banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIK

Sejarah Perundungan (Bullying) pada Anak Sekolah di Berbagai Belahan Dunia

×

Sejarah Perundungan (Bullying) pada Anak Sekolah di Berbagai Belahan Dunia

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Penulis: Dr. Yuliana, SE.MSi

(Akademisi, Jurnalis, Pengamat Pembangunan Ekonomi dan Konflik Sosial, Ketua Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Tahun 2015-2023)

Perundungan di lingkungan sekolah merupakan fenomena sosial yang memiliki akar sejarah panjang dan terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Praktik ini tidak muncul secara tiba tiba, melainkan terbentuk melalui relasi kuasa di antara peserta didik, struktur pendidikan, serta norma sosial yang berkembang dalam masyarakat. Dalam konteks global, perundungan hadir sebagai pola berulang yang dapat ditemukan di berbagai negara dengan karakter yang relatif serupa.

Secara konseptual, perundungan merujuk pada tindakan agresif yang dilakukan secara berulang dengan adanya ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Bentuknya mencakup kekerasan fisik, verbal, psikologis, hingga digital. UNESCO mencatat bahwa lebih dari 30 persen siswa di dunia pernah mengalami perundungan, menjadikannya salah satu bentuk kekerasan paling umum dalam sistem pendidikan global

Kajian akademik sistematis mengenai perundungan (bullying) mulai berkembang pesat pada awal tahun 1970-an, dimulai dari kawasan Skandinavia (Eropa Utara) sebelum meluas ke Amerika Utara. Dan Olweus menjadi tokoh pelopor yang mengkaji fenomena ini secara ilmiah. Penelitiannya menunjukkan bahwa perundungan merupakan masalah psikososial yang berakar pada ketidakseimbangan kekuatan (power imbalance), di mana individu atau kelompok dominan menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk menyakiti korban yang lemah secara berulang-ulang.

Dalam perkembangannya, pola perundungan menunjukkan kesamaan lintas negara. Di negara maju seperti Amerika Serikat, perundungan lebih sering muncul dalam bentuk tekanan psikologis, eksklusi sosial, serta penghinaan berbasis identitas. Di banyak negara berkembang, kekerasan fisik masih menjadi bentuk dominan. Perbedaan ini tidak mengubah esensi utama perundungan, yaitu ketimpangan kekuasaan yang terus dipertahankan.

Kasus di Amerika Serikat memberikan gambaran yang jelas mengenai kompleksitas perundungan. Data penelitian nasional yang dipublikasikan melalui PubMed Central menunjukkan sekitar 29,9 persen remaja terlibat dalam perundungan, baik sebagai pelaku maupun korban. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan dari berbagai survei menunjukkan peningkatan signifikan. Sekitar 40 persen siswa dilaporkan mengalami perundungan di sekolah setelah masa pandemi.

Survei di wilayah New York bahkan menunjukkan lebih dari setengah siswa melaporkan adanya intimidasi di sekolah, disertai meningkatnya rasa tidak aman. Data ini menegaskan bahwa perundungan di Amerika Serikat merupakan persoalan sistemik yang terus berulang dan belum terselesaikan secara menyeluruh.

Selain itu, perundungan di Amerika juga sering berkaitan dengan isu identitas seperti ras dan latar belakang imigran. Laporan yang dikutip oleh media internasional menunjukkan meningkatnya perundungan terhadap siswa imigran akibat sentimen sosial. Banyak siswa mengalami ejekan rasial dan tekanan sosial yang berdampak pada kehadiran serta prestasi belajar. Fenomena ini memperlihatkan bahwa perundungan sering berkaitan erat dengan isu SARA.

Dalam skala global, perundungan berbasis SARA menjadi salah satu bentuk yang paling mengkhawatirkan. UNESCO mencatat bahwa faktor ras dan kebangsaan menjadi penyebab utama perundungan di berbagai negara. Anak yang dianggap berbeda lebih rentan menjadi korban, baik karena warna kulit, agama, bahasa, maupun latar belakang sosial ekonomi.

Kasus di berbagai kawasan menunjukkan pola yang serupa. Di Eropa, siswa dengan latar belakang migran sering mengalami diskriminasi. Di Asia, perundungan banyak dipicu oleh perbedaan penampilan dan status ekonomi. Di Afrika dan Amerika Latin, faktor gender dan kondisi sosial ekonomi menjadi pemicu utama. Secara global, sekitar 42 persen remaja dengan identitas gender atau orientasi seksual minoritas pernah mengalami ejekan atau ancaman di sekolah menurut laporan UNESCO.
[25/4, 23.16] .

Fenomena global ini juga terlihat jelas dalam data empiris di Tiongkok. Berbagai studi dalam beberapa tahun terakhir menegaskan bahwa perundungan di negara tersebut merupakan isu sistemik yang dialami oleh sebagian besar anak sekolah. Penelitian yang dipublikasikan melalui PubMed Central menunjukkan tingkat keterlibatan yang sangat tinggi.

Studi di wilayah pedesaan Tiongkok melaporkan bahwa lebih dari 55 persen siswa mengalami ejekan atau pemanggilan nama. Selain itu, bentuk perundungan relasional dan digital juga menunjukkan angka yang signifikan. Data ini menunjukkan bahwa perundungan tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui interaksi sosial yang merendahkan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers pada 2024 menunjukkan bahwa perundungan emosional merupakan bentuk yang paling dominan, dengan prevalensi sekitar 14,4 persen. Perundungan verbal dilaporkan terjadi dalam tingkat yang lebih tinggi dalam studi lain. Hal ini menandakan pergeseran pola perundungan menuju bentuk yang lebih psikologis.

Penelitian skala besar yang meninjau data antara 2020 hingga 2024 menunjukkan adanya peningkatan angka perundungan, yaitu dari 10,5 persen pada 2020 menjadi 14,6 persen pada 2024. Selain itu, lebih dari 50 persen siswa dilaporkan pernah mengalami perundungan dalam berbagai bentuk. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa perundungan merupakan fenomena yang luas dan terus meningkat.

Jenis perundungan di Tiongkok menunjukkan pola yang saling berkaitan antara fisik, verbal, siber, dan relasional. Studi yang dipublikasikan oleh National Institutes of Health menunjukkan bahwa kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya risiko depresi serta gangguan penyesuaian sosial pada korban.

Studi lain yang dirujuk dalam konteks India mencatat angka yang bahkan lebih tinggi, di mana perundungan oleh teman sebaya dilaporkan terjadi pada 60,1% siswa kelas 5-7. Studi independen (2024) juga menyoroti perundungan sebagai salah satu masalah kesehatan mental utama bagi anak-anak India. Faktor pemicu sering berkaitan dengan kasta, agama, serta ketimpangan ekonomi. UNICEF dalam kajiannya di Asia Selatan (termasuk India) menegaskan bahwa status ekonomi, identitas etnis/kasta, dan penanda kerentanan lainnya membentuk sifat dan tingkat kekerasan yang dialami anak di sekolah. Anak-anak dari kasta rendah (Scheduled Castes/Tribes) sering mengalami diskriminasi dan stigma sosial. Ketimpangan ekonomi yang kuat di India menyebabkan anak-anak dari latar belakang miskin lebih rentan menjadi sasaran perundungan. Perundungan di India mencakup intimidasi fisik, verbal, pengecualian sosial, dan cyberbullying.
Di banyak sekolah India, struktur sosial yang kaku dari luar terbawa ke dalam kelas, menjadikannya masalah struktural.

Tingginya kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari data dan fakta-fakta terbaru (hingga awal 2026). Fenomena ini sering disebut sebagai “fenomena gunung es”, di mana kasus yang dilaporkan hanyalah sebagian kecil dari kejadian nyata. KPAI mencatat kasus kekerasan di lingkungan satuan pendidikan (sekolah, madrasah, pesantren) konsisten tinggi. Data KPAI (2024-2025) menunjukkan persentase yang signifikan dari pengaduan anak adalah kekerasan di sekolah. Perundungan sebagai Bentuk Utama: Perundungan (fisik, psikis, verbal, dan cyberbullying) memang menempati urutan teratas kasus yang diadukan. Tren kekerasan fisik yang disertai penyebaran rekaman di media sosial adalah pola yang sedang disoroti tajam. Ini mencakup kekerasan fisik (pemukulan) dan kekerasan siber (cyberbullying), yang seringkali berujung pada korban jiwa atau trauma berat (termasuk kasus bunuh diri anak). Selain perundungan fisik, kekerasan seksual juga sering terjadi di satuan pendidikan. Penyebab Utama adalah lemahnya pengawasan, budaya kekerasan yang masih dianggap wajar, serta rendahnya literasi digital menjadi pemicu utama.

Perkembangan teknologi memperluas bentuk perundungan menjadi perundungan siber. Dalam konteks ini, korban menghadapi tekanan yang tidak terbatas pada lingkungan sekolah. UNESCO melaporkan bahwa satu dari sepuluh anak di dunia pernah mengalami perundungan siber. Kondisi ini memperkuat dampak psikologis karena melibatkan ruang digital yang luas.

Dampak perundungan terhadap korban telah dibuktikan melalui berbagai penelitian. Korban memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, gangguan tidur, serta keinginan untuk mengakhiri hidup. Selain itu, perundungan juga berdampak pada prestasi akademik dan keterlibatan dalam pendidikan. Siswa yang mengalami perundungan cenderung merasa terasing dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk meninggalkan sekolah lebih awal menurut laporan UNESCO.

Pelaku perundungan juga menghadapi konsekuensi jangka panjang. Penelitian menunjukkan adanya kecenderungan perilaku agresif yang berlanjut hingga masa dewasa. Dengan demikian, perundungan menciptakan siklus kekerasan yang melibatkan korban dan pelaku sekaligus.
[25/4, 23.20] .

Sejarah panjang perundungan memberikan pelajaran penting bahwa penanganan yang hanya berfokus pada hukuman tidak cukup. Banyak negara mulai mengembangkan pendekatan preventif melalui pendidikan karakter, penguatan empati, serta kebijakan sekolah yang inklusif. Upaya ini membutuhkan keterlibatan seluruh komunitas pendidikan.

Tulisan ini menegaskan bahwa perundungan merupakan fenomena global dengan akar sejarah panjang dan dampak luas. Data di Amerika Serikat, Tiongkok, India, Indonesia, serta berbagai negara lain menunjukkan bahwa perundungan masih menjadi masalah serius dalam dunia pendidikan. Unsur SARA memperkuat kompleksitas masalah dengan menargetkan kelompok yang dianggap berbeda.

Upaya mengatasi perundungan membutuhkan komitmen bersama antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman dan inklusif bagi setiap anak. Tanpa langkah yang terkoordinasi, perundungan akan terus menjadi hambatan besar bagi perkembangan generasi muda di berbagai belahan dunia.

Tinggalkan Balasan