Penulis: Dr. Yuliana, S.E., M.SI
(Akademisi dan Jurnalis)
Latar Wacana
Iduladha selalu hadir sebagai momentum spiritual yang sarat makna sosial. Perayaan ini tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya pengorbanan, kepedulian, solidaritas, serta penguatan hubungan antarmanusia.
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, Iduladha memiliki relevansi besar dalam memperkuat moderasi beragama sekaligus memperkokoh persatuan di tengah keberagaman keyakinan, budaya, dan identitas sosial.
Indonesia dikenal sebagai bangsa multikultural dengan tingkat keragaman yang sangat tinggi. Agama, etnis, bahasa, dan tradisi merupakan realitas sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kebangsaan. Dalam konteks ini, moderasi beragama menjadi kebutuhan penting untuk menjaga harmoni sosial.
Kementerian Agama Republik Indonesia mendefinisikan moderasi beragama sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang mengambil jalan tengah, tidak ekstrem, serta menghargai martabat kemanusiaan dan kebinekaan sosial. Konsep ini sejalan dengan prinsip Islam Wasathiyah, yang menempatkan keseimbangan, keadilan, dan toleransi sebagai nilai utama dalam kehidupan beragama.
Keberagaman di Indonesia diakui sebagai identitas sekaligus kekayaan bangsa. Karena itu, moderasi beragama menjadi pilar penting dalam kehidupan berbangsa. Konsep jalan tengah ini berarti menghindari perilaku atau pemahaman yang berlebihan dan ekstrem, serta selalu menjunjung tinggi toleransi.
Prinsip Islam Wasathiyah menekankan keadilan, keseimbangan (tawazun), dan toleransi sebagai nilai inti dalam beragama. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, moderasi beragama berfungsi sebagai fondasi utama untuk merawat kerukunan dan mencegah konflik horizontal atas nama agama.
Moderasi beragama biasanya diukur melalui 4 indikator utama (IAIFA KEDIRI):
1. Komitmen kebangsaan.
2. Toleransi.
3. Anti kekerasan.
4. Penghormatan terhadap tradisi dan budaya lokal.
Al-Qur’an memberikan dasar yang kuat mengenai pentingnya sikap moderat dalam kehidupan sosial. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt. pada QS. Al-Baqarah ayat 143:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٤٣
Artinya:
“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang dahulu kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa umat Islam diarahkan untuk menjadi komunitas yang adil, proporsional, dan mampu menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bersama. Konsep ummatan wasathan mengandung makna keseimbangan antara kesalehan spiritual dan tanggung jawab sosial.
Dalam konteks kehidupan kebangsaan, moderasi beragama menuntut penghormatan terhadap hak masyarakat lain dalam menjalankan keyakinannya.
Selain itu, QS. Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa keberagaman merupakan kehendak Tuhan. Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Ayat ini memperlihatkan bahwa perbedaan tidak dimaksudkan untuk melahirkan permusuhan, melainkan untuk membangun relasi sosial yang saling menghormati. Semangat ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.
Iduladha juga menghadirkan pesan kemanusiaan yang kuat melalui distribusi daging kurban kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial maupun agama. Praktik sosial tersebut menunjukkan bahwa Islam mendorong solidaritas universal.
Semangat berbagi dalam Iduladha dapat memperkuat hubungan sosial lintas kelompok dan memperkecil jarak akibat perbedaan identitas.
Argumentasi
Nilai pengorbanan dalam Iduladha memiliki dimensi moral dan sosial yang sangat luas. Kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As mengajarkan ketundukan kepada Allah Swt, keikhlasan, serta kesediaan menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi.
Dalam kehidupan masyarakat modern, semangat pengorbanan tersebut dapat diwujudkan melalui kesediaan menahan ego kelompok, mengurangi sikap intoleran, serta membangun ruang dialog yang sehat di tengah perbedaan.
Masyarakat Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius berupa polarisasi sosial dan menguatnya sikap intoleransi dalam ruang publik. Media sosial sering menjadi arena penyebaran ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama.
Dalam situasi tersebut, Iduladha dapat dimaknai sebagai momentum memperkuat etika sosial berbasis kasih sayang dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Polarisasi sosial dan intoleransi, khususnya yang dipicu oleh penyebaran ujaran kebencian berbasis agama di media sosial, telah menjadi tantangan serius bagi kerukunan masyarakat. Hari Raya Iduladha diakui sebagai momentum penting untuk memperkuat kohesi dan etika sosial melalui semangat berbagi, empati, dan penghormatan terhadap sesama. (mu.or.id).
Terdapat beberapa fakta dan konteks terkait kondisi saat ini:
1. Tantangan Polarisasi dan Intoleransi di Ruang Digital. Media Sosial sebagai Pemicu: Media sosial sering kali menjadi ruang yang mempercepat penyebaran disinformasi, hoaks SARA, dan ujaran kebencian yang merusak kerukunan. (Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta). Data intoleransi dari berbagai studi, termasuk pendokumentasian dari SETARA Institute, mengindikasikan bahwa intoleransi berbasis identitas masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian khusus di berbagai wilayah. (Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta). Kurangnya pemahaman bermedia sosial yang bijak turut memperdalam perpecahan dan sekat antar golongan. (BAZNAS Kota Yogyakarta).
2. Iduladha sebagai Momentum Kesalehan Sosial. Pesan kepedulian Ibadah kurban tidak hanya sebatas ritual penyembelihan hewan, melainkan instrumen pemerataan ekonomi, keadilan distributif, dan solidaritas kemanusiaan. (Formadiksi UM). Pembagian daging kurban meruntuhkan batasan status sosial, mengajarkan kesetaraan, dan menumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama. (najamacademy.com).
Praktik Toleransi diantaranya pelaksanaan perayaan Iduladha sering kali diwarnai dengan aksi saling menghargai antar umat beragama, seperti pelibatan masyarakat lintas iman dalam pengamanan dan kegiatan sosial. (Panti Yatim Indonesia).
Nurcholish Madjid pernah menyampaikan bahwa kemajemukan merupakan sunatullah yang harus diterima dengan sikap dewasa dan terbuka. Dalam bukunya Islam Doktrin dan Peradaban, Nurcholish menjelaskan bahwa Islam memiliki tradisi universal yang menghormati nilai kemanusiaan. Menurutnya, sikap eksklusif dalam beragama akan melahirkan ketegangan sosial yang bertentangan dengan tujuan agama sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Pandangan tersebut sejalan dengan hadis Nabi Muhammad saw. yang berbunyi: ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya’ (HR. Ahmad). Hadis ini memperlihatkan bahwa kualitas keberagamaan tidak hanya diukur melalui hubungan spiritual dengan Tuhan, melainkan juga melalui kontribusi sosial kepada sesama manusia. Dalam konteks Iduladha, ibadah kurban mengandung dimensi sosial yang kuat karena menghadirkan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.”
“Al-Qur’an juga menegaskan dalam QS. Al-Hajj:37:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧
Artinya:
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.
Ayat tersebut menempatkan ketakwaan sebagai inti ibadah kurban. Ketakwaan tidak hanya tercermin dalam ritual keagamaan, melainkan juga dalam sikap sosial yang adil, damai, dan menghormati orang lain.
Ketakwaan yang melahirkan kebencian dan permusuhan bertentangan dengan nilai luhur Islam.
Dalam kajian sosiologi agama, Emile Durkheim menjelaskan bahwa ritual keagamaan memiliki fungsi memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat. Teori tersebut relevan dengan Iduladha yang mempertemukan masyarakat dalam aktivitas kolektif berbasis kepedulian sosial. Pembagian daging kurban, gotong royong dalam pelaksanaan penyembelihan, serta keterlibatan masyarakat lintas latar belakang memperlihatkan bahwa agama dapat menjadi kekuatan integratif dalam kehidupan sosial.
Sementara itu, pemikir Islam Indonesia Azyumardi Azra menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan karakter utama Islam Indonesia. Dalam berbagai tulisannya, Azra menyebut bahwa tradisi Islam Nusantara tumbuh melalui pendekatan damai, akomodatif, dan menghargai budaya lokal. Karakter moderat tersebut menjadi modal penting dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah meningkatnya arus ekstremisme global.
Semangat moderasi dalam Iduladha juga dapat diwujudkan melalui penguatan empati sosial. Pengorbanan tidak hanya berbentuk materi, melainkan juga kesediaan menghargai hak orang lain untuk hidup aman dan bermartabat. Sikap menghina keyakinan lain, memaksakan pandangan agama, atau menyebarkan kebencian atas nama agama bertentangan dengan semangat kurban yang menekankan keikhlasan dan kemanusiaan.
Nabi Muhammad Saw memberikan teladan penting dalam membangun hubungan harmonis dengan masyarakat berbeda agama.
Piagam Madinah yang disusun Rasulullah menjadi bukti bahwa Islam menghormati keberagaman dan menjamin hak seluruh komunitas untuk hidup damai. Dalam konteks Indonesia, semangat tersebut relevan untuk memperkuat persaudaraan kebangsaan.
Moderasi beragama pada akhirnya tidak hanya menjadi konsep normatif, melainkan praktik sosial yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari hari. Iduladha memberikan ruang refleksi bahwa keberagamaan yang matang akan melahirkan sikap rendah hati, menghargai perbedaan, dan memperkuat solidaritas sosial. Pengorbanan terbesar dalam kehidupan berbangsa saat ini terletak pada kemampuan menahan ego ideologis demi menjaga persatuan nasional.
Kesimpulan
Iduladha mengandung pesan spiritual dan sosial yang sangat relevan bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Nilai pengorbanan dalam ibadah kurban mengajarkan pentingnya keikhlasan, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama manusia.
Dalam konteks kehidupan kebangsaan, semangat tersebut dapat menjadi fondasi memperkuat moderasi beragama serta menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman keyakinan.
Moderasi beragama merupakan jalan tengah yang menempatkan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap kemanusiaan sebagai prinsip utama kehidupan bersama. Nilai tersebut memiliki kesesuaian kuat dengan pesan Iduladha yang menolak egoisme dan mengedepankan kepentingan sosial yang lebih luas.
Penguatan moderasi beragama menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan intoleransi, polarisasi sosial, dan meningkatnya narasi kebencian di ruang publik.
Al-Qur’an dan hadis memberikan dasar moral yang kuat mengenai pentingnya menghargai keberagaman dan membangun hubungan sosial yang damai.
Pandangan para cendekiawan Muslim juga menunjukkan bahwa Islam memiliki tradisi moderat yang menempatkan kemanusiaan sebagai bagian penting dari ajaran agama. Dalam konteks tersebut, Iduladha dapat menjadi momentum memperkuat persaudaraan kebangsaan serta merawat kebinekaan Indonesia.
Masyarakat yang mampu memaknai Iduladha secara mendalam akan melihat kurban sebagai jalan membangun empati sosial dan memperkuat solidaritas antarmanusia. Spirit pengorbanan pada akhirnya tidak berhenti pada ritual keagamaan, melainkan hadir dalam kesediaan menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bersama.












