Penulis: Dr. Irmanelly, S.E., M.E.
(Akademisi, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik dan system Informasi Universitas Muhammadiyah Jambi-UM Jambi)
a. Pertumbuhan yang Terjaga
Dalam kurun lima tahun terakhir, perekonomian Provinsi Jambi memperlihatkan konsistensi yang patut dicatat. Laju pertumbuhan ekonomi yang semula berada pada angka 3,69 persen pada 2021 meningkat menjadi 5,13 persen pada 2022. Tahun 2023 mencatat pertumbuhan sebesar 4,66 persen dan pada 2024 sebesar 4,51 persen. Nilai Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku juga terus mengalami kenaikan dari Rp276,32 triliun pada 2022 menjadi Rp293,73 triliun pada 2023 dan Rp322,98 triliun pada 2024. PDRB per kapita turut menunjukkan tren positif dari Rp76,1 juta pada 2022 menjadi Rp79,8 juta pada 2023 dan Rp86,7 juta pada 2024.
Memasuki tahun 2025, perekonomian Jambi tumbuh sebesar 4,93 persen dengan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp349,66 triliun dan PDRB per kapita Rp92,79 juta. Pada triwulan pertama tahun 2026, pertumbuhan tercatat sebesar 4,33 persen (y-on-y) dengan PDRB mencapai Rp88,80 triliun. Data ini menegaskan bahwa fondasi ekonomi Jambi tetap terjaga dengan baik dan menunjukkan arah perkembangan yang sehat.
Struktur ekonomi Provinsi Jambi masih ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang lebih dari 32 persen terhadap PDRB. Kontribusi besar sektor primer ini terutama berasal dari subsektor perkebunan kelapa sawit dan karet serta subsektor perikanan dan kehutanan. Dominasi sektor tersebut memperlihatkan bahwa kesejahteraan masyarakat pedesaan menjadi faktor penentu kualitas pembangunan ekonomi daerah. Dengan kontribusi yang konsisten di atas 30 persen hingga menyentuh kisaran 34 persen, sektor primer tetap menjadi roda penggerak utama perekonomian Jambi.
Kondisi ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Jambi tidak hanya tercermin dari angka makro semata, tetapi juga dari peran masyarakat pedesaan sebagai pelaku utama. Petani, pekebun, dan nelayan menjadi tulang punggung yang menjaga keberlanjutan pertumbuhan. Dengan tren PDRB per kapita yang terus meningkat, terlihat adanya peluang untuk memperkuat inklusivitas pertumbuhan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
b. Makna Inklusivitas dalam Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi tidak dapat hanya dinilai dari besarnya angka Produk Domestik Regional Bruto. Ukuran keberhasilan pembangunan terletak pada sejauh mana manfaat pertumbuhan tersebut menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Inklusivitas menekankan pemerataan kesempatan kerja, pengurangan kemiskinan, serta peningkatan kualitas hidup sebagai indikator utama. Dengan demikian, kualitas pertumbuhan menjadi sama pentingnya dengan kuantitas pertumbuhan.
Dalam konteks Provinsi Jambi, capaian pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4,93 persen dengan PDRB sebesar Rp349,66 triliun dan PDRB per kapita Rp92,79 juta perlu dibaca bersama indikator sosial. Ketika pendapatan daerah meningkat tetapi kelompok rentan masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan produktif, maka manfaat pertumbuhan belum sepenuhnya menyebar. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penggerak utama, namun dorongan pertumbuhan juga datang dari sektor transportasi, pergudangan, pertanian, dan pertambangan.
Sektor pertanian dan perkebunan menyerap sekitar 43,36 persen tenaga kerja, tetapi sebagian besar pekerja masih berada di ranah informal. Produktivitas yang fluktuatif membuat mereka rentan terhadap perubahan harga komoditas. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja sebesar 68,37 persen juga diwarnai oleh tingginya pekerja paruh waktu mencapai 27,04 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya kelompok setengah penganggur yang belum memperoleh akses penuh ke pekerjaan produktif.
Korelasi antara Indeks Pembangunan Manusia dan pengurangan kemiskinan memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya bertumpu pada PDRB. Peningkatan IPM melalui akses pendidikan, fasilitas kesehatan, dan jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan menjadi variabel penentu utama. Tanpa perbaikan kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi akan sulit menjangkau seluruh masyarakat secara merata.
Pemerintah daerah mulai menjadikan pembangunan inklusif sebagai prioritas utama dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Langkah ini bertujuan memastikan bahwa pengurangan ketimpangan menjadi sama pentingnya dengan peningkatan produksi dan pendapatan daerah. Dengan orientasi tersebut, pertumbuhan ekonomi Jambi diharapkan tidak hanya menghasilkan angka makro yang positif, tetapi juga memperkuat fondasi kesejahteraan sosial yang lebih adil.
c. Tantangan Pemerataan
Salah satu tantangan mendasar bagi perekonomian Jambi adalah ketergantungan yang tinggi terhadap sektor primer. Komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan hasil pertanian lain memang menjadi penggerak utama, tetapi fluktuasi harga global sering kali memengaruhi pendapatan rumah tangga dan kemampuan konsumsi masyarakat. Ketergantungan ini menciptakan kerentanan struktural karena pergerakan ekonomi daerah sangat dipengaruhi oleh pasar internasional. Ekspor komoditas mentah seperti Crude Palm Oil dan getah karet memberikan kontribusi besar, sehingga setiap perubahan harga dunia langsung berdampak pada daya beli masyarakat lokal.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 34,93 persen dari total PDRB. Angka ini menunjukkan dominasi sektor primer yang masih kuat. Ketika harga komoditas naik, ekonomi daerah terdorong, tetapi ketika harga turun, pendapatan petani tertekan dan kesejahteraan masyarakat ikut menurun. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah daerah terus mendorong hilirisasi agar komoditas memiliki nilai tambah serta diversifikasi ekonomi agar tidak terlalu sensitif terhadap guncangan pasar global.
Di sisi lain, muncul peluang baru dari sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang mencatat pertumbuhan tertinggi pada 2024 sebesar 13,26 persen. Pada tahun 2025 pertumbuhan sektor ini mencapai 6,26 persen dan pada triwulan pertama 2026 meningkat hingga 7,62 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh diversifikasi layanan, digitalisasi, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan preventif dan kuratif. Transformasi digital di industri farmasi, layanan medis jarak jauh, serta inovasi kecerdasan buatan di bidang kesehatan memperkuat proyeksi pertumbuhan dengan Compound Annual Growth Rate sebesar 7,48 persen. Sektor jasa kesehatan dengan demikian menjadi motor penggerak ekonomi baru yang berpotensi memperluas manfaat pertumbuhan.
Selain itu, penguatan usaha mikro, ekonomi kreatif, dan industri pengolahan menjadi agenda penting untuk memperluas basis ekonomi. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa investasi yang masuk mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas. Pertumbuhan yang didorong oleh investasi akan lebih inklusif apabila menghasilkan peningkatan produktivitas tenaga kerja lokal dan memperkuat keterhubungan antara usaha besar dengan usaha mikro dan kecil. Dengan strategi ini, pemerataan manfaat pertumbuhan dapat lebih terjamin.
d. Arah Kebijakan ke Depan
Pertumbuhan ekonomi Jambi dalam lima tahun terakhir menunjukkan capaian yang solid dengan laju mencapai 4,93 persen. Namun agenda pembangunan ke depan menuntut perhatian lebih besar terhadap aspek inklusivitas. Pengurangan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan usaha mikro, serta pemerataan pembangunan antarwilayah harus menjadi prioritas utama agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan secara merata.
Tingkat kemiskinan berhasil menurun hingga 6,89 persen atau sekitar 261,25 ribu jiwa. Meskipun demikian, fluktuasi musiman dan disparitas antarwilayah masih memerlukan intervensi kebijakan yang presisi. Kualitas sumber daya manusia terus mencatatkan perbaikan melalui peningkatan Indeks Pembangunan Manusia dan Indeks Pembangunan Pemuda, tetapi akses pendidikan lanjutan tetap menjadi agenda penting. Peningkatan kualitas SDM akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Penguatan usaha mikro menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Penyaluran pembiayaan usaha ultra mikro tumbuh signifikan melalui kredit berbunga rendah dan pembinaan ekonomi kreatif. Sektor ini tidak hanya memperluas kesempatan kerja, tetapi juga memperkuat daya saing lokal. Pemerataan antarwilayah juga perlu diperhatikan karena struktur ekonomi masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi sekitar 34,93 persen. Ketimpangan antardaerah dapat dikurangi melalui pengembangan infrastruktur pendukung transformasi ekonomi dan pemerataan sentra logistik.
Jambi memiliki modal ekonomi yang kuat melalui sumber daya alam, posisi strategis di Sumatera, serta potensi investasi yang terus berkembang. Dengan kebijakan yang berorientasi pada pemerataan manfaat pembangunan, pertumbuhan ekonomi dapat menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan yang lebih luas. Keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak hanya tercermin dari tingginya angka pertumbuhan, melainkan juga dari semakin banyaknya kelompok masyarakat yang menikmati hasil pertumbuhan tersebut.














