Oleh: Prof. Mukhtar Latif, MPd
(Guru Besar UIN STS Jambi – Datuk Rio Tanum Cendikio Agamo)
Kesetiaan bagaikan aur dengan tebing, tebing runtuh, aur terbawa. Itu hukum alam orang Jambi tentang cinta, kesetiaan, persahabatan, dan rumah tangga. Aur punya batang untuk berdiri tegak teguh hidup, tebing jadi penyangga, agar aur bisa bertahan hidup dengan ketahanan dipinggir tebing. Selama tebing menahan, aur tumbuh rindang dan indah. Begitu tebing longsor, aur ikut hanyut ke Batanghari tanpa sempat protes. Itu bukti setia sungguhan. Sekali tumbuh kesetiaan, konsekuensinya ditanggung bersama sampai mati.
Zaman sekarang hukum itu geser jadi “bak kabel dengan charger”. Kabel bagus setia menghantar daya. Charger setia menyediakan daya. Saling menguatkan. Tapi ada cacat pabriknya: colokan sekarang gampang korslet, gampang ganti model, gampang dipakai ngecas orang lain. Begitu colokan dicabut, kabel langsung mati. Begitu charger ganti, kabel setia dibuang jadi sampah elektronik. Ujungnya gosong, tengahnya tidak kepakai.
Keretakannya paling terasa di tiga hubungan dasar manusia. Cinta bertahun-tahun bisa bubar hanya karena satu pihak lihat “charger 240W” di TikTok. Alasannya sederhana: “Kamu kurang romantis”. Padahal charger lama sudah mengisi dia tiap malam delapan jam tanpa putus. Dia bak aur yang meninggalkan tebing batu demi tebing pasir yang fotonya bagus di Google Maps.
Sahabat lima belas tahun bisa retak gara-gara grup WA baru bernama komunitas “sultan”. Satu pihak malu karena sahabat lamanya “cuma 20W”. Langsung cabut colokan, pindah ke colokan baru yang watt-nya besar tapi tidak stabil. Enam bulan kemudian komunitasnya bubar. Dia balik menangis: “Dulu kita bak aur dengan tebing ya”. Iya, tapi aur yang sudah hanyut susah kembali ke tebing yang sama.
Paling ngeri di suami istri. Data BPS 2025 mencatat angka perceraian nasional mencapai 30 KK dari 100 KK dalam sepuluh tahun terakhir. Puncaknya terjadi di usia pernikahan satu sampai lima tahun dan lima sampai sepuluh tahun. Fase satu sampai lima tahun itu masa adaptasi watt. Suami merasa charger istri tidak dua ratus empat puluh watt. Istri merasa kabel suami tidak ori. Fase lima sampai sepuluh tahun muncul colokan penggoda: karier, HP baru, teman kantor, selingkuh virtual. Tebing yang retak kecil di tahun pertama langsung longsor di tahun ketujuh. Alasan BPS klasik: tidak harmonis, perselingkuhan, cemburu. Bahasa gampangnya, istri sibuk lihat charger orang di Instastory, suami sibuk lihat kabel lain di TikTok. Keduanya lupa charger dua puluh watt di rumah sudah mengisi sepuluh tahun tanpa putus. Akibatnya tebing runtuh, aur tertinggal, anak yang hanyut ke Batanghari.
Di sinilah “teori ilmiah” menjelaskan kenapa kita gampang jadi kabel bocor. Psikolog John Bowlby lewat Attachment Theory bilang, manusia punya model ikatan: aman, cemas, menghindar. Orang dengan ikatan cemas itu bak kabel bocor. Dia terus mencari colokan baru karena takut ditinggal. Otaknya banjir dopamin tiap lihat charger baru, makanya tidak pernah puas. Ilmu komunikasi punya Comparison Theory. Bahagia itu rumusnya realita dikurang ekspektasi. Makin sering scroll, ekspektasi naik, bahagia turun, tebing cepat retak. Psikolog John Gottman menyebut, Seven Year Itch atau “Tujuh Tahun Gatal”. Tahun kelima sampai ketujuh itu fase krisis. Dopamin cinta turun, realita naik. Kalau tidak ada maintenance, rumah tangga roboh. Itu semua nyambung ke data BPS kenapa paling banyak di usia 1-5 dan 5-10 tahun.
“Pepatah adat Melayu” yang nyambung ke aur-tebing dan kabel-charger.
Orang Melayu bilang “Bagai aur dengan tebing”. Itu pepatah aslinya. Artinya hubungan tolong-menolong yang setia. Tebing melilit Aur saat banjir, Aur bertahan hidup dengan tebing saat kemarau. Kalau salah satu lepas, keduanya celaka. Itu hikmah dan hakikat kesetiaan.
Lalu ada, Bagai isi dengan kuku. Kuku tidak bisa hidup tanpa isi jari. Isi jari tidak bisa kerja tanpa kuku. Dicabut satu, keduanya sakit. Itu analogi suami istri dan sahabat yang setia. Tidak bisa saling ganti seenaknya seperti ganti charger.
Melayu juga ngajarin “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Sekali kita cabut colokan demi charger baru, sekali kita lepas lilitan aur dari tebing lama, kepercayaan itu retak. Kabel bekas tidak akan dihargai lagi. Tebing yang pernah runtuh Aur yang pernah hanyut tidak akan saling dipercaya lagi oleh Aur dan tebing yang lain.
Terakhir, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Itu hukum rumah tangga dan sahabat. Masa adaptasi tahun 1-5 berat dipikul berdua. Tahun 5-10 ringan dijinjing bareng. Kalau tahun yang berat langsung cari kabel baru, ya wajar tebingnya runtuh.
Makanya rada lucu, kalau kita lihat dari kaca mata ilmiah Melayu. Penghulu nikah nanya: “Mau jadi aur dengan tebing atau kabel dengan charger?” Pengantin jawab: “Kabel dengan charger aja Pak, biar fast charging”. Penghulu timpal: “Hati-hati Nak. Pepatah Melayu bilang bagai isi dengan kuku. Dicabut satu, sakit keduanya. Data BPS bilang tiga puluh persen kabel putus di tahun satu sampai lima. Fast charging cepat penuh, cepat kembung juga”.
Fase satu sampai lima tahun dan lima sampai sepuluh tahun itu masa service berkala. Tidak diservis, tebing longsor. Secara ilmiah digital ada jurusnya. Digital detox satu jam sehari. Riset University of Pennsylvania 2018 membuktikan kurangi media sosial tiga puluh menit per hari, depresi dan rasa cemburu turun tiga puluh persen. Cabut colokan dari charger orang satu jam sehari, fokus mengisi tebing di rumah. Lalu gratitude journaling: tiap malam tulis tiga hal charger dua puluh watt pasangan yang masih menyala. Otak reprogram: syukur lebih besar dari comparison. Ini vaksin paling ampuh melawan FOMO tahun kelima sampai kesepuluh. Terakhir mode airplane relationship: satu hari seminggu HP pasangan mati bersama. Ngobrol tanpa sinyal. Ingat lagi rasanya mengisi tanpa colokan dunia.
Perspektif Melayu jurusnya juga tiga. “Bak aur dengan tebing”: kalau tebing runtuh, aur jangan lepas harus ikut terbawa. Justru lilit makin erat, kasih akar, tahan lumpur biar tidak longsor. “Bagai isi dengan kuku”: rawat kuku jangan sampai patah. Kalau patah, isi jari ikut sakit. Artinya rawat pasangan, rawat sahabat, jangan tunggu dia rusak baru panik. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”: tahun 1-5 pikul bareng, tahun 5-10 jinjing bareng. Jangan tahun berat langsung cari charger baru.
Data BPS 2025 itu tamparan keras. Tiga puluh dari seratus KK gagal. Dan yang paling banyak gagal ada di usia satu sampai lima tahun dan lima sampai sepuluh tahun. Artinya kita gagal di masa adaptasi colokan. Belum kuat menahan, sudah minta ganti charger.
Kesetiaan itu bukan soal tidak pernah retak. Kesetiaan itu soal berani menambal retak bersama. Dunia mengajarkan jadi kabel dua ratus empat puluh watt: cepat penuh, cepat rusak, cepat dibuang. Aur dan tebing mengajarkan jadi kesetiaan yang hati yang tangguh, jika retak tambal dengan lumpur, longsor di tahan akar. Tidak viral, tapi bertahan ratusan tahun.
Charger dua ratus empat puluh watt membuat HP cepat penuh, tapi membuat baterai kembung. Tebing yang setia membuat aur rindang, teduh, berbuah untuk anak cucu.
Maka pilih mana, Mati gosong bak kabel bekas di tahun ketujuh. Atau hidup rindang bak aur dengan tebing sampai Batanghari kering.
Ingat. Yang peduli bukan charger dua ratus empat puluh watt di Instastory. Yang peduli hanya Allah dan tebing dua puluh watt di rumah yang dari tahun pertama sampai tahun kelima puluh masih mau mengisi kita sampai pagi.
——–













