Penulis: Dr. Yuliana, S.E., M.SI
(Akademisi dan Jurnalis)
Latar Wacana
Perkembangan ekonomi daerah pada era digital menuntut masyarakat memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Provinsi Jambi menghadapi tantangan besar terkait penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan daya saing ekonomi lokal. Dalam konteks tersebut, edupreneurship hadir sebagai pendekatan strategis yang menggabungkan pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Kondisi terkini ekonomi daerah di Provinsi Jambi menunjukkan bahwa edupreneurship menjadi relevan berdasarkan data lapangan dan kebijakan strategis pemerintah. Tantangan berupa keterbatasan lapangan kerja, tingginya tingkat pengangguran, serta kesenjangan keterampilan kerja mendorong perlunya adaptasi digital. Menjawab hal ini, Pemerintah Kota Jambi menjalankan program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) untuk melatih generasi muda putus sekolah agar mampu menjadi wirausahawan mandiri (Universitas Jambi).
Di sisi lain, inovasi dan kewirausahaan akademik juga berkembang. Universitas Jambi (Unja) menerapkan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) yang telah menghasilkan berbagai inovasi bisnis kreatif. Transformasi digital turut mengubah cara UMKM di Jambi beroperasi. Digitalisasi terbukti berkontribusi signifikan terhadap perluasan jangkauan pasar dan peningkatan efisiensi operasional pelaku usaha (Academia.edu).
Dukungan kebijakan pun hadir dari Bank Indonesia Perwakilan Jambi melalui program edukasi Gentala Arasi (Gebyar Ekonomi Digital dan Literasi Jambi), yang bertujuan mengakselerasi inovasi serta meningkatkan literasi keuangan digital masyarakat (Jambi Daily). Pendekatan edupreneurship di Provinsi Jambi dengan demikian selaras dengan strategi pemerintah dan akademisi untuk membangun ketahanan ekonomi berkelanjutan. Informasi lebih lanjut mengenai pemetaan strategi ekonomi Jambi dapat diakses melalui portal resmi Pemerintah Provinsi Jambi dan publikasi digital Universitas Jambi.
Konsep edupreneurship sendiri lahir dari kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang produktif dan relevan dengan tuntutan zaman. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses akademik formal, melainkan juga sebagai sarana membangun kreativitas, keberanian berusaha, kemampuan memanfaatkan teknologi, serta kecakapan mengelola potensi ekonomi lokal. Pendekatan ini sangat penting bagi Provinsi Jambi yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya besar, namun masih membutuhkan penguatan pada sektor hilirisasi ekonomi masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi menunjukkan bahwa pada tahun 2025 ekonomi daerah tumbuh sebesar 4,93 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp349,66 triliun. Sektor pertanian tetap menjadi kontributor terbesar dalam struktur ekonomi, memberikan fondasi kuat bagi perekonomian Jambi, disusul oleh sektor perdagangan dan jasa. Namun, pertumbuhan ini menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.
Secara rinci, sektor pertanian menyumbang 34,49% terhadap PDRB, diikuti pertambangan 13,79%, dan perdagangan 13,57% (BPS Jambi). Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan 5,75%. Sementara dari sisi produksi, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh paling pesat, mencapai 8,88%. Pendapatan per kapita masyarakat Jambi berada di angka Rp92,79 juta atau setara dengan USD 5.632,03 (BPS Jambi).
Perkembangan teknologi digital membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda Jambi. Pelaku usaha kecil kini dapat memasarkan produk melalui media sosial, platform perdagangan elektronik, dan layanan digital lainnya. Peluang ini menuntut literasi digital, manajemen usaha, serta inovasi produk. Pendidikan berbasis edupreneurship mampu menjawab kebutuhan tersebut dengan mengembangkan kompetensi praktis yang relevan dengan dunia usaha modern.
Berbagai studi akademis di universitas setempat memverifikasi dampak positif literasi digital terhadap pelaku usaha (Jambi Ekspres). Transformasi digital terbukti membuka akses pasar lebih luas bagi UMKM di Kota Jambi, meningkatkan penjualan sekaligus efisiensi operasional (Academia.edu). Kajian akademik juga menegaskan bahwa literasi digital dan kewirausahaan merupakan faktor penentu keberlangsungan bisnis. Tantangan yang masih perlu ditingkatkan adalah kemampuan pencatatan keuangan digital dan strategi promosi (PT. FAASLIB Serambi Media).
Institusi pendidikan tinggi di Jambi, seperti Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Jambi, Program Studi Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Muhammad Azim Jambi, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN STS Jambi, aktif mendorong mahasiswa menguasai kompetensi bisnis digital. Tujuannya adalah mencetak lulusan yang tidak hanya siap mengajar, tetapi juga mampu berinovasi dan menciptakan lapangan kerja baru. Upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas terus digencarkan untuk memfasilitasi wirausaha muda. Program pengembangan literasi digital ini dapat dipantau melalui portal resmi Pemerintah Kota Jambi. Pendekatan edupreneurship juga sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menekankan penguatan pendidikan vokasi, kewirausahaan, dan transformasi digital (Kemendikdasmen).
Edupreneurship menggabungkan pendidikan dan kewirausahaan untuk mencetak lulusan inovatif, mandiri, dan berdaya saing global (Journal Universitas Pasundan). Kebijakan pemerintah berfokus pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan alokasi anggaran khusus untuk mencetak generasi unggul. Langkah konkret dilakukan melalui pelepasan ribuan lulusan SMK dan Lembaga Kursus Pelatihan (LKP) agar siap kerja secara global. Integrasi teknologi dan digitalisasi pembelajaran terus didorong untuk merespons kebutuhan era modern (Portal Resmi Kemendikdasmen).
Dalam konteks Provinsi Jambi, edupreneurship dapat diarahkan pada pengembangan usaha berbasis potensi lokal: perkebunan, pertanian organik, ekonomi kreatif, kerajinan budaya Melayu Jambi, industri makanan khas daerah, hingga wisata berbasis komunitas. Pendekatan ini memperkuat ekonomi masyarakat desa sekaligus menciptakan ekosistem usaha berkelanjutan. Pemanfaatan lahan tidur atau bantaran Sungai Batanghari dapat dijadikan pusat budidaya pertanian organik dan hortikultura (ANTARA News Jambi). Kerajinan khas seperti anyaman resam dan Batik Jambi dikembangkan melalui pelatihan pemuda dan kelompok usaha bersama (Metro TV). Inovasi produk olahan lokal seperti tempoyak, lempok durian, dodol nanas, dan kopi AAA memberi nilai komersial lebih tinggi (Jambi Daily). Desa wisata dan ekowisata di kawasan penyangga Candi Muaro Jambi juga melibatkan pemandu lokal serta edukasi sejarah budaya (Ascott Star Rewards). Dukungan nyata terhadap ekosistem ini terlihat dari berbagai program pembinaan wirausaha muda dan peningkatan daya saing UMKM yang digalakkan oleh institusi pendidikan dan pemerintah daerah.
Argumentasi
Pertama, edupreneurship dan kesejahteraan ekonomi memiliki hubungan erat karena pendidikan yang produktif mampu menciptakan sumber pendapatan baru. Selama ini, banyak lulusan pendidikan formal masih berorientasi pada pencarian pekerjaan di sektor pemerintah maupun perusahaan besar. Padahal kapasitas penyerapan tenaga kerja formal sangat terbatas, sehingga memunculkan fenomena pengangguran terdidik. Edupreneurship menawarkan paradigma baru dengan membentuk mental kreatif dan mandiri, mendorong peserta didik menciptakan usaha sejak dini sesuai kebutuhan masyarakat dan dinamika pasar.
Kedua, potensi lokal Jambi memberikan peluang besar untuk mengembangkan model edupreneurship berbasis daerah. Sektor pertanian yang mendominasi struktur ekonomi dapat diintegrasikan dengan inovasi pendidikan kewirausahaan. Generasi muda dapat dilatih mengolah produk turunan dari kopi, pinang, kelapa sawit, kayu manis, hingga pangan lokal lainnya. Dengan pendekatan kreatif, produk lokal memperoleh nilai tambah lebih tinggi dibandingkan sekadar menjual bahan mentah. Data BPS menunjukkan sektor pertanian menyumbang lebih dari sepertiga struktur ekonomi Jambi (Jambi Daily), sehingga penguatan SDM di sektor ini akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.
Ketiga, pengaruh terhadap pengurangan kemiskinan menjadi argumen penting. Pendidikan kewirausahaan yang dipadukan dengan literasi digital membuka akses pasar lebih luas, terutama bagi masyarakat desa yang selama ini menghadapi keterbatasan modal dan jaringan distribusi. Dengan keterampilan usaha dan pemanfaatan teknologi pemasaran digital, peluang memperoleh pendapatan meningkat, sehingga angka kemiskinan dapat ditekan.
Keempat, kolaborasi multipihak menjadi syarat keberhasilan. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah vokasi, pelaku usaha, dan komunitas masyarakat perlu bersinergi dalam membangun pusat inovasi dan inkubator bisnis berbasis potensi lokal. Perguruan tinggi dapat mengarahkan mahasiswa melakukan riset terapan yang menghasilkan produk kreatif dan teknologi tepat guna, sementara sekolah menengah kejuruan memperkuat kurikulum berbasis praktik usaha agar peserta didik terlibat langsung dalam pengelolaan usaha sederhana.
Kelima, transformasi digital memperkuat relevansi edupreneurship di era modern. Laporan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia terus meningkat signifikan. Bagi Jambi, peluang ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar produk lokal hingga tingkat nasional dan internasional. Pelaku usaha muda dapat memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce untuk memasarkan kerajinan, makanan tradisional, produk pertanian olahan, serta jasa kreatif. Dengan dukungan pendidikan kewirausahaan, masyarakat lebih siap menghadapi persaingan global.
Keenam, dampak sosial edupreneurship juga tidak dapat diabaikan. Ketika masyarakat memiliki usaha dan pendapatan lebih baik, kualitas pendidikan keluarga meningkat, kesehatan membaik, dan ketahanan ekonomi rumah tangga semakin kuat. Dengan demikian, edupreneurship tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pembangunan sosial secara menyeluruh.
Ketujuh, dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor krusial. Pemerintah Provinsi Jambi dapat memperkuat program pelatihan kewirausahaan berbasis desa, memberikan akses pembiayaan usaha mikro, serta memperluas pendampingan usaha bagi generasi muda. Pengembangan pusat kreatif dan ruang inovasi masyarakat juga penting untuk membangun ekosistem ekonomi baru yang berkelanjutan.
Kedelapan, literasi digital harus diperkuat. Banyak pelaku usaha kecil masih menghadapi keterbatasan dalam penggunaan teknologi pemasaran daring. Melalui pendidikan berbasis edupreneurship, masyarakat dapat mempelajari strategi pemasaran digital, manajemen keuangan berbasis teknologi, serta pengembangan merek produk secara profesional.
Akhirnya, dalam perspektif jangka panjang, edupreneurship sebagai strategi pembangunan mampu menciptakan ekonomi daerah yang lebih resilien. Ketergantungan terhadap sektor primer dapat dikurangi melalui pengembangan industri kreatif dan usaha berbasis inovasi. Dengan demikian, struktur ekonomi Jambi menjadi lebih kuat, adaptif, dan berdaya saing dalam menghadapi perubahan global.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian latar wacana dan argumentasi, dapat ditegaskan bahwa edupreneurship merupakan pendekatan strategis yang relevan dan mendesak bagi pembangunan ekonomi Provinsi Jambi.
Edupreneurship tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pendidikan, tetapi juga sebagai motor penggerak transformasi sosial-ekonomi. Melalui integrasi pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan, masyarakat memperoleh peluang untuk menciptakan sumber pendapatan baru, mengurangi pengangguran terdidik, serta memperkuat daya saing daerah di era digital.
Pertumbuhan ekonomi Jambi yang ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, dan jasa menunjukkan fondasi yang kuat, namun masih membutuhkan penguatan kualitas sumber daya manusia.
Edupreneurship mampu menjawab kebutuhan tersebut dengan mendorong lahirnya generasi muda yang kreatif, mandiri, dan adaptif terhadap perubahan global. Literasi digital, inovasi produk lokal, serta kolaborasi multipihak antara pemerintah, akademisi, dan komunitas menjadi faktor penentu keberhasilan.
Selain memberikan dampak ekonomi, edupreneurship juga berkontribusi pada pembangunan sosial. Peningkatan pendapatan keluarga berdampak pada kualitas pendidikan anak, kesehatan rumah tangga, dan ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten, penguatan kurikulum kewirausahaan, serta pemanfaatan teknologi digital, edupreneurship dapat menjadi pilar utama dalam membangun ekonomi daerah yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Dengan demikian, edupreneurship di Provinsi Jambi tidak hanya menjadi pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk memastikan pembangunan ekonomi yang resilien, berkeadilan, dan selaras dengan agenda pembangunan nasional.












