JAMBIDAILY.COM – Polemik pelantikan dan mutasi 237 kepala sekolah di Kabupaten Merangin terus bergulir. Setelah menuai protes dari sejumlah kepala sekolah dan menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat, kini perhatian datang dari dua tokoh senior yang pernah memimpin dunia pendidikan dan birokrasi di Kabupaten Merangin.
Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Merangin, Nasution, S.Pd., M.E, mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi pasca pelantikan ratusan kepala sekolah tersebut. Bahkan, ia mengaku sempat meneteskan air mata setelah membaca berbagai pemberitaan dan menerima keluhan langsung dari para kepala sekolah.
“Saya sempat nangis setelah membaca berita-berita yang beredar. Saya juga banyak menerima telepon dari para kepala sekolah yang mengeluhkan kondisi ini. Sebagai mantan Kepala Dinas Pendidikan, saya sangat prihatin,” ujar Nasution kepada Jambidaily.
Nasution yang menjabat Kepala Dinas Pendidikan Merangin pada periode 2021 hingga memasuki masa purna tugas pada 2023 menilai pendidikan merupakan sektor yang sangat penting dalam pembangunan daerah. Karena itu, setiap kebijakan yang menyangkut dunia pendidikan harus dilakukan secara hati-hati dan mempertimbangkan berbagai aspek.
Ia berharap Dinas Pendidikan dan pihak terkait segera mencari solusi agar polemik yang berkembang tidak berkepanjangan dan tidak mengganggu proses pendidikan di Kabupaten Merangin.
Dalam keterangannya, Nasution juga membandingkan mekanisme penempatan kepala sekolah pada masa dirinya menjabat. Menurutnya, sebelum pelantikan dilakukan, seluruh usulan terlebih dahulu dipresentasikan secara rinci di hadapan bupati.
“Sebelum ditetapkan, kami presentasikan dulu. Kami paparkan satu per satu di depan bupati. Sekolahnya di mana, tempat tinggalnya di mana, kondisi wilayahnya bagaimana. Setelah itu bupati mengecek satu per satu. Baru kemudian yang bersangkutan dipanggil dan setelah semuanya selesai barulah ditetapkan,” ungkapnya.
Pernyataan Nasution menambah daftar suara yang meminta agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap polemik yang muncul pasca pelantikan ratusan kepala sekolah tersebut.
Sementara itu, mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Merangin, Ir. Fajarman Hasim, juga ikut menyoroti polemik tersebut. Melalui salah satu komentar pada unggahan media sosial yang membahas mutasi kepala sekolah, Fajarman menyampaikan pandangannya dengan kalimat yang cukup tajam.
“Semoga ke depannya nanti tidak hanya berpikir menggunakan otak saja, tetapi perlu juga menggunakan hati agar tidak zhalim,” tulis Fajarman.
Komentar tersebut menjadi perhatian publik karena datang dari sosok yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah dan memahami proses pengambilan kebijakan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Merangin.
Hingga kini, polemik mutasi kepala sekolah masih terus menjadi perbincangan. Selain persoalan penempatan yang dinilai sejumlah pihak mengabaikan aspek kemanusiaan, publik juga masih menunggu penjelasan lebih rinci terkait proses pemetaan dan dasar pertimbangan penempatan ratusan kepala sekolah yang baru dilantik.
Munculnya komentar dan keprihatinan dari mantan Kepala Dinas Pendidikan serta mantan Sekda menunjukkan bahwa polemik ini tidak lagi hanya menjadi keluhan para kepala sekolah yang terdampak, tetapi telah menjadi perhatian para senior birokrasi yang pernah terlibat langsung dalam pengelolaan pendidikan dan pemerintahan di Kabupaten Merangin. (nzr)












