banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIKTOKOH

IN MEMORIAM UMER CHAPRA DAN RELEVANSI EKONOMI ISLAM BAGI MASA DEPAN PERADABAN

×

IN MEMORIAM UMER CHAPRA DAN RELEVANSI EKONOMI ISLAM BAGI MASA DEPAN PERADABAN

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Penulis: Dr. Yuliana, S.E., M.SI
(Akademisi dan Jurnalis)

Kepergian Sang Arsitek Ekonomi Islam Modern

Dunia intelektual Islam tengah berduka. Pada 13 Juni 2026, Dr. Muhammad Umer Chapra wafat dalam usia 93 tahun di Arab Saudi. Kepergiannya menandai berakhirnya satu generasi pemikir besar yang selama lebih dari enam dekade membentuk arah perkembangan ekonomi Islam kontemporer. Berita wafatnya mendapat perhatian luas dari kalangan akademisi, praktisi keuangan syariah, hingga pemimpin dunia Islam. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyebut kehilangan ini sebagai pukulan besar bagi dunia keilmuan Islam dan perjuangan menegakkan keadilan melalui ilmu pengetahuan.

Muhammad Umer Chapra lahir pada 1 Februari 1933 di Bombay, India Britania, yang kini menjadi bagian dari India modern. Setelah pembagian India dan Pakistan, keluarganya menetap di Pakistan. Ia menempuh pendidikan tinggi di bidang ekonomi hingga meraih gelar doktor dalam bidang Ekonomi dan Sosiologi dari University of Minnesota pada tahun 1961. Pendidikan akademik yang kokoh tersebut menjadi fondasi bagi lahirnya gagasan besar yang kemudian mengubah wajah ekonomi Islam modern.

Chapra mengabdi sebagai penasihat ekonomi senior di Saudi Arabian Monetary Agency selama hampir tiga puluh lima tahun, sebelum melanjutkan kiprahnya di Islamic Research and Training Institute di bawah naungan Islamic Development Bank. Melalui kedua lembaga ini, pemikirannya berkembang menjadi salah satu rujukan paling berpengaruh dalam ekonomi Islam internasional.

Semasa hidupnya, Chapra menulis sekitar 15 buku dan puluhan artikel ilmiah yang menjadi literatur utama dalam kajian ekonomi syariah global. Karya-karyanya membahas sistem moneter, maqashid syariah, dan tantangan ekonomi Islam kontemporer. Atas dedikasi dan kontribusinya, ia menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk King Faisal International Prize for Islamic Studies pada tahun 1990.

Kepergian Chapra tidak semata menghadirkan kesedihan. Ia juga menjadi momentum untuk meninjau kembali relevansi gagasan yang diwariskannya bagi pembangunan ekonomi dunia yang sedang menghadapi krisis ketimpangan, krisis moral, dan krisis keberlanjutan.

Ekonomi dan Kemanusiaan dalam Pandangan Umer Chapra

Sumbangan terbesar Chapra terletak pada keberhasilannya menghubungkan ilmu ekonomi dengan nilai nilai moral dan spiritual. Ketika banyak teori ekonomi modern menempatkan pertumbuhan dan efisiensi sebagai tujuan utama, Chapra menghadirkan pendekatan yang lebih luas. Menurutnya, tujuan pembangunan ekonomi adalah terciptanya kesejahteraan manusia secara menyeluruh yang mencakup aspek material, sosial, moral, dan spiritual.

Pandangan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa manusia merupakan pusat pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak memiliki makna apabila menghasilkan ketimpangan yang semakin tajam, kemiskinan yang berkepanjangan, serta kerusakan sosial yang meluas. Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan harus mencakup kualitas hidup manusia, pemerataan kesejahteraan, dan keadilan sosial.

Dalam karya monumentalnya yang berjudul Islam and the Economic Challenge, Chapra menjelaskan bahwa krisis ekonomi modern tidak semata disebabkan oleh kesalahan teknis dalam kebijakan ekonomi, melainkan juga oleh hilangnya dimensi moral dalam aktivitas ekonomi. Ia mengingatkan bahwa sistem ekonomi yang mengabaikan etika pada akhirnya akan melahirkan ketidakadilan sosial dan instabilitas ekonomi. (Wikipedia).

Pandangan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam Al Quran. Allah Swt berfirman dalam QS. Al Hasyr ayat 7:
مَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ ۝٧
Artinya
“Apa saja (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. (Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

Ayat ini menggambarkan pentingnya distribusi kekayaan yang adil. Bagi Chapra, pembangunan ekonomi harus memastikan bahwa manfaat pertumbuhan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Maqashid Syariah sebagai Kerangka Pembangunan

Salah satu kontribusi intelektual paling berpengaruh dari Muhammad Umer Chapra adalah pengembangan kerangka ekonomi berbasis maqashid syariah. Konsep ini menempatkan kemaslahatan manusia sebagai tujuan utama kebijakan ekonomi. Dalam kerangka maqashid syariah, pembangunan diarahkan untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kelima tujuan tersebut menjadi fondasi bagi terciptanya masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.

Oleh karena itu, kebijakan ekonomi tidak cukup berorientasi pada peningkatan pendapatan nasional. Kebijakan harus memperkuat pendidikan, kesehatan, kualitas keluarga, dan tata kelola sosial yang baik. Pemikiran ini menjadi sangat relevan pada masa sekarang ketika banyak negara mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi masih bergulat dengan kesenjangan sosial yang lebar, kemiskinan struktural, dan degradasi lingkungan.

Dalam perspektif Chapra, pembangunan berkelanjutan harus memadukan kemajuan ekonomi dengan pembangunan manusia. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara pencapaian material dan tanggung jawab moral. Ia menegaskan bahwa kesejahteraan sejati tidak dapat dicapai apabila pertumbuhan ekonomi berjalan tanpa memperhatikan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.

Gagasan tersebut kini semakin mendapat perhatian dalam berbagai kajian pembangunan global. Banyak lembaga internasional menekankan pentingnya kesejahteraan manusia sebagai tujuan utama kebijakan publik. Chapra telah meletakkan dasar bahwa ekonomi syariah bukan sekadar sistem alternatif, melainkan paradigma pembangunan yang menempatkan nilai kemanusiaan dan spiritualitas sebagai inti.

Dengan kerangka maqashid syariah, pembangunan tidak lagi dipahami sebatas peningkatan angka statistik, melainkan sebagai proses menyeluruh untuk menciptakan masyarakat yang beradab, berkeadilan, dan berkelanjutan. Pemikiran ini menjadi warisan intelektual yang relevan bagi masa depan peradaban, terutama ketika dunia menghadapi krisis ketimpangan, krisis moral, dan krisis keberlanjutan.

Kritik terhadap Kapitalisme Modern

Chapra tidak menolak ilmu ekonomi modern. Ia justru dikenal sebagai tokoh mazhab utama ekonomi Islam yang melakukan dialog kritis dengan teori ekonomi konvensional. Pendekatannya berbeda dari kelompok yang menghendaki pemisahan total antara ekonomi Islam dan ekonomi modern.

Chapra menerima berbagai instrumen analisis ekonomi yang terbukti bermanfaat secara ilmiah. Namun, ia melakukan proses penyaringan dan integrasi agar teori teori tersebut sejalan dengan prinsip keadilan dan etika Islam.

Kritiknya terhadap kapitalisme modern berfokus pada kecenderungan sistem tersebut yang terlalu menekankan kepentingan individu dan akumulasi kekayaan. Menurutnya, pasar memiliki peran penting dalam mengalokasikan sumber daya. Akan tetapi, pasar memerlukan landasan moral dan regulasi yang kuat agar tidak menghasilkan ketimpangan yang berlebihan.

Pandangan tersebut semakin relevan ketika berbagai laporan internasional menunjukkan tingginya konsentrasi kekayaan global pada kelompok kecil masyarakat dunia. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan pemerataan kesejahteraan.

Al Quran memberikan pedoman yang sangat jelas mengenai pentingnya keadilan sosial. Dalam QS. An Nahl ayat 90 Allah Swt berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ۝٩٠
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.”
Ayat tersebut menjadi salah satu landasan normatif yang sering digunakan dalam pemikiran ekonomi Islam, termasuk oleh Chapra.

Reformasi Sistem Keuangan dan Keadilan Moneter

Kontribusi besar lain dari Muhammad Umer Chapra tampak dalam gagasannya mengenai reformasi sistem keuangan. Melalui karya Towards a Just Monetary System dan The Future of Economics: An Islamic Perspective, ia mengembangkan konsep sistem keuangan yang berlandaskan keadilan serta keterkaitan erat dengan sektor riil.
Menurut Chapra, dominasi transaksi spekulatif dan ekspansi utang yang berlebihan berpotensi menciptakan instabilitas ekonomi. Sistem keuangan yang sehat harus mendorong aktivitas produktif, investasi riil, dan pembagian risiko secara adil. Dengan demikian, keuangan tidak sekadar menjadi instrumen perputaran modal, tetapi menjadi sarana untuk memperkuat fondasi ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Pandangan tersebut terbukti relevan setelah berbagai krisis keuangan global memperlihatkan dampak negatif dari praktik spekulasi dan ekspansi kredit yang tidak terkendali. Krisis Asia pada akhir 1990-an, krisis keuangan global 2008, hingga gejolak pasar keuangan kontemporer menunjukkan bahwa sistem keuangan yang bertumpu pada spekulasi dan utang berlebihan tidak mampu menopang stabilitas jangka panjang.

Karena alasan itu, banyak akademisi ekonomi Islam memandang Chapra sebagai salah satu perintis teori keuangan syariah modern. Pemikirannya menegaskan bahwa keuangan syariah tidak hanya menawarkan alternatif teknis, tetapi juga paradigma baru yang menempatkan keadilan, keterkaitan dengan sektor riil, dan tanggung jawab sosial sebagai prinsip utama.

Warisan Intelektual yang Mendunia

Pengaruh Muhammad Umer Chapra tercermin dalam karya-karya ilmiahnya yang menjadi rujukan utama di universitas dan lembaga penelitian di berbagai belahan dunia. Beberapa karya penting yang terus dikaji hingga kini antara lain Islam and the Economic Challenge, The Future of Economics: An Islamic Perspective, Towards a Just Monetary System, The Islamic Vision of Development in the Light of Maqasid al-Shariah, serta Muslim Civilization: The Causes of Decline and the Need for Reform. Karya-karya tersebut tidak hanya memperkaya literatur ekonomi Islam, tetapi juga memberikan arah baru bagi diskursus pembangunan global.

Atas kontribusi yang luar biasa, Chapra menerima berbagai penghargaan internasional. Di antara penghargaan bergengsi yang diraihnya adalah Islamic Development Bank Prize in Islamic Economics dan King Faisal International Prize for Islamic Studies, salah satu penghargaan paling prestisius di dunia Islam. Penghargaan tersebut mencerminkan pengakuan internasional terhadap kedalaman pemikiran dan luasnya pengaruh intelektual yang telah ia bangun selama puluhan tahun.

Warisan intelektual Chapra menunjukkan bahwa ekonomi Islam bukan sekadar alternatif dari sistem konvensional, melainkan paradigma yang mampu menawarkan solusi atas tantangan global. Pemikirannya menegaskan pentingnya keadilan, keberlanjutan, dan kesejahteraan manusia sebagai inti dari kebijakan ekonomi. Dengan karya-karyanya, Chapra telah menempatkan ekonomi Islam dalam percakapan akademis internasional, sekaligus menjadikannya relevan bagi masa depan peradaban.

Refleksi bagi Indonesia

Bagi Indonesia, pemikiran Muhammad Umer Chapra memiliki makna yang sangat penting. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan pembangunan yang mencakup ketimpangan ekonomi, kemiskinan, kualitas pendidikan, serta tata kelola ekonomi yang berkeadilan. Dalam konteks tersebut, gagasan Chapra memberikan arah bahwa pembangunan harus berorientasi pada peningkatan kualitas manusia dan perluasan akses kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan bermakna apabila manfaatnya tidak terdistribusi secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat.

Pemikiran Chapra mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari dimensi moral dan sosial. Peningkatan pendapatan nasional harus berjalan seiring dengan penguatan pendidikan, kesehatan, kualitas keluarga, serta tata kelola sosial yang baik. Dengan kerangka maqashid syariah, pembangunan diarahkan untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, sehingga kesejahteraan yang dihasilkan bersifat menyeluruh dan berkelanjutan.

Dalam konteks ekonomi syariah nasional, gagasan Chapra dapat menjadi sumber inspirasi bagi penguatan industri keuangan syariah, pengelolaan zakat dan wakaf produktif, serta pengembangan usaha mikro dan kecil. Pemikiran tersebut juga relevan untuk mendorong pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat, bukan semata pada pencapaian angka pertumbuhan.

Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu pilar pembangunan nasional. Dengan populasi Muslim yang dominan, dukungan regulasi yang semakin kuat, serta berkembangnya lembaga keuangan syariah, gagasan Chapra dapat dijadikan landasan untuk memperkuat integrasi nilai Islam dalam kebijakan ekonomi. Hal ini akan memperkuat daya saing nasional sekaligus menghadirkan model pembangunan yang lebih adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia.

Penutup

Wafatnya Dr. Muhammad Umer Chapra pada 13 Juni 2026 menandai berakhirnya satu era penting dalam sejarah ekonomi Islam modern. Kepergian fisiknya tidak mengakhiri pengaruh pemikirannya. Warisan intelektual yang ditinggalkannya terus hidup dalam ruang akademik, lembaga keuangan syariah, dan diskursus pembangunan global.

Chapra telah menunjukkan bahwa ekonomi dapat menjadi sarana menghadirkan keadilan, martabat manusia, dan kesejahteraan sosial. Di tengah dunia yang semakin menghadapi tantangan ketimpangan dan krisis moral, pemikirannya tetap relevan sebagai kompas yang mengarahkan pembangunan menuju kemaslahatan yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa ekonomi Islam bukan sekadar instrumen teknis, melainkan paradigma yang mampu menjawab kebutuhan zaman dengan menempatkan nilai kemanusiaan dan spiritualitas sebagai inti.

Warisan intelektual Chapra akan terus menjadi cahaya bagi perjalanan ekonomi Islam dan inspirasi bagi generasi mendatang. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebajikan beliau, melimpahkan rahmat dan ampunan kepadanya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Tinggalkan Balasan