Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd.
(Guru Besar UIN STS Jambi)
A. RASIONALITAS DEEP LRARNING
Perkembangan artificial intelligence (AI), machine learning, big data, internet of things, dan transformasi digital global telah mengubah hampir seluruh sistem kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Dunia pada tahun 2026 memasuki era kompetisi global berbasis teknologi digital yang sangat kompleks. Pendidikan tidak lagi cukup hanya menghasilkan siswa yang mampu menghafal materi akademik, tetapi harus melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, adaptif, komunikatif, kolaboratif, dan mampu menyelesaikan masalah dunia nyata.
Laporan OECD Digital Education Outlook 2026 menjelaskan bahwa artificial intelligence sedang membentuk ulang sistem pendidikan global. OECD menegaskan bahwa AI mampu meningkatkan personalized learning, adaptive assessment, serta efisiensi pembelajaran apabila digunakan dengan pendekatan pedagogi yang tepat. Namun OECD juga memperingatkan risiko “false mastery”, yaitu kondisi ketika siswa tampak memahami materi karena bantuan AI tetapi sebenarnya tidak memiliki pemahaman konseptual yang mendalam.¹
UNESCO melalui laporan Digital Futures for Public Education juga menegaskan bahwa pendidikan digital masa depan harus tetap berpusat pada manusia. UNESCO menjelaskan bahwa teknologi pendidikan harus digunakan untuk memperkuat meaningful learning, kreativitas, literasi digital, karakter, dan kesadaran sosial peserta didik.²
Selain itu, laporan World Economic Forum Future of Jobs Report 2025 menjelaskan bahwa sekitar 44% keterampilan kerja global akan berubah dalam lima tahun ke depan akibat perkembangan teknologi AI dan otomatisasi.³
Dunia kerja modern semakin membutuhkan manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, problem solving, kreativitas, emotional intelligence, dan kemampuan kolaborasi lintas budaya.
Perubahan global tersebut menunjukkan bahwa pendidikan konvensional berbasis hafalan mulai kehilangan relevansinya.
Anak-anak masa kini hidup di tengah arus informasi tanpa batas, media sosial, AI generatif, dan lingkungan digital yang berubah sangat cepat. Apabila pendidikan tidak mengalami transformasi, maka generasi muda akan kesulitan menghadapi kompetisi global.
Dalam konteks tersebut, deep learning menjadi salah satu solusi pendidikan yang sangat relevan. Deep learning dalam pendidikan bukan sekadar istilah teknologi kecerdasan buatan, melainkan pendekatan pembelajaran mendalam yang menekankan pemahaman konseptual, refleksi kritis, meaningful learning, kreativitas, dan kemampuan problem solving.
Teori deep learning pertama kali dikembangkan oleh Ference Marton dan Roger Säljö melalui penelitian tentang pendekatan belajar siswa.
Mereka menjelaskan bahwa terdapat dua model pembelajaran utama, yaitu surface learning dan deep learning. Surface learning hanya berorientasi pada hafalan dan reproduksi informasi, sedangkan deep learning menekankan pemahaman makna, hubungan antar konsep, refleksi, dan penerapan pengetahuan dalam kehidupan nyata.⁴
Konsep deep learning kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Michael Fullan, Joanne Quinn, dan Joanne McEachen melalui teori New Pedagogies for Deep Learning. Fullan menjelaskan bahwa pendidikan modern harus membangun enam kompetensi global atau 6C, yaitu:
Character
Citizenship
Collaboration
Communication
Creativity
Critical Thinking⁵
Keenam kompetensi tersebut menjadi fondasi utama pendidikan abad ke-21 karena dunia global membutuhkan manusia yang mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan sosial secara cepat.
Selain itu, Howard Gardner melalui teori Multiple Intelligences menjelaskan bahwa manusia memiliki delapan jenis kecerdasan utama:
Linguistic Intelligence
Logical-Mathematical Intelligence
Spatial Intelligence
Bodily-Kinesthetic Intelligence
Musical Intelligence
Interpersonal Intelligence
Intrapersonal Intelligence
Naturalistic Intelligence⁶
Gardner menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kecerdasan akademik semata, tetapi harus mengembangkan seluruh potensi manusia secara utuh. Pendekatan deep learning sangat relevan dengan teori Gardner karena pembelajaran mendalam memberi ruang bagi siswa untuk belajar secara kreatif, kontekstual, fleksibel, dan berbasis pengalaman nyata.
Dengan demikian, deep learning menjadi pendekatan strategis untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi era kompetisi global dan digital yang semakin kompleks.
B. LANDASAN TEORI DEEP LEARNING
1. Teori Deep Learning
Teori deep learning diperkenalkan oleh Ference Marton dan Roger Säljö melalui penelitian tentang pendekatan belajar mahasiswa. Mereka menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika siswa berusaha memahami makna suatu konsep, bukan sekadar menghafal informasi.⁷
Menurut Marton dan Säljö, siswa yang menggunakan pendekatan deep learning akan:
aktif bertanya,
melakukan refleksi,
menghubungkan konsep,
berpikir kritis,
serta mampu menerapkan ilmu dalam situasi baru.
Sebaliknya, surface learning hanya menghasilkan hafalan jangka pendek tanpa pemahaman yang mendalam.
John Biggs kemudian memperkuat teori ini melalui teori Constructive Alignment. Biggs menjelaskan bahwa pembelajaran efektif harus menyelaraskan:
tujuan pembelajaran,
aktivitas belajar,
dan sistem evaluasi.⁸
Dalam pendekatan deep learning, evaluasi tidak hanya mengukur hafalan, tetapi juga kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, sintesis, kreativitas, dan problem solving.
Michael Fullan kemudian mengembangkan teori New Pedagogies for Deep Learning.
Menurut Fullan, pendidikan modern harus mampu membangun enam kompetensi global:
critical thinking,
creativity,
communication,
collaboration,
citizenship,
dan character.⁹
Fullan menegaskan bahwa pendidikan masa depan harus memadukan teknologi digital dengan pembelajaran manusiawi agar siswa mampu menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat.
2. Teori Konstruktivisme
Teori konstruktivisme dari Jean Piaget menjelaskan bahwa anak membangun pengetahuan melalui pengalaman aktif dan interaksi dengan lingkungan.¹⁰
Menurut Piaget, pembelajaran akan lebih bermakna ketika siswa menemukan sendiri pemahamannya melalui eksplorasi dan pengalaman langsung.
Sementara itu, Lev Vygotsky menjelaskan bahwa pembelajaran terbaik terjadi melalui interaksi sosial, kolaborasi, dan pendampingan dalam Zone of Proximal Development atau ZPD.¹¹
Pendekatan deep learning sangat sesuai dengan teori konstruktivisme karena siswa diposisikan sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran.
3. Teori Humanistik
Abraham Maslow menjelaskan bahwa pendidikan harus membantu manusia mencapai aktualisasi diri melalui pengembangan seluruh potensi manusia.¹²
Carl Rogers menambahkan bahwa pembelajaran efektif harus:
membangun motivasi intrinsik,
menciptakan pengalaman bermakna,
memberikan kebebasan belajar,
dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.¹³
Pendekatan deep learning sangat dekat dengan teori humanistik karena menekankan meaningful learning dan joyful learning.
C. KOMPETENSI ANAK DI ERA GLOBAL DAN DIGITAL
1. Digital Literacy
Paul Gilster menjelaskan bahwa digital literacy adalah kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi digital secara efektif dan bertanggung jawab.¹⁴
Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan gadget, tetapi juga kemampuan:
memilah informasi,
memahami media digital,
menjaga keamanan digital,
dan menggunakan teknologi secara produktif.
OECD menjelaskan bahwa digital literacy merupakan fondasi utama pendidikan abad ke-21 karena kehidupan modern sangat bergantung pada teknologi digital.¹⁵
2. Critical Thinking
Robert Ennis menjelaskan bahwa critical thinking adalah kemampuan berpikir rasional dan reflektif untuk menentukan apa yang harus dipercaya atau dilakukan.¹⁶
Di era AI dan media sosial, kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting karena informasi digital sangat mudah dimanipulasi melalui hoaks, propaganda digital, dan disinformasi.
Anak-anak harus mampu:
menganalisis informasi,
memeriksa validitas sumber,
membedakan fakta dan opini,
serta mengambil keputusan berbasis data.
3. Creativity and Innovation
Menurut Torrance, kreativitas adalah kemampuan menghasilkan ide baru yang bernilai dan orisinal.¹⁷
Dalam era otomatisasi, kreativitas menjadi kompetensi utama karena banyak pekerjaan rutin mulai digantikan oleh AI dan robotik.
World Economic Forum menjelaskan bahwa kreativitas dan innovation thinking menjadi salah satu keterampilan paling dibutuhkan dalam dunia kerja global tahun 2030.¹⁸
4. Computational Thinking
Jeannette Wing menjelaskan bahwa computational thinking adalah kemampuan menyelesaikan masalah secara logis, sistematis, dan berbasis algoritma.¹⁹
Kemampuan ini mencakup:
decomposition,
abstraction,
pattern recognition,
dan algorithmic thinking.
Computational thinking menjadi sangat penting dalam dunia berbasis AI dan data analytics.
5. Emotional Intelligence
Daniel Goleman menjelaskan bahwa emotional intelligence memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan manusia dibanding IQ semata.²⁰
Kecerdasan emosional mencakup:
kesadaran diri,
pengendalian emosi,
empati,
kemampuan sosial,
dan kemampuan membangun hubungan.
Di tengah perkembangan AI, emotional intelligence menjadi kemampuan yang sulit digantikan mesin.
6. AI Literacy
OECD menjelaskan bahwa AI literacy adalah kemampuan memahami cara kerja AI, etika penggunaan AI, serta dampak sosial dan ekonomi dari teknologi AI.²¹
Anak-anak masa depan tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu memahami risiko dan peluang penggunaan AI secara kritis dan bertanggung jawab.
D. KONTRIBUSI DEEP LEARNING DALAM KOMPETISI GLOBAL
1. Meningkatkan Higher Order Thinking Skills (HOTS)
Deep learning membantu siswa mengembangkan:
kemampuan analisis,
evaluasi,
sintesis,
dan problem solving.
Penelitian Tian, Park, dan Liu menunjukkan bahwa deep learning berpengaruh signifikan terhadap peningkatan higher-order thinking skills dan digital literacy siswa.²²
2. Mendukung Personalized Learning Berbasis AI
Artificial intelligence memungkinkan pembelajaran menjadi lebih personal dan adaptif.
OECD menjelaskan bahwa AI dapat digunakan sebagai:
tutor digital,
adaptive assessment system,
personalized feedback,
dan learning assistant.²³
Teknologi ini memungkinkan siswa belajar sesuai kemampuan dan gaya belajar masing-masing.
3. Meningkatkan Kreativitas dan Inovasi
Deep learning mendorong siswa untuk:
bereksplorasi,
melakukan riset,
membuat proyek,
dan menciptakan solusi inovatif.
Menurut Fullan, kreativitas merupakan kompetensi utama dalam pendidikan masa depan.²⁴
4. Mengembangkan Kolaborasi Global
UNESCO menjelaskan bahwa teknologi digital memungkinkan kolaborasi lintas negara dan budaya melalui platform virtual.²⁵
Kemampuan komunikasi global menjadi modal penting dalam menghadapi kompetisi internasional.
5. Membangun Lifelong Learning
Carl Rogers menjelaskan bahwa pembelajaran terbaik adalah pembelajaran yang membangun kesadaran belajar sepanjang hayat.²⁶
Deep learning membantu siswa menjadi pembelajar mandiri yang mampu beradaptasi terhadap perubahan dunia yang sangat cepat.
E. TANTANGAN DAN STRATEGI IMPLEMENTASI DEEP LEARNING
1. Kesenjangan Infrastruktur Digital
UNESCO menjelaskan bahwa kesenjangan akses internet dan teknologi masih menjadi tantangan besar pendidikan global.²⁷
Banyak sekolah di negara berkembang masih memiliki keterbatasan:
internet,
perangkat digital,
dan akses teknologi.
Kondisi ini menyebabkan transformasi pendidikan digital berjalan tidak merata.
2. Kompetensi Guru
OECD menjelaskan bahwa transformasi digital pendidikan membutuhkan guru yang memiliki kemampuan digital pedagogy.²⁸
Guru masa depan tidak lagi hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga:
fasilitator,
mentor,
coach,
dan inspirator pembelajaran.
Karena itu, pelatihan guru berbasis teknologi dan pedagogi digital menjadi sangat penting.
3. Resiko Ketergantungan AI
Narayanan dan Kapoor menjelaskan bahwa penggunaan AI tanpa kontrol dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir mandiri dan kritis.²⁹
Apabila siswa terlalu bergantung pada AI generatif, maka kemampuan analisis dan kreativitas dapat mengalami penurunan.
Karena itu, AI harus digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir manusia.
4. Kurikulum yang Terlalu Padat
Fullan menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam membutuhkan:
fleksibilitas,
pembelajaran berbasis proyek,
refleksi,
dan evaluasi autentik.³⁰
Kurikulum yang terlalu administratif dapat menghambat implementasi deep learning karena guru lebih fokus pada penyelesaian materi dibanding pengembangan kompetensi siswa.
5. Strategi Pendidikan Masa Depan
Beberapa strategi penting yang perlu dilakukan:
Integrasi AI secara etis dalam pendidikan
Pelatihan guru berbasis digital pedagogy
Penguatan literasi digital sejak dini
Pembelajaran berbasis proyek dan riset
Penguatan karakter dan spiritualitas
Kolaborasi global antar sekolah dan universitas
Pengembangan kurikulum fleksibel berbasis kompetensi
Penguatan pendidikan humanistik di era AI
Strategi tersebut penting agar transformasi pendidikan digital tetap menjaga keseimbangan antara teknologi dan nilai kemanusiaan.
F. PENUTUP
Era kompetisi global dan digital telah mengubah paradigma pendidikan dunia secara fundamental. Pendidikan tidak lagi cukup hanya menghasilkan siswa yang mampu menghafal materi, tetapi harus melahirkan generasi yang kreatif, kritis, adaptif, inovatif, dan mampu bersaing secara global.
Deep learning hadir sebagai solusi strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Melalui pembelajaran mendalam, siswa tidak hanya memahami ilmu secara tekstual, tetapi juga mampu berpikir reflektif, menyelesaikan masalah, berkolaborasi, dan menciptakan inovasi.
Teori deep learning dari Marton dan Säljö, teori konstruktivisme Piaget dan Vygotsky, teori humanistik Maslow dan Rogers, serta teori multiple intelligences Howard Gardner menunjukkan bahwa pendidikan masa depan harus berpusat pada pengembangan manusia secara utuh.
Di era artificial intelligence tahun 2026, pendidikan harus mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan. Artificial intelligence seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Jika pendidikan mampu bertransformasi menuju deep learning berbasis teknologi, karakter, kreativitas, dan humanisme, maka Indonesia memiliki peluang besar melahirkan generasi emas yang unggul, adaptif, inovatif, dan kompetitif di tingkat internasional.
+++++++
REFERENSI DAN FOOTNOTE
1. OECD, OECD Digital Education Outlook 2026: Human-Centred Artificial Intelligence and the Future of Learning (Paris: OECD Publishing, 2026).
2. UNESCO, Digital Futures for Public Education (Paris: UNESCO Publishing, 2026).
3. World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025 (Geneva: WEF Publishing, 2025).
4. Ference Marton & Roger Säljö, “On Qualitative Differences in Learning,” British Journal of Educational Psychology 46, no.1 (1976): 4–11.
5. Michael Fullan, Joanne Quinn, & Joanne McEachen, Deep Learning: Engage the World Change the World (California: Corwin Press, 2022).
6. Howard Gardner, Multiple Intelligences: New Horizons in Theory and Practice (New York: Basic Books, 2023).
7. Marton & Säljo, “On Qualitative Differences in Learning,” 4–11.
8. John Biggs & Catherine Tang, Teaching for Quality Learning at University (New York: McGraw-Hill Education, 2022).
9. Fullan, Quinn, & McEachen, Deep Learning, 2022.
10. Jean Piaget, The Psychology of Intelligence (London: Routledge, 2022).
11..Lev Vygotsky, Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes (Cambridge: Harvard University Press, 2023).
12. Abraham Maslow, Motivation and Personality (New York: Harper & Row, 2023 Edition).
13. Carl Rogers, Freedom to Learn for the 21st Century (New York: Merrill Publishing, 2023).
14. Paul Gilster, Digital Literacy in the Age of Artificial Intelligence (New York: Wiley Publishing, 2023).
15. OECD, OECD Digital Education Outlook 2026.
16. Robert Ennis, Critical Thinking Across the Curriculum (New York: Routledge, 2024).
27. Paul Torrance, Creativity and Innovation in Education (London: Routledge, 2023).
18. World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025.
19. Jeannette Wing, “Computational Thinking and Digital Education,” Communications of the ACM 67, no.4 (2024): 33–35.
20. Daniel Goleman, Emotional Intelligence (London: Bloomsbury Publishing, 2024).
21. OECD, Artificial Intelligence and Education Skills (Paris: OECD Publishing, 2025),
22. Xia Tian, K.H. Park, & Q. Liu, “Deep Learning Influences on Higher Education Students’ Digital Literacy,” International Journal of Emerging Technologies in Learning 18, no.15 (2023): 44–58.
23. OECD, OECD Digital Education Outlook 2026.
Fullan, Quinn, & McEachen, Deep Learning, 2022.
24. UNESCO, Digital Futures for Public Education, 2026.
Carl Rogers, Freedom to Learn for the 21st Century, 2023.
25. UNESCO, Global Education Monitoring Report 2026 (Paris: UNESCO Publishing, 2026).
27. OECD, Artificial Intelligence and Education Skills, 2025.
28. Arvind Narayanan & Sayash Kapoor, AI Snake Oil (Princeton: Princeton University Press, 2024).
29. Fullan, Quinn, & McEachen, Deep Learning, 2022.














