Oleh: Prof. Mukhtar Latif
(Ketua ICMI Orwil Jambi – Ketua MUI Bidang PKU)
A. Pendahuluan:
Mengapa Kita Harus Saling Mengingatkan
Manusia adalah makhluk yang hidup dalam dinamika jiwa yang kompleks dan tidak stabil.
Suasana hati sering bergelombang, kadang tenang, kadang gelisah, sementara pikiran bergemuruh oleh berbagai pengaruh, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan sosial.
Dalam era modern, kondisi ini semakin intens akibat derasnya arus informasi, tekanan sosial, dan distraksi digital yang terus-menerus.
Akibatnya, manusia sering kehilangan arah dan mengalami disorientasi moral.
Dalam kajian kontemporer, fenomena ini dapat dipahami sebagai krisis regulasi diri dan makna hidup (Peterson, 2022). Sementara itu, dalam perspektif etika Islam, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya sistem pengingat eksternal berupa saling menasihati sebagai mekanisme menjaga keseimbangan spiritual dan moral (Kamali, 2020).
Dengan demikian, manusia tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran pribadi, tetapi membutuhkan komunitas yang saling mengingatkan.
Al-Qur’an menegaskan:
“Wa dzakkir fa inna dzikrā tanfa‘ul mu’minīn”.
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. (QS. Adz-Dzariyat ayat 55).
Rasulullah SAW. bersabda:
“Innamal mu’minūna kal-jasadil wāḥid”.
Sesungguhnya orang-orang beriman itu seperti satu tubuh. (HR. Muslim).
Ayat dan hadis ini menunjukkan bahwa saling mengingatkan adalah kebutuhan eksistensial manusia dalam menjaga keseimbangan hidupnya.
B. Saling Mengingatkan dalam Islam
Dalam Islam, saling mengingatkan merupakan bagian dari prinsip amar ma’ruf nahi munkar, yang memiliki dimensi hukum yang kuat. Aktivitas ini dapat bernilai sunnah, namun dalam kondisi tertentu menjadi wajib, baik secara kolektif (fardhu kifayah) maupun individual (fardhu ‘ain).
Kamali (2020) menjelaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar merupakan instrumen utama dalam menjaga keseimbangan sosial dan moral umat Islam.
Tanpa mekanisme ini, masyarakat akan kehilangan kontrol etika dan cenderung mengalami degradasi nilai. Senada dengan itu, Cook (2020) menegaskan bahwa tradisi ini merupakan fondasi historis dalam peradaban Islam.
Allah SWT berfirman:
“Wal takun minkum ummatun yad‘ūna ilal khair”.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan. (QS. Ali Imran ayat 104).
Rasulullah SAW bersabda:
“Man ra’ā minkum munkaran falyughayyirhu biyadih”
Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa tanggung jawab moral tidak boleh diabaikan.
Setiap individu memiliki peran dalam menjaga kebaikan sesuai kapasitasnya.
C. Dimensi Etika dalam Saling Mengingatkan
Saling mengingatkan tidak hanya soal kewajiban, tetapi juga menyangkut etika. Banyak nasihat gagal bukan karena isinya salah, tetapi karena disampaikan dengan cara yang tidak tepat.
Oleh karena itu, pendekatan yang bijak dan penuh empati menjadi sangat penting.
Dalam kajian psikologi modern, Brown (2021) menekankan bahwa hubungan manusia yang sehat dibangun melalui empati dan keterhubungan emosional.
Pendekatan yang keras justru memicu resistensi. Dalam perspektif Islam, hal ini sejalan dengan konsep hikmah dalam dakwah.
Allah SWT berfirman:
“Ud‘u ilāa sabili rabbika bil-ḥikmah”.
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah. (QS. An-Nahl ayat 125).
Rasulullah SAW bersabda:
“Ad-dinu an-nasiḥah”.
Agama adalah nasihat.(HR. Muslim)
Hikmah dalam konteks ini mencakup ketepatan waktu, kelembutan bahasa, serta keikhlasan niat. Dengan demikian, etika menjadi faktor utama keberhasilan dalam menyampaikan kebenaran.
D. Sejarah Orang yang Tuli, Buta, dari Peringan Kebenaran
Al-Qur’an menggambarkan adanya kelompok manusia yang menolak kebenaran meskipun telah diberikan peringatan.
Mereka disebut sebagai “tuli, bisu, dan buta”, yang menunjukkan kondisi hati yang tertutup.
Allah SWT berfirman:
“Summun bukmun ‘umyun fahum la yarji‘un”.
“Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak kembali. (QS. Al-Baqarah ayat 18)
Dalam kajian etika Islam kontemporer, Hallaq (2021) menjelaskan bahwa krisis moral modern sering kali disebabkan oleh dominasi ego dan hilangnya kesadaran spiritual.
Dalam sejarah, kaum Nabi Nuh menolak kebenaran bukan karena tidak mengetahui, tetapi karena kesombongan.
Rasulullah SAW bersabda:
“La yadkhulul jannata man kana fi qalbihi kibr”.
“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan.” (HR. Muslim).
Hal ini menunjukkan bahwa penghalang utama menerima kebenaran adalah penyakit hati, bukan kurangnya informasi.
E. Pesan Kebenaran Datang dari Segala Sumber
Islam mengajarkan keterbukaan terhadap kebenaran. Seorang mukmin dituntut untuk mampu memilah dan menerima kebenaran dari berbagai sumber, selama sesuai dengan nilai syariat.
Taha (2022) menekankan bahwa etika Islam bersifat inklusif dan terbuka terhadap berbagai bentuk kebenaran yang membawa kebaikan. Sementara itu, Sinek (2021) dalam kajian kepemimpinan modern menegaskan pentingnya keterbukaan terhadap berbagai perspektif dalam proses pembelajaran.
Allah SWT berfirman:
“Fa basysyir ‘ibadi alladzina yastami‘unal qaula fayattabi‘una ahsanah”.
Maka berilah kabar gembira kepada orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik. (QS. Az-Zumar ayat 17–18)
Rasulullah SAW bersabda:
“Al-ḥikmatu ḍāllatul mu’min”.
Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman. (HR. Tirmidzi)
Dengan demikian, saling mengingatkan tidak terbatas pada satu arah, tetapi menjadi proses dinamis dalam kehidupan sosial.
F. Akhlak Saling Mengingatkan: Perspektif Islam
1. Pandangan Theologis
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang secara fitrah memiliki sifat lupa (al-insan mahallul khata’ wan nisyar). Oleh karena itu, budaya saling mengingatkan (taushiyah) bukan sekadar interaksi sosial, melainkan pilar keselamatan iman. Tanpa adanya kesadaran untuk saling menjaga melalui nasihat, sebuah peradaban cenderung akan mengalami degradasi moral dan spiritual. QS. An-Nahl ayat 125.
Memberi panduan utama tentang metode (manhaj) dalam menyampaikan pengingat atau dakwah, yakni dengan hikmah dan tutur kata yang baik.
“Ud’u ilā sabli rabbika bil-ḥikmati wal-mau’iẓatil-ḥasanati wa jadil-hum billati hiya ahsan”.
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
QS.Ali ‘Imran 104.
Menegaskan bahwa harus ada segolongan orang yang secara konsisten bergerak dalam misi saling mengingatkan.
“Waltakun minkum ummatuy yad’una ilal-khairi wa ya’muruna bil-ma’rufi wa yanhauna ‘anil-munkar.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar”.
Rasulullah mengingatkan dalam HR. Muslim (No. 2674)
Mengenai keutamaan orang yang memberikan pengingat atau petunjuk kepada orang lain.
Man dalla ‘ala khairin falahu miṡlu ajri fa’ilihi.
Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”.
HR. Al-Bukhari & Muslim
Menekankan pentingnya memudahkan dan tidak mempersulit saat mengingatkan sesama.
“Yassirū wa la tu’assiru, wa basyiru wa la tunaffiru”.
Mudahkanlah dan janganlah mempersulit, berilah kabar gembira dan janganlah membuat mereka menjauh”.
2. Etika Mengingatkan dalam Islam
Secara ringkas, ayat dan hadis di atas merangkum tiga pilar utama dalam saling mengingatkan:
a. Bil-Hikmah: Menggunakan pendekatan yang bijak dan sesuai dengan kondisi orang yang diingatkan.
b. Layin (Lemah Lembut): Menghindari kekerasan lisan yang dapat melukai harga diri.
c. Sattar (Menutup Aib): Mengingatkan secara personal (empat mata) lebih utama daripada menegur di depan orang banyak.
G. Penutup
Saling mengingatkan adalah kebutuhan mendasar manusia dalam menjaga keseimbangan jiwa dan moral. Dalam kehidupan yang penuh gejolak, nasihat menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju kebenaran.
Dalam Islam, aktivitas ini memiliki dimensi hukum, etika, dan spiritual yang kuat. Ia dapat menjadi sunnah hingga wajib, tergantung pada kondisi.
Namun keberhasilannya sangat ditentukan oleh cara penyampaian yang penuh hikmah dan keikhlasan.
Sejarah menunjukkan bahwa kehancuran bukan karena kurangnya nasihat, tetapi karena penolakan terhadap kebenaran. Oleh karena itu, setiap individu harus membangun sikap terbuka, rendah hati, dan siap menerima kebenaran dari mana pun datangnya.
Dengan menghidupkan budaya saling mengingatkan, masyarakat akan menjadi lebih kuat, harmonis, dan berakhlak mulia.
++++++++
Referensi:
1. Brown, B. (2021). Atlas of the Heart. New York: Random House.
2. Clear, J. (2022). Atomic Habits. New York: Avery.
3. Cook, M. (2020). Commanding Right and Forbidding Wrong in Islamic Thought. Cambridge: Cambridge University Press.
4. Hallaq, W. B. (2021). Reforming Modernity. New York: Columbia University Press.
5. Holiday, R. (2023). Discipline is Destiny. New York: Portfolio.
6. Kamali, M. H. (2020). The Middle Path of Moderation in Islam. Oxford: Oxford University Press.
7. Peterson, J. B. (2022). Beyond Order. Toronto: Penguin Random House.
8. Sinek, S. (2021). The Infinite Game. New York: Portfolio.
9. Taha, A. (2021). Su’al al-Akhlaq. Casablanca: Al-Markaz al-Thaqafi al-‘Arabi.
10.Taha, A. (2022). Ruh al-Din. Casablanca: Al-Markaz al-Thaqafi al-‘Arabi













