JAMBIDAILY.COM – Universitas Negeri Jambi (Unja) mengadakan kegiatan gebyar bahasa dan sastra dengan tema bahasa dan sastra sebagai ruang narasi, merawat tradisi dan membangun literasi. Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 12 Mei 2026, bertempat di Gedung SSL Hexagonal.
Puluhan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unja, para Dosen dan Dekan tampak hadir memenuhi ruangan acara.
Acara dibuka oleh Dekan yang diwakilkan oleh Wakil Dekan, Dr. K.A Rahman, M.Pd.I dan juga sambutan dari Kordinator Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Dr Sophia Rahmawati, M.Pd, dan Ade Bayu Putra, M.Pd selalu ketua pelaksana.
Kegiatan ini menghadirkan dua orang narasumber yang ahli dibidangnya yakni Prof Dr Novi Anoegrajekti, M.Hum dari Universitas Negeri Jakarta yang menjelaskan soal bahasa dan sastra. Narasumber satunya lagi merupakan Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Jambi, Yusnaini, S.E.M.I.Kom yang menjelaskan mengenai Jurnalis story telling serta pentingnya penggunaan bahasa dan sastra dalam pembuatan karya jurnalistik.
Menurut Yusnaini, Jurnalisme tidak hanya membutuhkan kecepatan dan akurasi fakta, tapi juga membutuhkan kemampuan untuk membuat pembaca benar-benar merasakan sebuah peristiwa. Misalnya dalam karya jurnalistik indept report atau tulisan mendalam, video storytelling.
“Disinilah sastra hadir bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai bahasa rasa yang menghidupkan karya jurnalistik sebagai pengalaman,” ujar Yusnaini yang juga merupakan Dosen dan Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Nurdin Hamzah.
Karya Jurnalistik dan karya sastra dikatakan Yusnaini keduanya bekerja dalam medium yang sama, cerita. Namun cara dan tujuannya berbeda secara mendasar. Jurnalistik harus berdasarkan fakta dan verifikasi. Tiap klaim harus didukung bukti dan narasumber. “Kebenaran adalah pijakan utama yang tidak bisa dikompromikan,” tukasnya.
Sedangkan sastra dalam karya jurnalistik untuk mengolah pengalaman dan realitas, dan membuat narasi fakta menjadi hidup melalui kejadian yang terasa nyata, ritme kalimat yang mengalir, kedekatan pengalaman yang seolah pembaca hadir langsung di tempat kejadian. “Titik temunya fakta adalah pondasi dan sastra adalah cara menghadirkannya.
Jadi berita bukan hanya sekedar transfer informasi tapi juga mampu menghadirkan emosi dan pengalaman mendalam. Harapannya dapat menghadirkan perubahan sosial dan empati pembaca,” ungkap Yusnaini.
Para peserta yang mendapat materi jurnalistik ini pun antusias untuk bertanya dengan para narasumber, mulai dari penggunaan bahasa dan sastra serta video story telling.
Semua pertanyaan pun langsung dijawab oleh narasumber. Di akhir acara dilakukan foto bersama. ***














