banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIKNUSANTARA

Renah Alai: Benteng Terakhir Penjaga Hutan yang Kini Terancam Retak

×

Renah Alai: Benteng Terakhir Penjaga Hutan yang Kini Terancam Retak

Sebarkan artikel ini

Oleh: Nazarman


Di saat banyak hutan di berbagai tempat tinggal cerita, nama Renah Alai dan Serampas di Luhak 16 selama ini masih disebut dengan rasa bangga. Di sanalah rimba masih dijaga. Di sanalah masyarakat masih berdiri sebagai benteng terakhir yang mempertahankan hutan dari pembukaan lahan yang semakin tak terkendali.

Kesadaran menjaga alam di wilayah ini bahkan pernah mendapat pengakuan resmi. Pemerintah Kabupaten Merangin sampai melahirkan Peraturan Daerah tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Marga Serampas, sebuah payung hukum yang memperkuat posisi masyarakat adat dalam menjaga tanah dan hutan mereka dari ancaman perusakan.

Namun menjaga benteng itu tidak pernah mudah.

Beberapa waktu lalu, ketegangan sempat pecah ketika sebagian penduduk lokal berhadapan dengan sejumlah pendatang yang mencoba membuka lahan di kawasan hutan. Suasana desa memanas. Emosi warga meninggi.

Sebagai putra Luhak 16 , penulis tidak bisa hanya melihat dari jauh. Ada kegelisahan yang sulit dijelaskan ketika melihat wilayah yang selama ini dikenal sebagai penjaga hutan mulai diperebutkan oleh kepentingan dari luar.

Saat itu penulis memilih bersuara. Bahkan sempat pasang badan di tengah situasi yang tidak mudah. Ancaman pun sempat datang. Tetapi semua itu dihadapi dengan satu keyakinan sederhana: Renah Alai dan Serampas harus tetap berdiri sebagai benteng terakhir penjaga hutan di Merangin.

Namun hari ini, kabar yang terdengar justru membuat hati terasa berat.

Renah Alai yang dulu dipertahankan dengan semangat kebersamaan kini justru sedang diguncang persoalan dari dalam. Saling lapor antarpenduduk mulai terjadi. Desa yang dulu dikenal kuat kini seperti mulai retak oleh pertikaian warganya sendiri.

Bagi orang luar mungkin ini hanya konflik biasa di sebuah desa. Tetapi bagi mereka yang pernah melihat bagaimana masyarakat di sana berdiri bersama menjaga wilayahnya, keadaan ini terasa memprihatinkan.

Sejarah sering menunjukkan satu kenyataan sederhana: benteng yang kuat sering kali runtuh bukan karena serangan dari luar, tetapi karena rapuh dari dalam.

Dan ketika benteng itu melemah, yang pertama kali kehilangan penjaga adalah hutan.

Hutan tidak pernah bersuara ketika ditebang. Ia tidak pernah melapor ketika dirusak. Ia hanya akan hilang perlahan sampai suatu hari orang baru sadar bahwa yang dulu hijau kini tinggal cerita.

Karena itu, melihat keadaan Renah Alai hari ini menimbulkan rasa prihatin yang mendalam. Terutama bagi mereka yang pernah berdiri, bahkan siap menghadapi ancaman, demi membela keyakinan bahwa hutan di sana harus tetap dijaga.

Harapannya sederhana. Renah Alai dan Serampas bisa kembali pada jati dirinya: desa yang kuat karena persatuannya dan dihormati karena keberaniannya menjaga alam.

Karena jika benteng terakhir itu benar-benar retak, yang hilang bukan hanya hutan yang selama ini dijaga. Yang ikut hilang adalah marwah masyarakat Luhak 16 yang sejak dulu dikenal sebagai penjaga tanah dan rimbanya sendiri.**

Tinggalkan Balasan