banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIK

Ramai di Media Sosial, Mengapa Kita Semakin Kesepian?

×

Ramai di Media Sosial, Mengapa Kita Semakin Kesepian?

Sebarkan artikel ini

Ditulis Oleh: Reza Valevi 

‎Di era digital saat ini, manusia hidup dalam kemudahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hanya dengan sebuah telepon genggam, kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook, dan berbagai platform lainnya, kita dapat berbagi cerita, mengunggah aktivitas, hingga mengetahui kabar orang lain dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: mengapa banyak orang justru merasa semakin kesepian?

‎Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 180 juta pengguna media sosial atau setara dengan 62,9 persen dari total populasi. Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar tiga jam setiap hari untuk mengakses berbagai platform media sosial. Pengguna terbanyak berasal dari kelompok usia 18 hingga 34 tahun, yaitu generasi muda yang tumbuh dan berkembang bersama teknologi digital. Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia merupakan salah satu pengguna media sosial yang sangat aktif.

‎Namun, fakta lain menunjukkan hal yang cukup mengkhawatirkan. Sekitar 62 persen masyarakat Indonesia mengaku pernah merasakan kesepian, bahkan ketika berada di tengah keramaian. Data ini menghadirkan sebuah ironi. Di satu sisi, teknologi membuat manusia semakin mudah terhubung. Di sisi lain, perasaan kesepian justru masih dirasakan oleh banyak orang. Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya koneksi digital tidak selalu berarti adanya kedekatan emosional yang sesungguhnya.

‎Media sosial memang mampu menghubungkan banyak orang, tetapi hubungan yang terjalin sering kali bersifat dangkal. Tidak sedikit orang yang memiliki ratusan bahkan ribuan pengikut di media sosial, tetapi kesulitan menemukan seseorang yang benar-benar mau mendengarkan ketika mereka sedang menghadapi masalah. Interaksi yang terjadi sering kali terbatas pada tanda suka, komentar singkat, atau pesan singkat yang tidak mampu menggantikan kehangatan percakapan secara langsung.

‎Selain itu, media sosial juga sering menjadi ruang untuk menampilkan sisi terbaik kehidupan. Banyak orang membagikan pencapaian, kebahagiaan, dan kesuksesan mereka. Tanpa disadari, hal tersebut mendorong pengguna lain untuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan yang terlihat sempurna di layar. Perbandingan yang terus-menerus dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik, rendah diri, bahkan membuat seseorang merasa terasing dari lingkungan sekitarnya.

‎Fenomena ini banyak terjadi di kalangan generasi muda, termasuk mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk berselancar di media sosial, tetapi pada saat yang sama merasa kesulitan membangun hubungan yang dekat dengan orang lain. Kesibukan akademik, tekanan ekonomi, serta tuntutan untuk selalu terlihat produktif di media sosial dapat menambah beban psikologis yang mereka rasakan. Akibatnya, meskipun mereka tampak aktif dan terhubung secara digital, tidak sedikit yang sebenarnya sedang berjuang melawan rasa sepi.

‎Kesepian bukanlah masalah yang dapat dianggap remeh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perasaan kesepian dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Life Span Development tahun 2024 menemukan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara keterhubungan sosial dan tingkat kesepian pada mahasiswa. Semakin rendah keterhubungan sosial yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula kecenderungannya mengalami kesepian. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dukungan dan hubungan sosial yang bermakna memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis individu. Selain itu, penelitian dari Universitas Airlangga juga menunjukkan bahwa kesepian berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan psikologis seseorang. Oleh karena itu, fenomena kesepian di era digital perlu mendapatkan perhatian serius dari masyarakat, keluarga, maupun lembaga pendidikan.

‎Menghadapi kondisi tersebut, diperlukan upaya untuk membangun kembali hubungan sosial yang lebih bermakna. Media sosial seharusnya menjadi alat untuk mempererat hubungan, bukan menggantikan hubungan itu sendiri. Interaksi secara langsung dengan keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar tetap memiliki nilai yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Meluangkan waktu untuk berbincang, mendengarkan cerita orang lain, atau sekadar berkumpul bersama dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi rasa kesepian.

‎Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet, tetapi juga koneksi emosional. Ribuan teman di media sosial tidak selalu mampu menggantikan kehadiran satu orang yang benar-benar peduli. Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, kita perlu kembali belajar untuk hadir secara nyata dalam kehidupan orang-orang di sekitar kita. Sebab, kebahagiaan sejati tidak hanya ditemukan di balik layar gawai, melainkan juga dalam hubungan yang tulus dan hangat antarmanusia.

‎(Penulis adalah Mahasiswa Program Studi jurnalistik Islam UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi).

….

*Isi Artikel menjadi tanggung jawab penuh penulis, termasuk Sumber dan referensi yang dicantumkan

Tinggalkan Balasan