Oleh: Nazarman
JAMBIDAILY.COM-Ada ironi besar yang sedang terjadi di dunia pendidikan Merangin. Di saat pemerintah gemar bicara soal peningkatan mutu pendidikan, sekolah justru dipaksa bertahan tanpa dana operasional.
Dana BOS belum cair. Berbulan-bulan.
Kepala sekolah mulai menjerit. Bukan karena proyek gagal. Bukan karena anggaran dipotong. Tapi karena uang untuk kebutuhan dasar sekolah tak kunjung turun.
Listrik harus tetap hidup. Internet tetap berjalan. Kegiatan belajar tetap berlangsung. Perlombaan tetap diikuti. Honor tenaga sekolah tetap ditunggu. Namun semua itu kini berjalan di tengah ketidakpastian.
Dan yang paling menyakitkan, penyebabnya diduga hanya karena birokrasi belum selesai dengan urusan administrasi dan jabatan.
Kalau benar dana BOS tersendat karena persoalan pelantikan kepala sekolah atau belum tuntasnya urusan spesimen dan tanda tangan, maka ini keterlaluan. Dunia pendidikan dipaksa menanggung akibat dari birokrasi yang lamban dan tidak siap.
Sekolah akhirnya menjadi korban dari meja-meja kekuasaan.
Para kepala sekolah dipaksa mencari cara bertahan. Ada yang mulai menalangi kebutuhan operasional. Ada yang mengurangi kegiatan. Ada yang mulai kebingungan menghadapi tagihan yang terus berjalan.
Lucunya, janji pencairan terus diulang.
“Minggu depan cair.”
Kalimat itu terdengar berulang seperti kaset rusak. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Dana tetap tak turun.
Sementara di ruang-ruang rapat, para pejabat mungkin masih sibuk menyusun jadwal pelantikan, memikirkan posisi, atau mengurus formalitas administrasi yang tak kunjung selesai.
Padahal sekolah tidak bisa menunggu drama birokrasi.
Anak-anak tetap belajar hari ini. Bukan setelah SK diteken. Bukan setelah pelantikan selesai. Bukan setelah pejabat nyaman di kursinya.
Inilah wajah birokrasi yang sering lupa pada prioritas. Jabatan bergerak lambat, tapi sekolah diminta tetap berjalan normal. Administrasi tersendat, tapi pendidikan diminta tetap berprestasi.
Lalu bagaimana sekolah mau maju jika urusan paling mendasar saja dibiarkan menggantung?
Dana BOS bukan uang tambahan. Itu urat nadi sekolah.
Ketika dana itu macet, sebenarnya yang sedang macet bukan hanya administrasi. Yang macet adalah rasa tanggung jawab.
Dan publik patut bertanya: mengapa urusan tanda tangan bisa lebih berkuasa daripada kebutuhan pendidikan ribuan anak sekolah?.(*)












