JAMBIDAILY.COM – Masih banyak pengguna media digital yang tanpa sadar menggunakan kata sandi (password) lemah sehingga rentan diretas oleh pelaku kejahatan siber.
Kondisi ini menjadi salah satu perhatian yang disampaikan Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Jambi, Yusnaini, M.I.Kom, saat menjadi narasumber dalam seminar bertema “Jadi Gen Z yang Aman Bermedia Digital” di Wiltop Hotel Jambi, Senin (15/6/2026).
Menurut Yusnaini, keamanan akun digital berawal dari kebiasaan sederhana, yakni penggunaan password yang kuat dan sulit ditebak. Sayangnya, banyak pemilik akun masih menggunakan kombinasi kata sandi yang mudah dikenali, bahkan berasal dari data pribadi mereka sendiri.
“Banyak pengguna akun tidak menyadari bahwa password yang mereka gunakan sangat mudah dibobol,” ujarnya di hadapan para finalis Jambi Ekspres Science Olympiad yang didominasi generasi Z.
Ia menjelaskan, penggunaan password yang lemah dapat membuka peluang bagi peretas untuk mengambil alih akun, mengakses data pribadi, hingga melakukan berbagai tindak kejahatan digital.
Untuk meningkatkan keamanan akun, Yusnaini menyarankan pengguna membuat password dengan panjang minimal 12 hingga 16 karakter. Semakin panjang kata sandi yang digunakan dengan kombinasi karakter, semakin sulit pula bagi pelaku kejahatan siber untuk membobolnya.
Selain itu, password juga perlu memadukan huruf besar, huruf kecil, angka, dan karakter khusus, agar tingkat keamanannya lebih tinggi.
“Jangan menggunakan tanggal lahir, nama sendiri, atau nomor telepon sebagai password.
Informasi seperti itu sangat mudah ditebak dan berisiko disalahgunakan,” katanya.
Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Nurdin Hamzah tersebut juga menganjurkan agar setiap akun memiliki password yang berbeda. Dengan demikian, jika salah satu akun berhasil diretas, akun lainnya tetap aman.
Meski demikian, penggunaan banyak password sering kali membuat pengguna kesulitan mengingatnya. Untuk mengatasi hal tersebut, ia menyarankan penggunaan frasa atau kalimat unik yang mudah diingat namun tetap memiliki tingkat keamanan tinggi.
“Kalau hanya menggunakan dua atau tiga jenis password, pastikan semuanya kuat dan tidak mudah ditebak,” tambahnya.
Yusnaini juga memperkenalkan berbagai aplikasi dan layanan manajemen password yang dapat membantu pengguna mengevaluasi tingkat keamanan kata sandi mereka.
Menurutnya, melalui layanan tersebut pengguna dapat mengetahui seberapa kuat password yang digunakan, termasuk estimasi waktu yang dibutuhkan untuk membobolnya.
“Dari aplikasi itu kita bisa melihat apakah password kita membutuhkan waktu sangat lama untuk dibobol atau justru hanya hitungan menit bahkan detik,” jelasnya.
Beberapa layanan yang dapat dimanfaatkan antara lain Have I Been Pwned, Bitwarden, 1Password, dan KeePassXC.
Di akhir pemaparannya, Yusnaini mengingatkan pentingnya mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah (two-factor authentication/2FA) sebagai lapisan perlindungan tambahan. Dengan fitur ini, pengguna akan menerima kode verifikasi tambahan ketika terjadi aktivitas login yang mencurigakan.
“Ancaman di ruang digital terus berkembang. Password yang berhasil dibobol bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai kejahatan lain, mulai dari pencurian data pribadi, penipuan, hingga kejahatan digital lainnya. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan akun pribadi terlindungi dengan password yang kuat,” pungkasnya. ***














