21 Juni 2024

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Transposisi Seni Jambi; Interupsi Manifestasi Tradisi

15 min read

Oleh: Ady Santoso (Dosen Program Studi Seni Drama Tari dan Musik Universitas Jambi)

It Needs All Things to Make A World. Kita harus menghidupkan kembali daya tarik itu, dan denyutnya harus didengar lagi. Ide-ide baru harus lebih dapat diterima, dan siap untuk dilepas ke masyarakat.”

-Roedjito-

 

Refleksi

Dalam kebudayaan, manusialah yang menghasilkan kebudayaan. Manusialah yang menciptakan, mengembangkan, memajukan, menghambat, bahkan melenyapkan kebudayaan itu sendiri. Namun sejatinya, manusia sendiri adalah bagian dari kebudayaan, manusia adalah pelaku kebudayaan, manusia adalah sentral dari kebudayaan. Lalu kenapa kebudayaan itu kemudian hadir, yang dimana manusialah yang menyebabkan kebudayaan hadir. Kebudayaan dihadirkan/diciptakan manusia untuk menjaga/menertibkan/memanusiakan nilai-nilai martabat guna menyempurnakan hubungan keinsanian dengan alam, manusia, dan Tuhan, yang merupakan kesatuan yang tak terpisahkan, dimana disinilah kemudian kebudayaan adalah penciptaan, penertiban dan pengolahan nilai-nilai insani.

Hal yang kemudian menarik dan perlu perhatian serta pelibatan dari seluruh manusia adalah usaha untuk pemajuan kebudayaan itu sendiri, yang dimana usaha menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, keselarasan dalam hubungannya dengan alam sekitar juga Tuhan YME, yang kemudian mampu menghadirkan kemantapan jiwa yang dinamis dan semangat gotong royong yang terus menerus berkembang, namun dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkuat, mengembangkan, memajukan, bahkan memperkaya kebudayaan itu sendiri. Inilah yang kemudian menjadikan kebudayaan bukan hanya sekedar slogan semata, namun juga terinternalisasi dalam penghayatan sekaligus pengamalan dari nilai-nilai yang luhur demi kemajuan kebudayaan itu sendiri.

Kemajuan kebudayaan Nasional Indonesia adalah hal penting, dimana untuk memajukan kebudayaan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, diperlukan langkah strategis berupa upaya pemajuan kebudayaan guna melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, serta membina dari keberagaman kebudayaan daerah yang merupakan kekayaan dan identitas bangsa agar mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan. Oleh karena itu ditetapkanlah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam UU tersebut, termuat perihal Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), dimana terdapat 10 OPK yang terdiri dari; (1) Tradisi Lisan; (2) Manuskrip,; (3) Adat Istiadat; (4) Ritus; (5) Pengetahuan Tradisional; (6) Teknologi Tradisional; (7) Seni; (8) Bahasa; (9) Permainan Rakyat; dan (10) Olahraga Tradisional.

Seni sebagai salah satu dari OPK, adalah hal yang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan, seni sendiri merupakan bagian dari unsur kebudayaan. Kesenian, keindahan, aestetika, merupakan wujud dari nilai kebudayaan yang lengkap. Dimana karya seni adalah hasil dari pengolahan akan akal dan rasa, pengalaman yang kemudian bertemu dengan perasaan, budi dan badan yang merupakan kedwisatuan manusia. Pengalaman secara memadai menjadi akal, serta kenyataan yang ditemukan oleh akal tersebut kemudian menjadi perasaan. Kepekaan inilah yang membawa seni dalam posisi kebudayaan sebagai dimensi yang tidak hanya sekedar bersifat rasional atau irasional. Itulah mengapa seni dalam posisi kebudayaan adalah hasil penciptaan dari budi dan rasa yang ditangkap oleh daya manusia, dengan membawa serta ekspansi rasa dan kesadaran diri sebagai bagian dalam keseluruhan kehidupan. Posisi seni dalam kebudayaan sejatinya bukan hanya perihal hasil karya yang diciptakan, namun juga berkaitan dengan apresiasi publik/penonton/pengunjung pada karya seni tersebut. Hal ini yang kemudian juga menjadi bagian dari satu kesatuan posisi seni dalam kebudayaan.

Posisi seni dalam kebudayaan kini, serta nilai-nilai budaya yang tertuang/tertuang/atau tersumberkan di dalam bentuk dari karya seni tersebut, yang juga kemudian pasti berkaitan dengan penonton/pengunjung dari produk seni yang disajikan, adalah menjadi satu kesatuan pertanyaan yang tidak dapat dipisahkan bila melihat kembali posisi seni kita bersama tentang bagaimana dengan kondisinya di tengah-tengah masyarakat itu sendiri. Dari sinilah kemudian saya ingin mengargumentasikan sekaligus memberikan pandangan serta dapat pula gagasan sebagai dasar bahan perbincangan tentang kondisi posisi seni di tengah-tengah masyarakat kini (baca: Jambi), dimana hal tersebut berkaitan dengan pokok tema Seminar Nasional Kebudayaan Jambi yang saya paparkan mengenai Kebiasaan Kebudayaan Masyarakat. Kebiasaan kebudayaan masyarakat yang kemudian saya lihat kembali melalui posisi seni sebagai parameter. Posisi seni yang kemudian menjadi bagian dari kebiasaan kebudayaan di tengah-tengah masyarakat.

Menghadirkan kebiasaan kebudayaan di tengah-tengah masyarakat memerlukan usaha yang menyeluruh untuk menghadirkannya. Sebagaimana mengutip pandangan dari Roejito, yang tertuang sebagai pembuka di makalah ini, It Needs All Things to Make A World, untuk mengubah dunia, memerlukan semua hal. Begitu pun dengan kebiasaan kebudayaan masyarakat yang saya fokuskan kepada posisi seni. Memerlukan semua hal yang cukup lengkap dan menyeluruh, bahkan dari berbagai pihak guna menghadirkan kebiasaan kebudayaan masyarakat dalam posisi seni. Terkait dengan usaha yang diperlukan tersebut, saya mencoba menungkannya ke dalam pokok-pokok pikiran/pandangan saya mengenai bagaimana menghadirkan kebiasaan kebudayaan masyarakat dalam posisi seni di tengah-tengah masyarakat kini yang saya tuangkan dalam makalah yang berjudul “Transposisi Seni Jambi; Interupsi Manifestasi Tradisi”.

Penyajian makalah ini merupakan bagian dari upaya bagaimana menghadirkan kebiasaan kebudayaan masyarakat dalam posisi seni di tengah-tengah masyarakat kini. Makalah yang berangkat dari hasil proses pembacaan/pengamatan serta penulisan beberapa artikel opini yang saya terbitkan terkait beberapa agenda seni yang berlangsung di Jambi. Transposisi seni yang kemudian saya baca sebagai upaya dari lintas segala kemungkinan akan perpindahan posisi seni dari yang semula, menuju kepada posisi seni baru, atau bahkan lintas posisi seni yang kemudian telah terjalin dan berlangsung, atau dapat pula posisi seni dari kebudayaan lama yang telah berlangsung dan terjalin semula, menjadi sangat mungkin untuk menghadirkan posisi seni dalam kebudayaan baru. Transposisi yang dimana dapat pula mempertanyakan kedudukan posisi seni yang telah kita sajikan di tengah-tengah masyarakat guna mengevaluasi, mengkritisi kembali, dan juga mungkin menyela/memotong akan posisi seni yang kini telah berlangsung dan menjadi bagian dari kebudayaan guna upaya dari bagian strategi pemajuan kebudayaan.

  1. Strategi Transposisi itu Desentralisasi Seni

Strategi transposisi memiliki arti penting dan menjadi pokok pikiran yang saya argumentasikan. Transposisi yang merupakan perpindahan posisi, dimana saya menyampaikan gagasan wacana ini mungkin bukanlah saya orang yang pertama kali mengemukakannya, yakni gagasan perihal dan praktik seni di Jambi yang melintas kerja, karya, dan khalayak penontonya. Dimana dalam transposisi ini menekankan proses penciptaan seni yang baru bersumberkan upaya penting dari pengetahuan, riset dan kesadaran dalam menghadirkan seni-seni yang terbarukan.

Transposisi ini seperti bagaimana bila sebuah pertunjukan Teater Dul Muluk misalnya, yang semula ditampilkan dengan para tokoh-tokoh yang diperankan oleh manusia, kini bertransposisi yang semula dari manusia yang memerankan, menjadi boneka, atau wayang kulit, atau wayang beber. Sehingga terjadilah transposisi yang berpindah dari wujud pertunjukan Teater Dul Muluk semula diperankan manusia, berganti posisi dengan boneka, atau wayang kulit, atau wayang beber. Salah satu kerja transposisi ini adalah hasil karya Rts Fitri Wulandari dan Janisha Dwi Putri, merupakan mahasiswa peminatan Teater Program Studi Seni Drama Tari dan Musik Universitas Jambi, yang menciptakan tugas akhir mahasiswa yang berjudul Teater Boneka Dulmulukan dengan Naskah Salah Sangko.

Gambar: Rts Fitri Wulandari (kiri) dan Janisha Dwi Putri (kanan) dengan karya Teater Boneka Dulmulukan

Sumber: https://www.unja.ac.id/teater-boneka-dulmulukan-sendratasik-fkip-unja/

 

Hasil kerja transposisi diatas, sejatinya dapat terlaksana di berbagai bidang seni lainnya, yang pada tahap kerja, dan hasil karya yang dihasilkannya, pasti akan berkaitan pula dengan khalayak penontonnya. Seperti pada transposisi Teater Dul Muluk menjadi Teater Boneka Dulmulukan, maka potensial khalayak penontonya pun bergeser, dimana Teater Boneka Dulmulukan akan lebih tepat bila dipentaskan kepada khalayak penonton dari kalangan anak-anak. Hasil kerja transposisi tersebut, secara tidak langsung juga akan membawa kepada transposisi ruang pentas pertunjukannya. Teater Boneka Dulmulukan dengan perangkat media pertunjukan utamanya berupa boneka, set pentas, serta musik pengiring, amatlah dapat berganti ruang dalam menyajikan pentas pertunjukan. Dimana hal tersebut telah membuat rangkaian proses hasil kerja, karya, dan khalayak dari transposisi ini kepada ruang-ruang pertunjukan baru.

Gagasan strategi transposisi ini juga mengarahkan untuk terciptanya/terwujudnya desentralisasi seni. Dimana kerja, karya, dan khalayak hasil dari transposisi ini akan mengarah kepada ruang-ruang baru, lokasi-lokasi baru berlangsungnya pertunjukan ataupun pameran. Dampak yang bersinggungan antara penerapan strategi transposisi ini dengan desentralisasi seni adalah penyegaran suasana yang sekaligus mendekatkan peristiwa seni kepada khalayak luas, dengan memungkinkan mengarah kepada khalayak baru yang bahkan belum pernah bersinggungan dengan peristiwa seni secara langsung.

Desentralisasi seni ini, tentunya akan memberikan dampak sehat, segar, dan menyuburkan tumbuh kembangnya seni di Jambi, dimana hal tersebut berkaitan dengan strategi dari pemajuan kebudayaan. Desentralisasi seni ini adalah dimana peristiwa seni yang selama ini berlangsung di Jambi, tidak melulu terlaksana/terpusat di ruang-ruang atau lokasi-lokasi yang sudah menjadi tempat biasanya terselenggara peristiwa seni. Dengan transposisi ini sangatlah amat memungkinkan merangkai kerja, karya dan khalayak yang baru di ruang-ruang dan lokasi-lokasi baru, yang kemudian inilah esensi dari desentralisasi seni di Jambi. Pameran karya seni dapat berlangsung di ruang public terbuka, pertunjukan seni dapat tersaji di tengah-tengah lapangan desa, jalan kampung, atau bahkan pelataran toko. Sebagaimana yang pernah terlaksana dari Pameran Foto yang diselenggarakan Komunitas Majang Puto bertempat di Halaman Museum Gentala Arasy. Dimana dengan menghadirkan pameran foto di ruang publik, membawa suasana segar dari berlangsungnya peristiwa seni di tengah-tengah masyarakat.

Gambar: Pengunjung Pameran Foto oleh Komunitas Majang Puto di Halaman Museum Gentala Arsy

Sumber: Dokumen Pribadi

 

  1. Manifestasi Jambi dengan Interaksi Interupsi

Provinsi Jambi memiliki kebudayaan Melayu Jambi yang beraneka ragam, yang meliputi mulai dari upacara kepercayaan tradisional, sistem kemasyarakatan/kepemimpinan, sistem gotong royong, adat perkawinan, tradisi lisan, bahasa, pakaian, corak arsitektur bangunan, peralatan dan pertukangan, permainan, seni, ragam makanan dan minuman, hukum adat, pengobatan dan berbagai kreasi lainnya. Manifestasi Jambi yang saya maksud disini adalah kekayaan dari keanekaragaman budaya yang begitu kaya, mulai dari ragam seninya, adat istiadat, tradisi agama, sejarah, tinggalan arkeologi, arsitektur, panorama alam, pertanian, pakaian tradisional, permainan tradisional, bahasa, folklor, kuliner tradisional, benda-benda keramat, kehidupan sosial, ragam ornament, seni kriya, seni pertunjukan, dan lain sebagainya, yang dapat dijadikan sumber penciptaan, pengembangan dan pemajuan kebudayaan Jambi. Keseluruhannya dan masih dapat bertambah lagi data-datanya, adalah nilai identitas yang harus dijaga, dilestarikan, bahkan ditumbuhkan kembangkan ke dalam ragam bentuk media guna pemajuan kebudayaan.

Sebutlah tentang bagaimana cerita rakyat Tapa Malenggang yang berkembang di Kabupaten Batanghari menjadi sumber penciptaan pertunjukan teater oleh Sanggar Sebiduk Sedayung SMP Negeri 3 Batanghari, atau tentang bagaimana Teater Tonggak yang membawakan lakon Lesung Luci, Karya/Sutradara Didin Siroz. Dimana dalam penciptaan pertunjukan teater tersebut berangkat dari alat tradisional pengolahan padi atau gabah menjadi beras, yaitu Lesung. Lesung yang dulunya menjadi alat tradisional mengubah padi menjadi beras, menjadi sumber penciptaan pertunjukan Teater Tonggak. Sementara luci, adalah sebagai alat atau tempat menaruh sesaji yang diadaptasi dari budaya masyarakat Kerinci.

Terciptanya dua pertunjukan teater yang saya paparkan, adalah hasil dari interaksi interupsi akan kekayaan manifestasi Jambi. Dimana hal tersebut telah dibuktikan oleh Teater Tonggak yang berangkat dalam proses penciptaan pertunjukan teater dari sebuah alat tradisional pengolahan padi, yaitu lesung, dan alat atau tempat untuk menaruh sesaji dalam kebudayaan masyarakat Kerinci, yaitu Luci. Interaksi interupsi ini penting bagi pemajuan kebudayaan, yang tentu menurut pandangan saya berkaitan dengan kebiasaaan kebudayaan masyarakat. Dimana dengan terjalinnya percakapan mengenai pertanyaan-pertanyaan akan dari hal apakah yang dapat kita jadikan landasan penciptaan seni yang bersumberkan dari manifestasi Jambi, tentu jawabannya adalah amatlah sangat banyak yang dapat dieksplorasi, dikaji, diselami, diadaptasi, direkonstruksi, bahkan di transposisi ke dalam bentuk kerja, karya seni lainnya. Namun dengan kata kuncinya adalah kemauan kita untuk melakukan interaksi interupsi pada kekayaan manifestasi Jambi.

Gambar: Pementasan Teater Tonggak lakon Lesung Luci, Karya/Sutradara Didin Siroz

Sumber: Dokumen Pribadi

 

  1. Inovasi Tradisi dalam Kenduri Swarnabhumi

Inovasi merupakan suatu berkat rahmat, adalah hasil dari pergulatan yang terus menerus, berkelanjutan, tekun, konsisten, dimulai dari ide gagasan atau produk/praktik yang di terima sebagai hal yang baru untuk kemudian diadopsi, diterapkan, bahkan disajikan di masyarakat. Dalam hal seni, inovasi adalah suatu keniscayaan, suatu hal yang tidak dapat terhindarkan, suatu hal yang bahkan ditunggu-tunggu akan adanya nilai inovasi di dalam seni. Hal ini kemudian menjadi suatu tantangan dalam penghadiran nilai inovasi pada suatu karya seni. Inovasi dalam seni beririsan dengan nilai kreatif, dimana kemampuan kreatif adalah kondisi yang mampu menggapai dengan derajat keprofesiannya baik sikap, tingkah laku, pengetahuan dan keahlian dalam melaksanakan tugas yang diembannya. Hal yang kemudian dapat ditarik keselarasannya dengan kegiatan seni, yang pasti berkaitan dengan pengkarya seni, adalah pengkarya seni bukan hanya memperhatikan karya yang tersajikan, namun juga sikap, tingkah laku, pengetahuan dan keahliannya dari sang pengkarya seni.

Keberadaan inovasi dalam penguatan nilai tradisi menjadi tantangan tersendiri. Dalam makalah yang saya sajikan ini, dapatlah saya utarakan bahwa saya menempatkan konsep strategi transposisi sebagai salah satu bentuk strategi pemajuan kebudayaan, sekaligus sebagai upaya dari mewujudkan inovasi seni bersumberkan dari tradisi. Bagi pengkarya seni, sejatinya selalu terdapat negosiasi/interaksi dari penghadiran inovasi dalam karyanya dengan bersumberkan tradisi. Karena pengkarya seni menurut pandangan saya adalah mereka-mereka yang memiliki kemampuan dalam memecahan permasalahan/persoalan melalui karya seninya. Namun yang kemudian menjadi kendala saya kira adalah kesempatan para pengkarya seni dalam menyajikan karya-karya inovatif mereka yang telah mereka bangun, rancang, geluti, tekuni secara terus menerus.

Melalui makalah ini juga, kiranya saya menyampaikan bahwa Provinsi Jambi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan Kenduri Swarnabhumi, dimana pada tahun 2023 ini adalah tahun ke-2 pelaksanaannya. Kegiatan yang merupakan inisiasi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dalam hal ini Direktorat Jenderal Kebudayaan, guna mengembalikan dan mewariskan kekayaan alam maupun budaya dari Sungai Batanghari. Dimana dala hal kegiatan kenduri tersebut merupakan gerakan kebudayaan untuk mengingatkan kembali ingatan masyarakat tentang pentingnya sungai dalam kehidupan sehingga harus meletakkan kebudayaan di hulu pembangunan, menggerakkan kesadaran harmoni sungai dan peradaban yang semakin penting untuk dirawat dengan kearifan berbasis budaya.

Mengutip penyataan Gubernur Jambi di laman berita JambiDaily.com “Kita perlu bersyukur dan berterima kasih atas kepercayaan ini. Event Kenduri Swarnabhumi memberikan manfaat besar bagi daerah yang kita cintai ini, baik dari sisi pelestarian lingkungan khususnya sungai dan daerah aliran Sungai Batanghari, menggali nilai budaya dan melestarikannya maupun manfaat terhadap wisata dan manfaat ekonomi,”. Namun menurut saya, peristiwa Kenduri Swarnabhumi ini, sejatinya mampu menjadi wahana inovasi tradisi, dengan memberikan kesempatan penuh kepada para pengkarya seni di Jambi untuk turut berkonstribusi dalam menggali nilai-nilai budaya dan melestarikannya sebagaimana dengan upaya terus menghadirkan keterbaruan seni dengan nilai inovasi yang bersumberkan nilai-nilai tradisi, dan pasti dalam upaya untuk terus meningkatkan dan memajukan kesenian di Jambi.

Gambar: Salah satu kegiatan dari Kenduri Swarnabhumi di Desa Senaung Kabupaten Muaro Jambi

Sumber: Dokumen Pribadi

 

  1. Kolaborasi Generasi dan Kontribusi Digitalisasi

Pokok pikiran terakhir yang saya sajikan dalam makalah ini adalah pentingnya kolaborasi dengan merangkul para generasi kini, generasi yang saya maksud mulai dari generasi millennial, generasi X, hingga generasi Y. Hal tersebut dilatari bahwa generasi-generasi tersebut adalah mereka yang tidak lagi buta dengan perangkat digital (digital native). Kehidupan sosial dan pekerjaan dipenuhi dengan perangkat digital yang memudahkan mereka untuk tergabung dan terkoneksi dengan titik-titik kehidupan sosial. Akibatnya, pemanfaatan teknologi dalam kesenian adalah suatu keniscayaan saat ini, terlebih bagi tumbuh kembangnya ekosistem kebudayaan, khususnya kesenian.

Kolaborasi yang dapat mendatangkan kontribusi dalam hal digitalisasi, baik itu berupa digitalisasi produksi karya, promosi karya, ulasan karya, bahkan sampai pendanaan guna membangun suatu peristiwa seni. Dari sinilah kemudian, argumentasi dalam hal menguatkan topik membangun kebiasaan kebudayaan masyarakat, yang saya fokuskan kepada kebudayaan dalam hal seni, maka adalah sebuah keniscayaan dalam membangun kebudayaan ekosistem seni tanpa berkolaborasi dengan generasi terkini, guna menguatkan, dan memajukan kebudayaan seni.

 

Konklusi

Diakhir penutup makalah yang saya sampaikan, kiranya menjadi perhatian, bahwa menghadirkan kebiasaan kebudayaan masyarakat yang turut memajukan kebudayaan dalam hal ini seni, diperlukan kesadaran bahwa apa yang seperti saya kutip dari Roedjito “Kita harus menghidupkan kembali daya tarik itu, dan denyutnya harus didengar lagi. Ide-ide baru harus lebih dapat diterima, dan siap untuk dilepas ke masyarakat”. Dimana menurut padangan saya, pengkarya seni memiliki posisi sentral dalam penghadiran kebiasaan kebudayaan masyarakat dalam posisi seni, selain tentunya keterlibatan dari stakeholder lain, mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Jambi, Institusi Pendidikan, hingga Masyarakat. Namun melihat perkembangan peristiwa seni yang kurang lebih sudah 1 tahun saya ikut, arah perkembangan pada pemajuan kebudayaan di Jambi, dalam hal ini seni, sangatlah menggembirakan bila sama-sama kita kaji dan amati dengan seksama, bahwa arah pemajuan kebudayaan itu memang nampak ada, terasa, dan mulai menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat kita. Sebagai penutup, saya kembali lagi kutip konsep kerja dari Roedjito:

Pentas terbatas oleh dimensi yang sempit saja. Ruangan ini mesti jadi wilayah tak bertuah di mana apa yang tidak mungkinbis terjadi. Dia seakan merupakan wadah, menampung ihwal keterlibatan rangkaian peristiwa. Dia wadah yang menampung imaginasi yang berhadapan dengan situasi yang dihentakkan oleh harapan kuat yang edan

Melalui sekelumit pokok pemikiran yang saya sajikan, dan tentunya masih banyak kekurangan. Kiranya bila tidak banyak memberikan sumbangsih gagasan pemajuan, setidaknya saya mengharapkan terjalinnya ruang perbincangan dari kita bersama-sama yang menginginkan kebiasaan kebudayaan masyarakat dalam memajukan posisi seni di Jambi. Perbincangan yang konstruktif tentang bagaimana kita kemudian bersama-sama merumuskan arah perkembangan pemajuan kebudayaan di Jambi agar sampai di tataran Nasional dan juga Internasional.

 

Catatan: Tulisan ini telah dipaparkan dalam Seminar Nasional Kebudayaan Jambi, 17 April 2023, dalam rangka menyambut Jambi Festari 2023

 

Referensi

Bakker, J.W.M. 1984. Filsafat Kebudayaan; Sebuah Pengantar. Jakarta: Penerbit Kanisius.

Dewi, Agustina Kusuma. Dkk. 2019. Transposisi Kreatif ‘Gerak’ Dalam Film Sebagai Identitas Kultural Pada Era Multiliterasi Digital; Stud Kasus Film ‘Setan Jawa’ Karya Garin Nugroho. Seminar Nasional: Seni, teknologi, dan Masyarakat #4 – Institut Seni Indonesia Surakarta.

Fachrunnisa, Olivia. 2016. Membangun Kolaborasi Digital; Strategi Peningkatan Daya Saing UKM. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Ageng.

K.M., Saini. 1996. Peristiwa Teater. Bandung: Penerbit ITB.

Malaon, Tuti Indra. Dkk. 1986. Menengok Tradisi; Sebuah Alternatif bagi Teater Modern. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Zainuddin, R. Dkk. 1979. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Siaran Pers Nomor: 400/sipers/A6/VII/2022. 2022. Kenduri Swarnabumi – Ekspedisi Sungai Batanghari: Menyusur Sungai, Merekat Ketersambungan Warisan Budaya Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan-Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Siaran Pers Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI tahun 2022

https://jamberita.com/read/2022/11/24/5976012/pergelaran-teater-tonggak-lesung-luci-jadi-penutup-tamu-di-jambi-/

https://jambidaily.com/2023/04/10/al-haris-harap-pelaksanaan-kenduri-swarnabhumi-tahun-2023-lebih-baik/

https://jambidaily.com/2022/11/28/ady-santoso-meter-interpretasi-temu-teater-jambi/

https://jambidaily.com/2022/11/22/per-temu-an-teater-jambi-pe-ramu-an-senter-apresiasi/

https://www.unja.ac.id/teater-boneka-dulmulukan-sendratasik-fkip-unja/

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 32 = 40