Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif
(Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi)
A. PENDIDIKAN BERBASIS ENTREPRENEURSHIP MENJADI UNGGULAN MASA DEPAN
Dunia pendidikan sedang memasuki babak baru peradaban manusia. Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat melalui artificial intelligence (AI), robotik, big data, internet of things, dan transformasi ekonomi digital global. Namun di tengah kemajuan teknologi tersebut, dunia modern justru menghadapi persoalan serius berupa krisis moral, kehilangan makna hidup, menurunnya karakter generasi muda, serta melemahnya hubungan sosial manusia.
Fenomena ini melahirkan kesadaran baru bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya menghasilkan manusia pintar secara akademik, tetapi juga harus melahirkan manusia yang matang secara moral, spiritual, emosional, kreatif, dan sosial. Karena itu dunia mulai bergerak dari paradigma Revolusi Industri 4.0 menuju Society 5.0 atau Industrial 5.0.
Berbeda dengan Revolusi Industri 4.0 yang berorientasi pada teknologi (technology centered), konsep Society 5.0 yang dikembangkan Japan justru menempatkan manusia sebagai pusat peradaban (human centered society).¹ Jepang menyadari bahwa kemajuan teknologi tanpa keseimbangan moral dan spiritualitas berpotensi melahirkan krisis kemanusiaan modern.
Melalui konsep Society 5.0, Jepang mengembangkan pendidikan yang menyeimbangkan:
teknologi dan kemanusiaan,
inovasi dan etika,
kecerdasan digital dan karakter, IPTEK dan IMTAK.
Konsep ini kemudian menjadi inspirasi dunia pendidikan global.
European Commission juga menegaskan bahwa Industrial 5.0 harus berbasis human-centric values, sustainability, dan resilience.² Artinya, pendidikan masa depan tidak hanya menghasilkan manusia kompetitif, tetapi juga manusia yang memiliki empati, tanggung jawab sosial, dan spiritualitas.
Dalam konteks inilah pendidikan berbasis entrepreneurship menjadi sangat relevan. Entrepreneurship bukan sekadar pendidikan bisnis atau perdagangan, tetapi pendidikan yang membentuk manusia kreatif, inovatif, mandiri, adaptif, berani mengambil risiko, dan mampu menciptakan solusi bagi kehidupan masyarakat.
Peter Drucker menjelaskan bahwa entrepreneurship merupakan kemampuan menciptakan nilai baru melalui inovasi dan keberanian menghadapi perubahan.³ Karena itu pendidikan entrepreneurship sesungguhnya merupakan pendidikan transformasi peradaban.
Negara-negara maju seperti Finland, Singapore, United States, Germany, hingga negara-negara Timur Tengah seperti United Arab Emirates, Saudi Arabia, dan Qatar mulai menjadikan entrepreneurship sebagai fondasi pendidikan masa depan.
Yuval Noah Harari menjelaskan bahwa tantangan terbesar manusia abad ke-21 bukan sekadar kompetisi teknologi, tetapi bagaimana manusia tetap memiliki makna hidup di tengah dominasi kecerdasan buatan.⁴ Karena itu pendidikan modern harus membangun manusia yang utuh secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.
Daniel Goleman melalui teori Emotional Intelligence menjelaskan bahwa keberhasilan manusia modern lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mengelola emosi, empati, integritas, dan hubungan sosial dibanding kemampuan akademik semata.⁵
Sementara Viktor Frankl menjelaskan bahwa manusia modern membutuhkan meaning of life agar mampu bertahan menghadapi tekanan zaman.⁶
Pendidikan entrepreneurship berbasis spiritualitas menjadi penting agar generasi muda tidak kehilangan orientasi moral di tengah arus materialisme global.
Karena itu pendidikan kelas dunia berbasis entrepreneurship masa depan harus dibangun di atas lima fondasi utama:
Kecerdasan intelektual
Kreativitas dan inovasi
Karakter dan moralitas
Spiritualitas dan makna hidup
Kompetensi global dan digital
Pendidikan masa depan bukan lagi tentang siapa paling banyak menghafal teori, tetapi siapa paling mampu menciptakan perubahan dan kebermanfaatan bagi dunia.
B. TEORI ENTREPRENEURSHIP DALAM PENDIDIKAN NEGARA MAJU
Secara teoretis, pendidikan entrepreneurship berkembang dari berbagai pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan pendidikan, ekonomi, psikologi, teknologi, dan pembangunan manusia.
Joseph Schumpeter menjelaskan bahwa entrepreneur merupakan agen perubahan yang menciptakan inovasi baru dalam masyarakat.⁷ Pendidikan entrepreneurship karena itu harus membangun budaya inovasi dan keberanian melakukan transformasi sosial-ekonomi.
Rita McGrath melalui Entrepreneurial Mindset Theory menjelaskan bahwa dunia modern membutuhkan manusia adaptif, visioner, fleksibel, dan mampu membaca peluang global.⁸
Gary Becker melalui Human Capital Theory menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan investasi terbesar kemajuan bangsa.⁹ Karena itu pendidikan entrepreneurship dipandang sebagai investasi strategis pembangunan nasional.
David Kolb melalui Experiential Learning Theory menjelaskan bahwa pembelajaran efektif terjadi melalui pengalaman langsung.¹⁰ Karena itu pendidikan entrepreneurship di negara maju banyak menggunakan:
project based learning,
startup simulation,
collaborative innovation,
dan praktik lapangan.
Ken Robinson menjelaskan bahwa sekolah masa depan harus membebaskan kreativitas manusia.¹¹ Pendidikan yang terlalu birokratis dan seragam justru membunuh inovasi peserta didik.
Sementara Danah Zohar dan Ian Marshall melalui teori Spiritual Intelligence menjelaskan bahwa manusia modern membutuhkan spiritual intelligence agar mampu menemukan makna hidup, nilai moral, dan kesadaran eksistensial.¹²
Karena itu pendidikan entrepreneurship abad 21 harus menjaga keseimbangan antara:
inovasi dan moralitas,
teknologi dan spiritualitas,
kompetensi global dan karakter kemanusiaan.
C. MODEL MANAJEMEN PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI NEGARA MAJU
1. Finland menerapkan fenomenon based learning, yaitu pembelajaran berbasis masalah nyata kehidupan. Sekolah mendorong siswa menciptakan proyek sosial, inovasi teknologi, dan kewirausahaan sejak dini.
2. Singapore mengintegrasikan coding, digital business, AI, dan startup innovation dalam kurikulum pendidikan nasional. Universitas seperti National University of Singapore memiliki inkubator bisnis mahasiswa yang terhubung langsung dengan industri global.
3. United States mengembangkan university startup ecosystem melalui kampus seperti Stanford University dan Massachusetts Institute of Technology yang menjadi pusat startup innovation dunia.
4. Germany menerapkan dual system education yang mengintegrasikan pembelajaran teori dan praktik industri sehingga lulusan memiliki kompetensi profesional dan entrepreneurial skills secara bersamaan.
MODEL TIMUR TENGAH: ENTREPRENEURSHIP DAN SPIRITUALITAS
1. United Arab Emirates
Melalui program UAE Centennial 2071, UAE mengintegrasikan entrepreneurship education dalam seluruh jenjang pendidikan nasional.¹³
Pada tingkat SMP dan SMA, siswa belajar:
digital entrepreneurship, coding, AI,
startup simulation,
financial literacy.
Perguruan tinggi seperti United Arab Emirates University memiliki innovation incubator dan startup accelerator mahasiswa.
Menariknya, entrepreneurship di UAE dipadukan dengan:
etika bisnis Islam,
amanah,
tanggung jawab sosial,
dan pembangunan manusia berbasis spiritualitas.
2. Saudi Arabia
Melalui Saudi Vision 2030, Saudi Arabia melakukan reformasi pendidikan berbasis entrepreneurship dan innovation economy.¹⁴
Sekolah mulai menerapkan:
leadership entrepreneurship,
digital innovation,
project business,
startup education.
Universitas seperti King Saud University membangun pusat startup innovation dan entrepreneurial incubation.
Pendidikan entrepreneurship di Saudi tetap dipadukan dengan:
akhlak Islam,
etika bisnis syariah,
spiritual leadership,
dan tanggung jawab moral.
3. Qatar
Qatar mengembangkan pendidikan entrepreneurship berbasis knowledge economy.¹⁵
Qatar University dan Education City menjadi pusat entrepreneurship education berbasis riset dan teknologi.
Model Qatar menarik karena tetap menjaga:
identitas budaya Islam,
spiritualitas,
kreativitas inovatif,
dan pembangunan karakter manusia.
Negara-negara Timur Tengah menunjukkan bahwa entrepreneurship modern dapat berjalan berdampingan dengan moralitas, spiritualitas, dan nilai agama.
D. KOMPETENSI PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP ABAD 21
Pendidikan entrepreneurship abad 21 tidak lagi hanya berorientasi pada kompetensi kerja, tetapi pembentukan manusia seutuhnya (holistic human development).
Menurut World Economic Forum (2025), kompetensi utama dunia kerja masa depan meliputi:
critical thinking,
creativity, leadership,
adaptability, collaboration,
dan digital literacy.¹⁶
Namun dalam paradigma Society 5.0 Jepang, kompetensi tersebut harus diseimbangkan dengan spiritualitas dan karakter manusia.
Karena itu kompetensi entrepreneurship abad 21 meliputi:
Critical Thinking,
Creativity and Innovation,
Communication and Collaboration,
Digital Literacy,
Leadership and Responsibility,
Financial Literacy,
Adaptability and Resilience,
Spiritual Intelligence dan Character Building.
Danah Zohar menjelaskan bahwa spiritual intelligence membantu manusia menemukan makna hidup dan kesadaran moral.¹⁷
Thomas Lickona menjelaskan bahwa pendidikan karakter harus membentuk:
moral knowing,
moral feeling,
dan moral action.¹⁸
Karena itu pendidikan entrepreneurship masa depan harus melahirkan manusia yang:
unggul dalam IPTEK,
kuat dalam IMTAK,
maju secara intelektual,
matang secara moral,
dan damai secara spiritual.
Inilah konsep manusia paripurna dalam pendidikan masa depan.
E. JENJANG PENDIDIKAN: MODELING PENETAPAN PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP
Pada tingkat SMP,entrepreneurship difokuskan pada pembentukan mindset kreatif, keberanian mencoba, dan pendidikan karakter.
Menurut OECD (2024), entrepreneurship education usia remaja efektif membangun self-confidence, collaborative mindset, dan problem solving skill.¹⁹
Model implementasi:
project based learning,
mini business project,
pendidikan karakter,
social entrepreneurship,
literasi finansial dasar.
Pada tingkat SMA, pendidikan entrepreneurship diarahkan pada:
startup student project,
AI and entrepreneurship,
digital business,
leadership training,
business simulation.
UNESCO menjelaskan bahwa pendidikan menengah harus mempersiapkan generasi muda menghadapi transformasi ekonomi global dan digital society.²⁰
Sementara pada level perguruan tinggi, entrepreneurship menjadi innovation ecosystem berbasis riset dan teknologi.
Menurut World Economic Forum (2025), universitas masa depan harus menjadi pusat startup innovation dan human development secara bersamaan.²¹
Karena itu perguruan tinggi harus membangun:
inkubator bisnis,
AI innovation laboratory,
startup incubation center, social entrepreneurship center, dan penguatan spiritualitas akademik.
Sebab kemajuan teknologi tanpa moralitas berpotensi melahirkan krisis kemanusiaan baru.
F. PENUTUP
Pendidikan kelas dunia berbasis entrepreneurship merupakan alternatif pendidikan masa depan yang paling relevan menghadapi transformasi global abad 21.
Dunia modern membutuhkan manusia yang bukan hanya cerdas akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, adaptif, bermoral, dan memiliki spiritualitas kuat.
Negara-negara maju dan Timur Tengah telah membuktikan bahwa pendidikan entrepreneurship mampu menciptakan kemajuan ekonomi sekaligus pembangunan manusia yang lebih berkeadaban.
Indonesia perlu melakukan transformasi pendidikan secara serius melalui integrasi:
akademik,
vokasi,
teknologi,
entrepreneurship,
karakter,
dan spiritualitas.
Pendidikan masa depan bukan lagi tentang siapa paling banyak menghafal teori, tetapi siapa paling mampu menciptakan makna, inovasi, dan kebermanfaatan bagi dunia.
++++++++
REFERENSI DAN FOOTNOTE
1. Cabinet Office of Japan, Society 5.0: The Human-Centered Future Society (Tokyo: Government of Japan, 2021).
2. European Commission, Industry 5.0: Towards a Sustainable, Human-Centric and Resilient European Industry (Brussels: European Union Publications, 2023).
3. Peter F. Drucker, Innovation and Entrepreneurship (New York: Harper Business, 2021 edition).
4. Yuval Noah Harari, 21 Lessons for the 21st Century (London: Vintage Books, 2023 edition).
5. Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ (New York: Bantam Books, 2022 edition).
6. Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 2023 edition).
7. Joseph A. Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy (London: Routledge, 2023 edition).
8. Rita McGrath, Seeing Around Corners: How to Spot Inflection Points in Business Before They Happen (Boston: Houghton Mifflin Harcourt, 2022 edition).
9. Gary S. Becker, Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis, with Special Reference to Education (Chicago: University of Chicago Press, 2022 edition).
10. David A. Kolb, Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development (New Jersey: Pearson Education, 2023 edition).
11. Sir Ken Robinson, Creative Schools: The Grassroots Revolution That’s Transforming Education (New York: Penguin Books, 2022 edition).
12. Danah Zohar and Ian Marshall, SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence (London: Bloomsbury Publishing, 2022 edition).
13. UAE Government, UAE Centennial 2071 Strategy Report (Abu Dhabi: UAE Government Media Office, 2024).
14. Kingdom of Saudi Arabia, Saudi Vision 2030 Education Transformation Program (Riyadh: Ministry of Education Saudi Arabia, 2025).
15. Qatar Foundation, Knowledge Economy and Entrepreneurship Education in Qatar (Doha: Qatar Foundation Publishing, 2024).
16..World Economic Forum, The Future of Jobs Report 2025 (Geneva: World Economic Forum Publishing, 2025).
17. Danah Zohar and Ian Marshall, SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence (London: Bloomsbury Publishing, 2022 edition).
18. Thomas Lickona, Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (New York: Bantam Books, 2022 edition).
19. OECD Journal of Education Policy, “Entrepreneurship Education for Adolescents in the Digital Era,” Vol. 19 No. 1 (2024).
20. UNESCO, Reimagining Our Futures Together: Education for a New Social Contract (Paris: UNESCO Publishing, 2023 edition).
21. World Economic Forum, Education 5.0 and Human Capital Development Report (Geneva: World Economic Forum Publishing, 2025).












