banner 120x600
banner 120x600
EKBISJURNAL PUBLIK

“Proyek Konstruksi : Kebut Akhir Tahun dan Kualitas Tergadai”

×

“Proyek Konstruksi : Kebut Akhir Tahun dan Kualitas Tergadai”

Sebarkan artikel ini

Oleh : Martayadi Tajuddin, Akademisi dan Praktisi Konstruksi

Tiap akhir tahun di hampir semua daerah tak terkecuali Jambi, fenomena klasik muncul kembali: proyek konstruksi mendadak “panik”, tenaga kerja dan alat berat digerakkan serentak, dan semua pihak mengejar target yang seolah tidak mungkin tercapai.

Gedung pemerintahan, jalan dan fasilitas publik bisa jadi selesai tepat waktu secara administratif, tapi harga yang dibayar sangat tinggi—kualitas pekerjaan, keselamatan, dan integritas proyek menjadi korban.

Fenomena ini, yang bisa disebut “kebut akhir tahun”, sudah menjadi tradisi di dunia konstruksi Jambi.

Ironisnya, meski rutin terjadi, alarm ini jarang dihiraukan.
Keterlambatan proyek bukan hanya soal teknis. Banyak proyek dimulai tanpa perencanaan yang matang: dokumen teknis belum final, spesifikasi material masih berubah, dan perhitungan volume pekerjaan sering didasarkan pada perkiraan.

Jalur kritis proyek yang seharusnya dijaga ketat malah diabaikan, sehingga setiap hambatan kecil memicu efek domino.

Saat waktu hampir habis, kontraktor dan pekerja terpaksa bekerja di luar kapasitas normal.
Intensitas tinggi ini bisa menyelesaikan proyek secara administratif, tapi mutu direnggut dan pekerjaan ulang meningkat.

Konteks akhir tahun anggaran membuat situasi semakin panas. Termin pembayaran dan serapan anggaran memaksa semua pihak bergerak cepat, sementara aliran dana yang tertunda di awal proyek memperparah tekanan.

Hasilnya adalah kebut-kebutan yang terstruktur: proyek digenjot hingga batas fisik dan teknis, mengorbankan kualitas, keselamatan, dan standar profesional. Budaya kerja ini menanam pola buruk yang menempel di hampir terjadi setiap proyek.

Faktor eksternal juga memperkuat masalah ini. Curah hujan tinggi, medan logistik menantang, dan birokrasi pengadaan yang berbelit menambah hambatan nyata. Risiko seperti ini, menurut teori manajemen proyek, seharusnya diantisipasi sejak awal.

Namun kenyataannya di lapangan, masalah-masalah ini sering dianggap darurat di akhir proyek, sehingga seluruh kegiatan menjadi perlombaan waktu yang melelahkan dan berisiko tinggi.
Fenomena ini memiliki dampak sistemik.

Keterlambatan yang konsisten menciptakan budaya kerja di mana “kebut akhir tahun” dianggap normal. Pekerjaan mungkin selesai tepat waktu secara administrasi, tetapi mutu dikompromikan, pekerjaan ulang meningkat, dan efisiensi menurun.

Bukan hanya kualitas yang terancam; kepercayaan publik juga ikut terkikis. Proyek konstruksi, yang seharusnya menjadi simbol profesionalisme dan pembangunan berkelanjutan, justru menjadi panggung drama “awal lambat, akhir panik.”

Solusi bukan sekadar menambahkan sanksi atau memperketat tenggat waktu.

Dibutuhkan reformasi sistemik: perencanaan realistis dengan buffer waktu yang memadai, penguatan kapasitas sumber daya manusia lokal, aliran dana lancar, dan pengawasan mutu yang berkelanjutan sepanjang proses.

Proyek konstruksi harus menjadi simbol profesionalisme dan integritas, bukan sekadar ritual keterlambatan tahunan.
Di Jambi, setiap proyek molor bukan sekadar keterlambatan; ia adalah alarm keras berdentang di jantung sistem konstruksi kita.

Fenomena “kebut akhir tahun” telah menjelma menjadi tradisi yang menelan kualitas dan merampas kepercayaan publik, seakan setiap pekerjaan diburu waktu bukan untuk hasil terbaik, tapi sekadar mengejar target dan angka di laporan.

Sampai tradisi ini dihentikan, setiap akhir tahun akan menjadi panggung drama yang sama—dengan biaya, mutu, dan integritas sebagai korban yang tak bersuara.

Artikel opini ini hadir sebagai ‘alarm’ bagi semua pihak yang terlibat proyek konstruksi: hentikan budaya kebut akhir tahun, sebelum kualitas dan kepercayaan publik terseret stigma salah ini, dan pembangunan yang seharusnya menjadi simbol profesionalisme justru berubah menjadi simbol kegagalan yang berulang.

Jangan biarkan proyek konstruksi menjadi cerita tahunan tentang tekanan, panik, dan kompromi; waktunya memutus siklus ini, menegakkan standar, dan menempatkan kualitas serta integritas sebagai prioritas, bukan korban dari ritme yang salah.