banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIK

MENCINTAI DAN MEMBENCI: PERSPEKTIF PSIKOLOGIS DAN TEOLOGIS

×

MENCINTAI DAN MEMBENCI: PERSPEKTIF PSIKOLOGIS DAN TEOLOGIS

Sebarkan artikel ini

Oleh. Prof. Mukhtar Latif
(Guru besar UIN STS Jambi)

A. Rasionalitas Cinta dan Benci

Dalam tradisi pemikiran Prancis, konsep amour d’amour menggambarkan cinta yang tidak hanya dialami, tetapi juga direfleksikan secara sadar. Dalam kerangka eksistensialisme, cinta menjadi sarana manusia memahami dirinya dan relasinya dengan dunia.

Dalam kehidupan manusia, cinta dan benci merupakan dua emosi mendasar yang membentuk perilaku, relasi, dan identitas.

Psikologi modern memandang keduanya sebagai hasil interaksi antara pengalaman, kognisi, dan regulasi emosi (Gross, 2022).

Sementara itu, dalam teologi Islam, cinta (mahabbah) dan benci (bughd) diarahkan oleh nilai wahyu agar tidak menyimpang dari kebenaran.
Al-Qur’an mengingatkan:

Wa ‘asa an takrahu syai’an wa huwa khairul lakum
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah ayat 216).

Ayat ini menegaskan bahwa emosi manusia tidak selalu selaras dengan kebenaran objektif. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan dalam mencintai dan membenci.

B. Konsep Mencintai dan Membenci

Sternberg (2022) menjelaskan bahwa cinta terdiri dari tiga komponen: keintiman, gairah, dan komitmen. Sementara teori keterikatan menunjukkan bahwa pola cinta dipengaruhi pengalaman masa kecil (Mikulincer & Shaver, 2021).
Kebencian, menurut Beck (2020), sering muncul dari distorsi kognitif seperti generalisasi berlebihan dan prasangka.

Emosi ini dapat berkembang menjadi agresi jika tidak dikendalikan.
Dalam Islam, cinta diarahkan kepada Allah dan nilai kebaikan, sedangkan kebencian diarahkan kepada perbuatan buruk, bukan kepada manusia secara mutlak.

Hal ini menunjukkan bahwa emosi harus berada dalam kerangka etika.

C. Larangan Berlebihan dalam Mencintai dan Membenci,
Al-Qur’an menegaskan:

Wa la yajrimannakum syana’anu qaumin ‘ala alla ta‘dilu
“Janganlah kebencian terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS. Al-Ma’idah ayat 8).

Rasulullah bersabda:
“Cintailah orang yang kamu cintai sekedarnya saja, karena bisa jadi suatu saat ia menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja, karena bisa jadi suatu saat ia menjadi orang yang kamu cintai.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan oleh sebagian ulama).

Secara psikologis, hal ini selaras dengan konsep emotion regulation (Gross, 2022), yaitu kemampuan mengelola emosi agar tidak ekstrem.

D. Cinta Puncak (Asyaddu Hubban Lillah)
Al-Qur’an menyatakan:

Walladzana amanu asyaddu ḥubban lillah
“Orang-orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165).
Cinta kepada Allah menjadi pusat orientasi seluruh cinta manusia. Secara psikologis, ini dapat dipahami sebagai transcendent attachment yang memberikan stabilitas emosional dan makna hidup (Seligman, 2021).
Dengan menjadikan Allah sebagai puncak cinta, manusia tidak akan terjebak dalam cinta yang berlebihan kepada makhluk.

E. Karakter Orang yang Mencintai
Fromm (2021) menyatakan bahwa cinta adalah keterampilan yang melibatkan perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pemahaman. Individu dengan kecerdasan emosional tinggi lebih mampu membangun hubungan sehat (Goleman, 2020).
Dalam Islam, cinta yang benar melahirkan keikhlasan, kesabaran, dan kasih sayang. Cinta tidak bersifat posesif, tetapi membebaskan dan membangun.

F. Refleksi Amour d’Amour
Konsep amour d’amour menunjukkan bahwa cinta harus disadari secara reflektif. Dalam tradisi filsafat Prancis (eksistensialisme), cinta bukan hanya emosi, tetapi pilihan sadar yang melibatkan tanggung jawab.
Cinta yang reflektif:
memahami alasan mencintai,
menjadi sarana mengenal diri,
tidak berubah menjadi posesif,
memberi ruang kebebasan.
Dengan demikian, cinta menjadi jalan menuju kedewasaan manusia.

G. Fenomena “Ignore” dalam Relasi Sosial
Fenomena mengabaikan (ignore) orang yang tidak dicintai semakin umum dalam masyarakat modern. Secara psikologis, ini dapat menjadi mekanisme pertahanan diri, tetapi jika berlebihan dapat melukai kebutuhan dasar manusia untuk diakui (Leary, 2021).
Dalam perspektif Islam, meskipun tidak semua orang dicintai, setiap manusia tetap harus diperlakukan dengan adil dan bermartabat. Oleh karena itu, sikap yang tepat adalah menjaga jarak secara sehat tanpa menghilangkan penghormatan terhadap kemanusiaan.

H. Memaafkan dan Mengikhlaskan
Memaafkan terbukti meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis (Worthington & Wade, 2020).
Al-Qur’an menyatakan:

Wal kazhiminal ghaizha wal ‘afona ‘anin nas

“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.” (QS. Ali Imran ayat 134).
Ikhlas menjaga kemurnian cinta, sementara memaafkan menghilangkan beban kebencian. Keduanya menjadi kunci keseimbangan jiwa.

I. Penutup
Cinta dan benci adalah dua kekuatan utama dalam kehidupan manusia. Psikologi menjelaskan dinamika keduanya, sementara teologi memberikan arah moral dan spiritual.
Konsep amour d’amour mengajarkan pentingnya refleksi dalam mencintai, sedangkan Islam menegaskan bahwa puncak cinta adalah kepada Allah (asyaddu hubban lillah).
Dengan mencintai secara sadar, membenci secara proporsional, tidak mengabaikan kemanusiaan orang lain, serta membiasakan memaafkan dan ikhlas, manusia dapat mencapai keseimbangan psikologis dan kedamaian spiritual.
++++++++++

Referensi
1. Beck, A. T. (2020). Cognitive therapy of emotional disorders. Guilford Press.

2. Fromm, E. (2021). The art of loving. Harper Perennial Modern Classics.

3. Goleman, D. (2020). Emotional intelligence. Bantam Books.

4. Gross, J. J. (2022). Handbook of emotion regulation (3rd ed.). Guilford Press.

5. Leary, M. R. (2021). Emotional responses and interpersonal behavior. Springer.

6. Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2021). Attachment in adulthood. Guilford Press.

7. Seligman, M. E. P. (2021). Positive psychology. Oxford University Press.

8. Sternberg, R. J. (2022). Love is a story. Oxford University Press.

9. van der Kolk, B. (2021). The body keeps the score. Penguin Books.
Worthington, E. L., &

10. Wade, N. G. (2020). Handbook of forgiveness. Routledge.

Tinggalkan Balasan