22 Juli 2024

Jambi Daily

Media Online Publik Aksara Propinsi Jambi

Tahukah Anda? Asal Muasal Nama Bhayangkara yang Diperingati Polri Setiap Tanggal 1 Juli

2 min read

JAMBIDAILY PENDIDIKAN – Kepolisian republik Indonesia (Polri) di setiap tanggal 1 Juli memperingati hari Bhayangkara, di tahun 2024 ialah peringatan ke-78.

Dalam konteks Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), bhayangkara merujuk pada para anggota kepolisian yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan dan pelayanan kepada warga negara.

lantas bagaimana asal-usul nama tersebut?

Berikut ini asal usul nama Bhayangkara. Bhayangkara merupakan nama untuk menyebut pasukan elite di Kerjaan Majapahit.

Pasukan ini dibentuk Raja Jayanegara, raja kedua penguasa Majapahit.

Nama Bhayangkara berasal dari bahasa Sansekerta. Arti nama tersebut sesuai dengan fungsi dan tugas mereka sebagai pasukan pelindung kerajaan. Bhayangkara bisa diartikan sebagai penjaga, pengawal, pengaman, dan pelindung keselamatan negara.

Kala itu sang raja menyadari banyak pihak tak bertolak belakang dengannya sehingga membuat pasukan elite untuk pengamanan raja. Pasukan itu pula yang menyelamatkan Jayanagara, kala pemberontak pertama oleh pejabat kerajaan Ra Kuti.

Saat itu Ra Kuti dan beberapa pejabat senior Majapahit tak suka dengan ulah dan watak Jayanagara. Maka tak heran, ketika Jayanagara memerintah dengan sangat sewenang-wenang, membuatnya tak bisa tinggal diam.

Apalagi sepeninggal Mahapatih Majapahit Nambi dan Ra Semi akibat fitnah Dyah Halayudha. Dikisahkan pada buku ‘Sandyakala di Timur Jawa 1042 – 1527 M Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Hindu dari Mataram Kuno II hingga Majapahit” tulisan Prasetya Ramadhan, Ra Kuti membentuk barisan bawah tanah guna membunuh sang raja.

Dia memobilisasi rakyat dan prajurit yang kecewa dengan kezaliman Jayanagara dan mempengaruhi mereka untuk memberontak. Bahkan Ra Kuti menawarkan balas jasa berupa penghargaan dan pangkat bila nantinya berhasil menjadi raja.

Setelah merasa kuat dan sudah waktunya, Ra Kuti dan pasukannya melakukan gerakan menyerbu istana. Pemberontakan Ra Kuti terjadi pada 1241 saka atau 1319 Masehi.

Pada penyerangan ke istana, senopati perang yang sedang tidur pulas banyak yang menjadi korban keganasan pedang Ra Kuti dan komplotannya.

Namun niat Ra Kuti membunuh Jayanagara tidak terlaksana. Sang raja yang sedang tidur pulas ternyata gagal dibunuh. Semuanya berkat aksi kesigapan pasukan Bhayangkara. Pasukan pengawal ini lalu membawa lari Jayabaya lalu diserahkan kepada seorang Bekel Bhayangkara bernama Gajah Mada.

Kala itu Gajah Mada menjadi komandan pasukan khusus Bhayangkara yang terdiri atas 15 prajurit pengawal khusus raja yang masih setia. Pasukan Bhayangkara ini bukanlah pasukan sembarangan, mereka merupakan penjaga keamanan raja yang terdiri atas orang-orang sakti dan setia serta terpilih. (*/Edit:HN/Sumber: jambiseru.com)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

48 − = 42