banner 120x600
banner 120x600
JURNAL PUBLIKPOLHUKAM

Simbiosis Politik dan Ekonomi dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

×

Simbiosis Politik dan Ekonomi dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Penulis: Dr. Yuliana, S.E., M.SI

(Akademisi, Jurnalis, Pengamat Pembangunan Ekonomi dan Konflik Sosial Politik)

Pendahuluan
Politik dan ekonomi merupakan dua pilar yang saling menopang dalam menentukan kesejahteraan masyarakat. Keduanya berjalan beriringan, saling memengaruhi, dan tidak dapat dipisahkan dalam proses pembangunan. Politik menyediakan arah kebijakan, sedangkan ekonomi menjadi cerminan nyata dari keberhasilan atau kegagalan kebijakan tersebut.

Di Indonesia, hubungan ini terlihat jelas dalam dinamika pembangunan nasional, di mana stabilitas politik menjadi syarat utama bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Data Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 sebesar 5,05 persen dengan tingkat kemiskinan turun menjadi 9,36 persen. Angka ini menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan program perlindungan sosial yang konsisten mampu menekan angka kemiskinan.

Tahun 2024, meskipun pertumbuhan ekonomi sedikit melambat ke 5,03 persen, tingkat kemiskinan kembali turun menjadi 8,57 persen dan berlanjut ke 8,47 persen pada Maret 2025. Tren ini menunjukkan bahwa politik yang stabil mampu menjaga arah kebijakan ekonomi sekaligus memperkuat legitimasi pemerintah di mata rakyat.

Namun, di balik capaian tersebut, Indonesia tengah menghadapi dinamika politik yang semakin kompleks menjelang 2029. Gonjang ganjing politik dan perebutan posisi sering kali mengalihkan perhatian dari agenda pembangunan. Pihak yang kalah dalam kontestasi seharusnya legowo dan tetap bekerja sama membangun bangsa, bukan justru memperuncing perbedaan.

Demokrasi yang sehat menuntut sikap dewasa dalam menerima hasil politik, karena legitimasi pemerintah tidak hanya ditentukan oleh kemenangan elektoral tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak untuk menjaga persatuan.

Selain itu, penyebaran hoaks yang mendiskreditkan pihak tertentu demi tujuan politik 2029 harus dihentikan. Hoaks tidak hanya merusak reputasi individu atau kelompok, tetapi juga menggerus kepercayaan publik terhadap institusi politik.

Dalam era keterbukaan informasi, masyarakat membutuhkan narasi politik yang jernih, bukan propaganda yang menyesatkan. Politik yang sehat adalah politik yang berorientasi pada gagasan dan program, bukan pada manipulasi informasi.

Pendahuluan ini menegaskan bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada kualitas politik yang matang dan bertanggung jawab. Stabilitas politik yang bebas dari konflik kepentingan dan hoaks akan menjadi fondasi bagi kebijakan ekonomi yang berkeadilan serta pembangunan yang berkelanjutan.

Analisis
Stabilitas politik terbukti menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar dan mendorong investasi.

Penelitian Universitas Maritim Raja Ali Haji menekankan bahwa kebijakan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan diperlukan untuk menekan ketimpangan sosial serta memperluas kesejahteraan masyarakat.

Ketidakpastian politik yang muncul dari tarik menarik kepentingan dalam proses legislasi sering kali menunda distribusi anggaran dan menghambat pembangunan.

Contoh nyata dapat dilihat pada kebijakan subsidi energi. Keputusan untuk menyalurkan subsidi bahan bakar dan listrik berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat. Subsidi ini membantu menjaga inflasi tetap terkendali, tetapi juga menimbulkan beban fiskal yang besar. Ketika pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM pada tahun 2022, inflasi meningkat hingga 5,95 persen dan menekan konsumsi rumah tangga.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa keputusan politik dapat memengaruhi kesejahteraan secara cepat dan nyata.

Selain itu, program perlindungan sosial seperti Program Keluarga Harapan dan Bantuan Pangan Non Tunai merupakan kebijakan yang diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan kelompok rentan. Studi kasus kebijakan makanan bergizi gratis di Tanjungpinang memperlihatkan bahwa intervensi pemerintah dalam bentuk program sosial mampu meningkatkan status gizi, partisipasi pendidikan, dan ekonomi rumah tangga masyarakat.

Dinamika politik yang tidak stabil sering kali menimbulkan ketidakpastian. Penelitian dalam Jurnal Ekonomi Keuangan dan Kebijakan Publik menegaskan bahwa stabilitas politik pasca pemilu berpengaruh signifikan terhadap perubahan ekonomi domestik maupun global.

Ketidakpastian politik dapat menghambat investasi, memperlambat distribusi anggaran, dan menekan kepercayaan pasar.

Dalam konteks globalisasi, kebijakan ekonomi Indonesia juga dipengaruhi oleh tekanan eksternal seperti perdagangan internasional dan investasi asing. Tanpa kebijakan yang berpihak pada pemerataan, pertumbuhan ekonomi hanya akan memperlebar jurang kesejahteraan.

Sejarah pemikiran ekonomi politik yang ditulis oleh John Stuart Mill dalam Principles of Political Economy menekankan bahwa peran negara dalam mengatur distribusi dan produksi merupakan kunci kesejahteraan masyarakat.

Analisis ini memperlihatkan bahwa simbiosis politik dan ekonomi bukanlah hubungan yang statis melainkan dinamis.

Politik yang stabil menciptakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi, sementara kebijakan ekonomi yang adil memperkuat legitimasi politik. Ketika salah satu pilar melemah, kesejahteraan masyarakat pun terancam.

Menjelang 2029, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan politik dan ekonomi. Perebutan posisi politik yang semakin intens berpotensi menimbulkan polarisasi yang dapat mengganggu stabilitas. Pihak yang kalah dalam kontestasi seharusnya menerima hasil dengan sikap legowo dan tetap berkomitmen membangun bangsa. Politik yang matang menuntut kerja sama lintas kepentingan demi kepentingan rakyat, bukan semata perebutan kekuasaan.

Selain itu, penyebaran hoaks yang mendiskreditkan pihak tertentu demi tujuan politik harus dihentikan. Hoaks merusak kepercayaan publik, memperlemah legitimasi politik, dan pada akhirnya mengganggu stabilitas ekonomi. Politik yang sehat adalah politik yang berorientasi pada gagasan, program, dan solusi nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, simbiosis politik dan ekonomi akan tetap terjaga dan mampu menjadi penentu kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Penutup

Politik dan ekonomi di Indonesia membentuk simbiosis yang tidak dapat dipisahkan. Stabilitas politik menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sementara kebijakan ekonomi yang adil memperkuat legitimasi politik. Contoh kebijakan subsidi energi dan program perlindungan sosial menunjukkan bahwa keputusan politik memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat.

Tantangan ke depan adalah memastikan setiap kebijakan politik berpihak pada pemerataan dan keberlanjutan agar kesejahteraan masyarakat dapat terus meningkat di tengah dinamika global.

Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan fiskal, stabilitas politik, dan kebutuhan rakyat. Politik yang stabil harus diiringi dengan kebijakan ekonomi yang inklusif serta komitmen pada pemerataan agar pembangunan tidak hanya menghasilkan angka pertumbuhan tetapi juga menghadirkan keadilan sosial.

Menjelang 2029, bangsa ini harus mampu mengelola dinamika politik dengan kedewasaan. Perebutan posisi politik tidak boleh mengorbankan kepentingan rakyat. Pihak yang kalah dalam kontestasi seharusnya menerima hasil dengan sikap legowo dan tetap berkomitmen membangun bersama. Demokrasi yang sehat menuntut kerja sama lintas kepentingan demi kepentingan bangsa.

Selain itu, penyebaran hoaks yang mendiskreditkan pihak tertentu demi tujuan politik harus dihentikan. Hoaks merusak kepercayaan publik, memperlemah legitimasi politik, dan pada akhirnya mengganggu stabilitas ekonomi. Politik yang sehat adalah politik yang berorientasi pada gagasan, program, dan solusi nyata bagi masyarakat.

Indonesia membutuhkan arah kebijakan yang konsisten dan berani menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan kelompok tertentu. Tanpa keberanian tersebut, pertumbuhan ekonomi hanya akan menjadi catatan statistik yang tidak mencerminkan kesejahteraan nyata. Dengan politik yang stabil, kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat, serta komitmen pada pemerataan, Indonesia dapat membangun fondasi kesejahteraan yang kokoh dan berkelanjutan.
Tulisan ini menegaskan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kemampuan menjaga simbiosis politik dan ekonomi agar tetap harmonis.

Politik yang berpihak pada rakyat dan ekonomi yang berkeadilan adalah syarat mutlak bagi terwujudnya kesejahteraan yang tidak hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat tetapi dirasakan secara luas oleh seluruh lapisan bangsa.

Tinggalkan Balasan