Penulis: Dr. Rafidah, SE, MEI, CCIB
(Dekan FEBI UIN STS Jambi, Ketua DPW IAEI Jambi, Sekretaris Umum DPN AFEBIS)
Latar Wacana
Jambi menjadi saksi antusiasme mahasiswa dan masyarakat dalam pelaksanaan FEBI Expo 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi berjalan dengan sukses dan mendapat antusiasme tinggi dari berbagai kalangan.
Ratusan pengunjung memadati lokasi kegiatan yang menghadirkan lebih dari 33unit usaha mahasiswa dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Berbagai produk kuliner, fesyen, kerajinan tangan, serta aneka produk kreatif ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Suasana yang hidup terlihat dari interaksi antara penjual dan pembeli, proses promosi produk, hingga transaksi yang berlangsung sepanjang kegiatan.
Selain pameran dan transaksi jual beli, acara ini ditujukan untuk membangun dan memperkuat budaya kewirausahaan di lingkungan mahasiswa
Dalam pandangan sebagian orang, kegiatan bazar kampus sering ditempatkan sebagai agenda rutin kemahasiswaan yang berfungsi menghidupkan suasana akademik dan mempererat hubungan sosial.
Namun, jika diamati melalui perspektif ekonomi dan pendidikan tinggi, kegiatan seperti FEBI Expo memiliki makna yang jauh lebih strategis. Kegiatan tersebut menghadirkan ruang belajar yang memungkinkan mahasiswa mengalami secara langsung proses ekonomi yang selama ini dipelajari melalui teori dan literatur akademik.
Tantangan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi saat ini semakin kompleks. Dunia kerja mengalami perubahan yang cepat akibat perkembangan teknologi digital, otomatisasi, dan transformasi ekonomi global. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan adaptasi, kreativitas, serta keberanian membangun usaha secara mandiri.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pengangguran terdidik masih menjadi salah satu persoalan yang memerlukan perhatian serius dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Di tengah situasi tersebut, pengembangan kewirausahaan menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus memperkuat perekonomian nasional.
Tingkat pengangguran terdidik, khususnya lulusan diploma dan sarjana, menjadi salah satu tantangan ketenagakerjaan paling mendesak di Indonesia saat ini. Pengembangan kewirausahaan terbukti sangat krusial sebagai solusi alternatif untuk menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi kesenjangan kompetensi (mismatch) di pasar tenaga kerja. Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia masih didominasi oleh kelompok berpendidikan menengah hingga tinggi. Berdasarkan data ketenagakerjaan terakhir total pengangguran sekitar 7,24 juta di Indonesia (TPT 4,68%). Angka pengangguran terdidik menyumbang proporsi yang signifikan. Lulusan perguruan tinggi (Diploma dan Universitas) menempati persentase yang menonjol, rata-rata berada di kisaran 5,39% – 6,58% dari total angkatan kerja terdidik, tergantung pada tren wilayah dan proyeksi tahunan.
Mengapa kewirausahaan menjadi instrumen penting? banyak lulusan perguruan tinggi memiliki keilmuan teoritis yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Kewirausahaan memungkinkan penciptaan lapangan kerja secara mandiri yang berbasis inovasi dan keahlian lokal. Wirausaha muda dapat mendorong sektor ekonomi kreatif, digital, dan UMKM, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Kewirausahaan juga mampu menggeser paradigma lulusan universitas dari job seeker (pencari kerja) menjadi job creator (pencipta lapangan kerja), sehingga secara langsung mengurangi beban serapan pasar kerja konvensional.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan mahasiswa agar mampu berperan sebagai pelaku pembangunan ekonomi. Tanggung jawab tersebut tidak dapat diwujudkan hanya melalui pembelajaran di ruang kelas. Mahasiswa memerlukan pengalaman langsung yang mempertemukan konsep akademik dengan realitas ekonomi. Dalam konteks itulah FEBI Expo menemukan relevansinya sebagai media pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif.
Bagi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, kegiatan kewirausahaan juga memiliki dimensi yang lebih luas. Pendidikan ekonomi Islam tidak hanya membahas efisiensi, produktivitas, dan keuntungan ekonomi. Pendidikan tersebut juga menekankan pembentukan karakter, integritas, tanggung jawab sosial, serta nilai nilai moral yang menjadi fondasi aktivitas ekonomi dalam Islam. Oleh sebab itu, kegiatan seperti FEBI Expo memiliki posisi penting dalam membangun kompetensi sekaligus karakter mahasiswa.
Argumentasi
Dari perspektif ekonomi, FEBI Expo dapat dipahami sebagai laboratorium praktik yang mempertemukan teori dengan pengalaman nyata. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut memperoleh kesempatan untuk menguji berbagai konsep ekonomi yang dipelajari selama perkuliahan. Konsep permintaan dan penawaran, perilaku konsumen, elastisitas harga, strategi promosi, hingga pengelolaan usaha dapat diamati secara langsung melalui interaksi pasar yang terjadi selama kegiatan berlangsung.
Ketika mahasiswa menawarkan produknya kepada konsumen, mereka belajar memahami bahwa keputusan pembelian dipengaruhi oleh banyak faktor. Harga produk memang penting, tetapi kualitas, kemasan, pelayanan, komunikasi pemasaran, dan citra produk juga menentukan minat konsumen. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan pembelajaran teoritis semata.
Pentingnya pengalaman langsung dalam pendidikan kewirausahaan telah dijelaskan oleh David A. Kolb melalui teori experiential learning. Menurut Kolb, pembelajaran yang efektif terjadi ketika individu memperoleh pengalaman konkret, melakukan refleksi, membangun konsep, dan mengujinya kembali dalam praktik. Teori tersebut menjadi salah satu rujukan utama dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan modern.
Siklus empat tahap Experiential Learning (Pembelajaran Berbasis Pengalaman) yang dipopulerkan oleh David A. Kolb pada tahun 1984, yaitu:
1) Pengalaman Konkret (Concrete Experience): Individu terlibat langsung dalam suatu pengalaman baru atau situasi nyata.
2) Observasi Reflektif (Reflective Observation): Individu mengamati dan melakukan refleksi terhadap pengalaman tersebut dari berbagai sudut pandang.
3) Konseptualisasi Abstrak (Abstract Conceptualization): Individu menganalisis pengalaman dan observasi tersebut untuk membangun konsep, teori, atau pemahaman baru.
4) Eksperimentasi Aktif (Active Experimentation): Individu menguji konsep atau teori tersebut dalam praktik di dunia nyata untuk memecahkan masalah atau mengambil keputusan.
Dalam konteks pendidikan kewirausahaan, pendekatan ini diakui sebagai rujukan utama karena kewirausahaan adalah ilmu praktik. Mahasiswa tidak hanya menghafal teori bisnis, melainkan belajar langsung dari eksekusi proyek nyata, mengevaluasi kegagalan atau keberhasilan, dan menyempurnakan strategi mereka.
Kegiatan seperti FEBI Expo juga memberikan pembelajaran mengenai manajemen usaha. Mahasiswa harus memperhitungkan kebutuhan modal, biaya produksi, harga jual, margin keuntungan, serta strategi pengelolaan stok. Mereka belajar bahwa keberhasilan usaha sangat ditentukan oleh kemampuan mengambil keputusan yang rasional berdasarkan data dan perhitungan yang matang.
Dalam dunia bisnis, kemampuan semacam ini sangat penting. Banyak usaha gagal berkembang bukan karena kualitas produknya rendah, melainkan karena lemahnya pengelolaan keuangan dan perencanaan usaha. Melalui pengalaman langsung, mahasiswa dapat memahami bahwa aktivitas kewirausahaan memerlukan disiplin, ketelitian, dan kemampuan membaca peluang pasar.
Selain aspek manajerial, FEBI Expo juga menjadi sarana penguatan keterampilan komunikasi. Mahasiswa harus berinteraksi dengan konsumen yang memiliki karakter dan preferensi yang beragam. Mereka belajar menjelaskan keunggulan produk, menjawab pertanyaan pelanggan, menerima masukan, serta membangun hubungan yang baik dengan pembeli. Kemampuan komunikasi semacam ini merupakan bagian penting dari kompetensi kewirausahaan yang sering kali tidak dapat diperoleh secara optimal melalui pembelajaran di kelas.
Dalam perspektif kewirausahaan modern, kemampuan mengenali peluang menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan usaha. Howard Stevenson dari Harvard Business School mendefinisikan kewirausahaan sebagai upaya mengejar peluang tanpa dibatasi oleh sumber daya yang tersedia saat ini. Definisi tersebut menegaskan bahwa inti kewirausahaan terletak pada kemampuan melihat kemungkinan dan menciptakan nilai melalui inovasi.
Konsep dasar yang tepat mengenai inti dan filosofi kewirausahaan modern, Profesor Howard Stevenson dari Harvard Business School mendefinisikan kewirausahaan sebagai “the pursuit of opportunity beyond resources currently controlled” yaitu upaya mengejar peluang tanpa dibatasi oleh sumber daya yang tersedia saat ini.
Stevenson menekankan bahwa kemampuan mengidentifikasi dan bertindak cepat mengejar peluang adalah pembeda utama antara seorang wirausahawan dan manajer tradisional. Definisi ini sejalan dengan pandangan pakar bisnis lain seperti Peter F. Drucker, yang menyatakan bahwa wirausaha selalu memandang perubahan sebagai hal yang wajar dan mengeksploitasinya sebagai peluang.Inti dari kewirausahaan adalah penciptaan nilai (value creation) melalui cara-cara baru atau inovasi yang memecahkan masalah pasar.
Nilai tersebut sangat relevan dengan semangat yang ditunjukkan mahasiswa dalam FEBI Expo. Keterbatasan modal dan pengalaman tidak menghalangi mereka untuk menghadirkan berbagai produk kreatif yang memiliki nilai jual. Proses tersebut merupakan langkah awal dalam membangun mentalitas kewirausahaan yang tangguh.
Lebih jauh lagi, FEBI Expo memiliki keunikan karena berlangsung di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Kewirausahaan yang dikembangkan dalam lingkungan akademik Islam tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada nilai nilai etika dan kemaslahatan.
Dalam perspektif Islamic entrepreneurship, aktivitas usaha dipandang sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada masyarakat. Prinsip kejujuran, amanah, keadilan, transparansi, dan tanggung jawab sosial menjadi landasan utama dalam menjalankan usaha.
Nilai nilai tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat di tengah berbagai persoalan etika bisnis yang masih ditemukan dalam praktik ekonomi kontemporer.
Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat jelas mengenai pentingnya integritas dalam aktivitas ekonomi. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi disebutkan bahwa pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang orang yang benar, dan para syuhada. Hadis tersebut menunjukkan bahwa aktivitas bisnis yang dilakukan dengan penuh integritas memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam.
Melalui FEBI Expo, mahasiswa belajar menerapkan prinsip tersebut dalam praktik. Mereka belajar menjaga kualitas produk, memberikan informasi yang benar kepada konsumen, serta membangun kepercayaan melalui pelayanan yang baik. Pengalaman ini menjadi modal penting dalam membentuk karakter entrepreneur Muslim yang berintegritas.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah keterlibatan UMKM dalam kegiatan tersebut. Kehadiran pelaku usaha lokal menciptakan ruang interaksi yang produktif antara dunia akademik dan dunia usaha. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar dari pengalaman praktis para pelaku usaha, sementara UMKM memperoleh ruang promosi dan jejaring yang lebih luas. Hubungan seperti ini sangat penting dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang sehat dan berkelanjutan.
Kesimpulan
FEBI Expo 2026 menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan yang efektif memerlukan perpaduan antara teori dan praktik. Kegiatan yang menghadirkan mahasiswa, dosen, pelaku UMKM, dan masyarakat tersebut telah menjadi ruang pembelajaran yang memperkaya pengalaman akademik mahasiswa sekaligus memperkuat kompetensi kewirausahaan mereka.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami dinamika pasar secara langsung, mengembangkan keterampilan manajerial, memperkuat kemampuan komunikasi, serta membangun keberanian mengambil peluang usaha. Pada saat yang sama, mahasiswa ekonomi dan bisnis Islam juga belajar mengintegrasikan nilai nilai etika, kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial dalam aktivitas ekonomi yang mereka jalankan.
Dalam jangka panjang, kegiatan seperti FEBI Expo memiliki kontribusi strategis bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori ekonomi, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki kemampuan menciptakan usaha, membuka lapangan kerja, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ikhtiar mencetak entrepreneur Muslim masa depan membutuhkan proses yang panjang dan berkelanjutan. FEBI Expo memperlihatkan bahwa proses tersebut dapat dimulai dari ruang ruang sederhana di lingkungan kampus. Dari stan stan usaha yang dikelola mahasiswa, tumbuh pengalaman, pengetahuan, karakter, dan semangat kewirausahaan yang kelak dapat menjadi fondasi bagi lahirnya generasi pengusaha Muslim yang berdaya saing, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.














