis bahan rias yang digunakan, 4) bentuk baju yang dikenakan, serta 5) tata panggung yang dihadirkan.

Perlu untuk dipahami bahwa kostum (wardrobe) maupun rias wajah (make-up) seorang aktor bisa membantu seseorang aktor untuk meyakinkan penonton (believing) tentang peran yang dimainkannya.

Pemahaman mengenai property (perlengkapan) khususnya stage business harus diketahui aktor untuk memperkuat karakter yang dibawakannya. Mulai dari; 1) Hand props, objek kecil yang dibawa atau dipegang oleh seorang aktor diatas panggung. Seperti; minuman, kertas tas, gelas, dll. 2) Personal props, barang pribadi seorang aktor, seperti kacamata, peci, jam, kipas tangan dan lainnya. 3) Costume props, semua aksesoris yang digunakan oleh aktor diatas panggung yang berhubungan dengan pakaiannya. Seperti, tombak, pedang, sapu tangan.4) Stage props, meliputi barang-barang atau objek yang berhubungan dengan scene fisik. Seperti, tempat duduk, meja, pohon, perahu, dan lainnya.

Jika dilakukan penataan dengan sungguh -sungguh diimbangi dengan komunikasi serta kesadaran yang baik antar semua pihak yang terlibat dalam sebuah pertunjukan maka pertunjukan teater akan berjalan dengan optimal serta maksimal.

Sebab teater merupakan sebuah kerja kolektif yang menjauhi one man show didalamnya.

SARAN

  • Guna peningkatan kualitas pekerja teater di Jambi, saya menyarankan dilakukan workshop penyutradaraan dan keaktoran secara intensif sebelum dilaksanakan festival sejenis di Provinsi Jambi dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang berkompeten. Hal ini penting disebabkan banyak talenta muda yang tidak terasah dengan baik dari kabupaten/kota dalam wilayah Provinsi Jambi
  • Festival serupa tetap dilaksanakan di tahun berikutnya dan diharapkan diikuti oleh seluruh perwakilan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jambi
  • Secara personal, saya sangat mengapresiasi langkah TBJ yang telah sudi memuliakan naskah tulisan hasil karya anak Jambi sehingga mudah-mudahan kedepan para penulis muda semakin terpacu dan bersemangat membuat berbagai naskah drama lainnya
  • Terima kasih kepada Taman Budaya Jambi (TBJ) dibawah naungan Disbudpar Provinsi Jambi, yang selalu memberikan ruang bagi para milenial untuk terus berkarya sembari menyebarkan rasa cinta terhadap tradisi, seni dan budaya bangsa.
  • Semoga kedepan lahir dan muncul karya teater dan pelaku teater yang berkualitas sekaligus berkelas

 

Salam hangat,
Dewan Juri II FTR 2022
Putra Agung

  • Penulis merupakan seniman seni pertunjukan yang berdiam di Provinsi Lampung dan Jambi.
  • Pengurus di Teater Tonggak dan juga menjabat direktur artistik komunitas danceteater DianArza Arts Laboratory (DAAL).
  • Saat ini juga mendapat amanah sebagai duta merk (brand ambassador) Art Calls Indonesia (ACI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :