21/09/2021

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Kenapa Umat Islam Indonesia “Dungu dan Tumpul” di Era Modern ??

9 min read

MEMPERKATAKAN teori Snouck di era kolonialisme yang telah berhasil meluluh lantakkan dan menghempaskan bangsa Indonesia  bercerai-berai , kemudian dicaplok kolonislis selama 350 tahun,  tidaklah aneh. Teori ini menjadi menarik, ketika dikaji-ulang di era modern ini yang  ‘bau busuk’ teori ini masih menyengat.

Kalau dulu, teori ini sasaran tembaknya, tidak lain dan tidak bukan adalah negeri dan anak  jajahan. Sekarang, subjek dan sekaligus objeknya adalah sesama anak bangsa. Menarik kan?

*

Untuk tidak melebar kemana-mana, perlu diketahui lebih dulu siapa sosok Snouck dan Geertz serta gaya politik dan kecenderungan intelektualnya. Begitu juga kita harus tahu tentang type dan kelas-kelas muslim Indonesia.

Nama lengkap kanti kita ini adalah Christiaan Snouck Hurgronje. Ia berkebangsaan Belanda.  Hidup di ujung abad 19 s/d awal abad ke-20, tepatnya tahun 1889- 1936.

Ia adalah seorang Orientalis. Secara sederhana, seorang orientalis adalah orang Barat yang mempelajari Islam dan muslim serta ketimuran  dengan seluk-beluknya bukan untuk mengimani Islam sebagai agama. Akan tetapi,  ia mempelajari Islam dan adat budaya timur untuk mencari kekuatan dan kelemahannya.

Namun yang ia pentingkan adalah menemukan  kelemahan orangnya atau penganutnya.  Sebab, mencari kelemahan Islam  dari sudut ajarannya akan sulit, karena telah dijamin Allah bahwa Islam berstandar Internasional. Kata Allah غير الاسلام دينا فلن يقبل منه :vالاسلام يعلو ولا يعلي عليه؛ومنيبتغ

maka ruang garap orientalis mencari atau memasuki ranah kelemahan manusia muslim dan adat budayanya. Untuk meneliti apa yang tersebut  terakhir, seorang orientalis bertahun- bermukim di negeri muslim untuk mencari tahu sedalam-dalamnya yang kemudian dijadikan senjata untuk menyerang Islam dan muslim atau lawan politiknya.

Snouck dengan nama lengkap ChristiaanSnouck Hurgronje lahir pada 1857 di Osterhout, Belanda dan meninggal pada bulan Juni tanggal 26 tahun 1936 di Leiden.

Sebagai penganut Protestan  yang pura-pura masuk Islam, ia diminta nasehatnya oleh kolonial Belanda bagaimana strategi menghadapi  rakyat Indonesia yang mayoritas muslim. Tentang Indonesia ia mengedepankan teori teori Santri vs Abangan dan dalam politik diperkenalkannya politik belah bambu/ devide et impera. Dua teori ini dijadikannya untuk menjinakkan umat Islam Indonesia pada zaman itu. ( Wikipedia).

Snouch sebagai seorang non muslim dilarang masuk Mekkah, karena kota suci tidak boleh dikotori oleh orang ‘kafir’.  Justeru, ia berpura masuk Islam dengan menyamarkan nama: Abdul Ghafur, maka amanlah dia mempelajari Islam dan watak muslim sekaligus.

Dengan demikian,  orientalis dapat dikategorikan kepada 2 model: 1) yang mempelajari Islam dan adat ketimuran hanya sebatas ilmu; 2) yang mempelajari Islam yang menyelip dan membonceng  di dalamnya tugas zending Kristen yakni kristenisasi.  Tampaknya tugas Snouck adalah yang kedua.

Justeru, setelah ia menemukan apa yang dicarinya, kemudian ia oleh pemerintah kolonial Belanda dikirim ke Indonesia untuk memberi masukan kepada  kolonialis Belanda yang mana Indonesia berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Snough memperaktikkan ilmunya dengan the big three theories yakni 1) orang islam dalam soal ibadah, tidak perlu dicampuri ,  bahkan kalau perlu dibantu; 2) Islam kemasyaratan seperti naik haji; terhadap Islam atau orang islam seperti ini harus diawasi; 3) orang Islam , kalau bicara politik, pangkas.

Tiga  view cara memandang Islam itu lazim disebut SnouckTheory dalam menghadapi Islam, di samping teori Santri vs Abangannya.

Di pihak lain, Clifford James Geertz adalah antropolog berkebangsaan Amerika. Ia lahir di San Frasisco pada 22 Agustus 1926 dan meninggal dunia di Philadelphiapada 30 Oktober 2006 dalam usia 80 tahun. Sebagai antropolog dengan spesialisasi agama, perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional serta ahli kehidupan desa dan keluarga ( Wikipedia), Ia masyhur dengan teori Santri vs Abangan dan Priyayi. Lihat hasil penelitiannya: The Religion of Java.

BACA JUGA:  Skenario Adu Kambing dalam Pilgub Jambi

*

Negeri kaya seperti Indonesia menjadi incerannya. Bagaimana kekayaan Indonesia dapat dikuras dan dibawa ke Belanda. Hal itu tentu tidaklah mudah. Perlu lebih dulu menaklukkan wilayahnya menjadi negeri jajajahan. Kemudian, setelah itu tercapai Belanda harus menguasai ekonomi perdagangan yang lazim dengan ìstilah monopoli.

Monopoli tidak akan berhasil, kalau masyarakatnya bersatu, kuat dan  utuh, Untuk itu, dicari cara yang apik untuk memecah belah anak bangsa( devide et impera).  Bila, hal ini berhasil, maka muluslah teori bulus dan busuk ini terimplentasi. Ternyata dalam sejarah, teori ini berhasil melampaui target Snouck sendiri, Indonesia terjajah selama 350 tahun, kehidupan politik bangsa Indonesia berantakan dan pemahaman islam Indonesia didangkalkan alias “ disekularkan” dan apa tersebut terakhir bersahutan dengan kelas abangan.

Ibarat penyakit yang diderita seseorang, bukan hanya pisik bangsayang merasakannya, akan tetapi jiwa anak bangsa yang merasa  tertusuk duri sekaligus.

Kata pegangdut Meggy Zet: ‘lebih baik sakit gigidaripada sakit hati’. Yang digambarkannya adalah pilihan salah satu. Coba bayangkan kalau dua-duanya sekaligus. Maksudnya, bangsa Indonesia ( baca: anak jajahan atau inlander) , karena  lahirnya Indonesia merdeka,  ketika itu mengalami sakit jasmani dan sakit rohani dalam waktu yang sama( baca: harta dikuras dan anak bangsa disekularkan).

Di samping kekayaan materi yang dikandung tanah air Indonesia dikuras tanpa hiba yang dibawa ke Naderlands dan digunakan untuk membangun negeri Belanda, kehidupan rohaninya  diganggu.

Karena wilayah Belanda lebih luas lautnya, dibandingkan daratnya, maka sebahagian lautnya memerlukan dibendung untuk dijadikan pemukiman. Istilah dam adalah istilah yang akrab sekali di Belanda. Sebut saja sebagai contoh ‘Amsterdam, Roterdam.’adalah negeri yang dibendung supaya menjadi negeri layak huni. Yang menjadi daya tanya yang memikat adalah dana yang diperoleh dari mana, kalau bukan dari dana yang didapatkan kolonialis Belanda dengan cara  menguras kekayaan tanah air Indonesia.

Dari sudut pandang ekonomi dapat diajukan pertanyaan: 1)  dari mana sumbet dana itu ia dapatkan; 2) bagaimana cara menguras harta di ‘negeri zamrut khatulistiwa’ itu?  Adapun dari sudut politik, kepentingan apa yang bersarang di dada kolonialis Belanda; 2) bagaimana modus operandinya?dan kenapa lahir teori Snouck yang lazim disebut dengan devide et impera.

Apa yang dilakukan Belanda sebagai penjajah, baik diakui atau dibantah sudah berlalu sejak lahirnya VOC sampai dengan jatuhnya Indonesia ke pangkuan penjajah dan berakhir setelah kolonialisme diakhiri di Indonesia dengan pernyataan kemerdekaan Indonesia.

Upaya Snouck memecah belah rakyat Indonesia, dalam politik dan keagamaan boleh dikatakan berhasil. Wilayah Indonesia yang begitu luas sudah terkotak-kotak di bawah kolonialisme Belanda. Kerajaan-kerajaan dan kesultanan, otonominya hanya tinggal nama. Dalam arti yang sesungguhnya kekuasaan sebenarnya berada di tangan Belanda dengan politik devide et imperanya. Di bidang keagmamaan – terutama Islam – mengalami  distorsi keimanan yang luar biasa yang lebih banyak dialami masyarakat Jawa yang singkritisme keislamannya agak mengakar,  dengan mudah sekali disekularkanSnouck.

Hal itu memepermudah jalan menuju sekularisasi dengan menerapkan teori C.Geerts dalam bukunya The Religionof Java yang titik tekannya bahwa ternyata masyarakat Indonesia,  mayoritas  abangan yang perlu dipupuk keabangannya sebagai senjata ampuh melumpuhkan Islam Santri.

Menurut hasil penelitian Geerts bahwa masyarakat Jawa terbagi 3 kelas: santri, priyayi dan  abangan. KajianGeerts sebenarnya representasi masyarakat Indonesia.

Pengetahuan Snouck tentang Islam diperhadapkan  dengan kondisi real masyarakat Indonesia ketika itu, bak kata pepatah: ‘gayung bersambut’, ibarat mendayung biduk ke hilir. Keduanya saling ketemu dan bersahutan.

BACA JUGA:  Kuasa dan Wibawa Masyarakat Minangkabau

Maka, tidak terlalu sulit menjawab pertanyaan: kenapa . yang mayoritas muslim ( baca: 87 % penduduknya muslim), ternyata yang abangan mayoritas, santrinya adalah minoritas, sementara priyayi berada dan ada  di kedua kelompok tersebut.  Kelompok yang abanganlah  yang dimasuki paham sekularisasi yang pada tataran politik dianut oleh kelompok nasionalis. Di pihak lain, pemahaman keagamaan yang abangan juga cenderung dianut oleh mayoritas di kelompk nasionalis.

Melalui paparan tersebut di atas dapat ditarik benang merahnya bahwa  implementasi teori Snough yang dihiasi oleh dukungan teori Cliffort Geerts membuat kelompok nasionalis berakar subur  di Indonesia. Di pihak lain, kesuksesan  teori Snouck ditambah dengan kenyataan empirik

rakyat Indonesia membuat kelompok nasionalisme bercabang ke mana-mana di wilayah Indonesia, terutama di Jawa yang menguasai ½ penyebaran  penduduk Indonesia. Artinya, bila Jawa dikuasai, maka hampir dipastikan kemenangan berada di tangannya.

Keberhasilan Snouck memecah belah rakyat Indonesia dan kegagalan ulama dan da’i menjadikan santri menjadi kelompok mayotitas, sebagai awal bermulanya umat Islam Indonesia kurang berkekuatan, untuk tidak mengatakannya umat yang lemah.

Bersinerjinya 2 kelemahan struktural dan kultura berpadu selama berabad-abad membuat fundamental  kelemahan sampai dengan sekarang.

*

Sejak Indonesia merdeka tahun 1945 dan sebelumnya , di samping  prosentasenya sekitar 90%, kekuatan politik, sosial, budaya dan keagamaannya masih terasadi dalam bernegara dan berbangsa.Namun demikian, dari periode ke periode kepemimpinan presidennya tampak mengalami penurunan.

Kalau umat Islam Indonesia pada masa merebut kemerdekaan adalah penyumbang nyawa dan harta untuk memerdekan Indonesia. Sebagai bukti tanpa mengukur dengan statistik, lihat saja dan hitung sendiri di makam Taman Pahlawan atau makan umum lainnya sebagai penyumbang nyawa gratis yang disebutالجند المجهول. . Istilah dikenal dengan ‘pahlawan tidak dikenal’ .

Kenyataan ini sebagai gambaran bahwa umat Islam berjuang tanpa pamprih. Justru tidak salah ungkapan Letjen Alamsyah Ratu Perwiranegara bahwa kemerdekaan adalah sumbangan besar umat Islam terhadap negara.

Di lain pihak secara politik, pada pemilu pertama 1955, partai Masyumi menduduki ranking2 setelah PNI. Semuanya adalah kenyataan masa lalu umat Islam Indonesia yang sudah menjadi catatan sejarah dan hari ini kita menyebutnya sebagai nostalgia belaka.

Setelah demokrasi terpimpin yang berjasa‘ mengangkat‘ Soekarno menjadi presiden seumur hidup, masa Orde Baru lebih kurang 35 tahun telah mengulur-ulur waktu otoritarianisme pak Harto dan pada masa reformasi,  partai Islam hanya sebagai pelengkap penderita saja, walaupun populasi umat Islam nyatanya  paling besar yakni sekitar 87% dibandingkan dengan 13 % populasi agama lain.

Rasa-rasanya, kalau populasi yang jadi ukuran, maka partai-partai berbasis Islam baik berkoalisi  ataupun sendiri-sendiri akan tetap unggul. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian.

Apa yang terjadi di umat Islam Indonesia ( wha happened of modern moslem peoples in Indonesia? Inilah the great question and the big quotion yang penting diajukan dan  akan diurai jawabannya berikut ini dengan pisau bedahnya teori Sonuck Hourgronje dan teori Cliffort Geertz.

Ada 2 teori yang diajukanSnouck untuk melumpuhkan Islam Indonesia yakni : 1) politik devide et impera yang untuk  konteks sekarang disebut politik adu domba yang subjek dan objeknya umat Islam sendiri. Berbeda dengan politik devideetimpera alias ‘belah bambu’ pada zaman kolonial, yang subjek kolonial Belanda, sedangkan objeknya adalah   rakyat Indonesia terutama  umat Islam. Sementara dewasa ini baik subjek maupun objeknya adalah umat Islam yang dikatakan 87% itu.

BACA JUGA:  Jurnalis, Bolehkah Berpihak?

Snouck boleh saja mati, akan tetapi sebagai ideologi, teorinya masih langgeng hidup sampai sekarang dan ampuh  digunakan dalam perpolitikan. Politik adu-domba sesama umat Islam itu terjadi  antara kelompok yang satu dengan  kelompok muslim lain atau  bisa juga antara penguasa muslim dengan umat muslim, sehingga orang Islam sesama mereka saling memfitnah yang ujungnya lahir perpecahan intern muslim. Siapakah yang berperan sebagai Snouck di era modern sekarang.

Tentulah umat Islam yang berada di pemerintahan atau di partai. Untuk diketahui bahwa yang namanya urusan politik adalah sarat kepentingan yang kadang-kadang tanpa disadari atau pura-pura tidak sadar bahwa ‘Snouck Muda’ bermain langsung atau bermain di balik layar; dalam arti ‘Snouck Muslim’ sebagai dalangnya dan partai-partai Islam sebagai  wayangnya.

Barangkali inilah yang tetjadi didalam tubuh umat Islam sekarang yang berbeda peran sebagai Snouck pada masa kolonialisme.

Lalu teori Snouck kedua adalah membuai umat Islam menjadi terlena adalah menghidupkan kembali politik etis dengan membantu atau memberi sesuatu yang akan menumpulkan teologi, keimanan dan ketaatannya pada Allah.

Bantuan ke pesantren, sekolah, mesjid dan yayasan Islam lainnya yang membuat orang Islam itu mati kutu dan patah siku untuk menyatakan kebenaran.Itu digunakan untuk mengalihkan isue dari yang satu ke yang lainnya.

Snouck tua dan Snouck muda sama-sama meninabobokan rakyat agar tidak berpolitik. Sementara Islam sebagai agama dan negara di dalam ajarannya menganut dualisme pemikiran dan pengamalan yakni agama ďan politik/الدين والدولة adalah menyatu yang oleh Snouck harus dipisahkan, sesuai dengan kehendak Snouck.

Karena umat Islam, kalau berpolitik dalam menegakkan kebenaran’ mereka akan puritan sampai dengan tercapai perjuangan yang dicita-citakannya apalagi sesuatu yang bersifat way of life.

Jadi, sekarang yang menumpulkan umat Islam dalam berpolitik adalah umat Islam yang berada pada ranjang lain. Karenanya, bagi muslim seperti ini ‘mimpi yang berbeda’ dipandang sebagai musuh besar, walaupun sesama muslim dan pola tingkah  laku muslim seperti inilah dipelihara dan dihidup suburkan pada zaman now. Keberadaan seperti inilah yang melumpuhkan umat Islam Indonesia, makanya  jumlah nominal 87% tidak  bermakna apa-apa.

Bila dikaitkan dengan temuan C.Geerts bahwa 3 klaster umat Islam Indonesia: santri, priyayi dan abangan cocok sekali dengan kemauan politik Snouck yakni abangan yang  mayoritas di Indonesia modern betul-betul bisa dimanfaatkan oleh politisi bergaya Snouck yang mereka itu  menyebar pada partai nasionalis.

Ďengan demikian, pertanyaan di atas terjawab sudah bahwa kedunguan dan ketumpulan umat Islam Indonesia dewasa ini disebabkan teori Snouck dan teori Geerts hidup lagi secara beriringan dan diaplikasikan oleh “pemerintah” dan sesama “umat Islam yang abangan” dalam tataran politik dan keagamaan.

*

“Dungu dan tumpulnya” umat Islam Indonesia di era modern ini disebabkan teori Snouck Hourgronje dan teori Cliffort Geertshidup kembali/reinkarnasi di tengah-tengah masyarakat yang diperalat oleh politisi baik muslim maupun non muslim untuk mengobrak-abrik umat Islam Indonesia.

Predikat ‘dungu dan tumpul’ akan hilang, bila umat Islam Indonesia tidak gagal paham tentang kondisi yang sesungguhnya.  Seharusnya, Umat Islam yang representasi abangan 87% berganti ‘tempat duduk’ dengan kaum santri, baik secara nominal maupun secara verbal. Ketika hal ini terjadi,  umat Islam Indonesia bisa angkat bicara sebagai penebus kedunguan dan ketumpulan mereka.  Allahu a’lambial-shawab.

 

Oleh: Oleh: Prof. Adrianus Chatib (Gubes dan Ketua Senat UIN Sutha Jambi)

*) Tulisan ini dapat dijadikan masukan dan bahan renungan bagi partai-partai Islam serta bahan pertimbangan untuk mendirikan partai baru.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *