26/05/2022

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Forum Diskusi dan Seni Pernyataan ‘Nunduk-nunduk, Nanduk’

2 min read

Oleh: Titas Suwanda*

JAMBIDAILY OPINI – Hadir dalam beberapa forum diskusi di Jambi, seperti seminar, sarasehan, diskusi grup terpumpun, dan lain sebagainya, saya berkali-kali menemukan teks pernyataan yang menarik untuk ditelisik.

Saya berusaha menelisiknya dengan ilmu maksud. Ilmu maksud memungkinkan tafsiran baru dari suatu teks. Tentu saja, tafsiran saya ini subyektif. 

Orang-orang bahasa percaya setiap teks memproyeksikan sesuatu. Sesuatu yang bisa saja leksikal, kontekstual, bahkan mungkin juga  agenda-agenda yang diniatkan Penuturnya. Pemaknaan teks bisa saja beragam. Sebab konteks, atau bahkan pergeseran makna kata itu sendiri.

Sebagai contoh, pada masanya, kita sebagai pengguna bahasa percaya bahwa ada teks yang digunakan untuk merendahkan diri oleh penuturnya. Namun, pada konteks lain, teks yang sama mungkin saja digunakan justru dimaksudkan untuk menunjukkan superioritas penuturnya. Lho? 

Dulu, jika ada orang mengatakan, “mampirlah ke gubuk saya”, semua petutur akan percaya teks tersebut dimaksudkan untuk merendahkan diri. Namun seiring waktu, kita semua tahu, penutur yang menggunakan teks tersebut ternyata memiliki rumah yang bagus, jauh dari arti leksikal kata “gubuk”.

Maka dalam kajian ilmu maksud, muncul tafsiran bahwa penutur bisa saja bermaksud “menyombongkan diri”. Apalagi jika kemudian semua orang tahu, setiap kali ada penutur menuturkan teks “mampirlah ke gubuk saya” ternyata memiliki rumah yang bagus.

Nah, dalam forum diskusi seperti seminar, sarasehan, dan lain-lain di Jambi, lazim pula para penutur menggunakan teks-teks yang sekilas bermaksud “merendah” diri. Biasanya teks ini dituturkan di awal. Semisal “izinkan saya yg bodoh ini bertanya”, “saya tidak tahu apa-apa terkait masalah ini”, “saya awam”, dan lain sebagainya. Nah, setelah kalimat pembuka yang merendah-rendah itu, barulah saya, mungkin juga semua yang hadir di forum akan dibuat tercengang mendengar kelanjutan tuturannya.

BACA JUGA:  Jurnalistik dan Pilkada

Mengaku awam tetapi kemudian terlihat sangat paham. Mengaku bodoh tapi banyak tahunya. Mengaku tak mengerti apa-apa tapi bicaranya kemana-mana. Bahkan tak jarang pula, forum diskusi itu kemudian menjadi gelanggang perdebatan antara orang-orang yang hobi merendah tersebut. 

Saya cenderung menghidari perdebatan yang nuansanya begitu, sebab akan selalu muncul dalil, dan perdebatan cenderung lari dari subtansi bahasan awal. Maka saya selalu berhati-hatilah pada orang yang bertanya.

Sebab ada dua kemungkinan, pertama, pertanyaan-pertanyaan  itu memang didasari ketidaktahuan, atau kedua, pertanyaan itu bermaksud untuk menguji. Apalagi jika diajukan oleh penanya dengan menggunakan pembuka yang merendah-rendah itu. Nunduk-nunduk nanduk. Ngeri!

Pernah juga saya mendengar suatu teks pernyataan yang sangat absurd. Teks ini dituturkan mungkin juga bermaksud merendah, meski saya menangkap maksud lain. Begini kira-kira tuturannya, 

“Saya kemana-mana tidak memakai gelar akademik, saya tidak mau menyebut-sebut gelar, meskipun saya menyandang tiga gelar magister sekaligus, magister A, magister B, magister C”.

Lho? Tidak mau menyebutkan, tapi disebutkan semua. Absurd, kan? 

Terlepas dari itu, saya menikmatinya sebagai seni. Ya, seni pernyataan. Saya mengapresiasinya. Apalagi negara juga melindungi hak orang untuk mengemukakan pendapat.

Kawan-kawan berdebat tentu juga dibutuhkan guna memelihara pikiran agar tetap sehat. Tidak kalah penting, semoga kita bisa menerima perbedaan pemikiran sebagai dialektika yang menawan. Salam.

 

*Penulis: Penggiat seni dan literasi di Jambi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :