(Apa mungkin ada asap jika tidak ada api)
Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd. (Guru Besar UIN STS Jambi)
Beranda pendidikan Merangin lagi gaduh. Isinya bukan lomba cerdas cermat, tidak pula tentang guru berprestasi. Tapi Isinya kursi kepala sekolah yang dipindah-pindah seperti bidak catur. Pengangkatan ribut. Mutasi mencurigakan. Guru berbisik, orang tua gelisah, netizen menghujat.
Kalau asap sudah kelihatan dari jauh, jangan tanya siapa yang bakar. Tanya siapa yang kasih bensin. Pepatah bilang: tak ada asap kalau tak ada api. Apinya jelas: kursi kepala sekolah diperbincangkan.
Haruskah kursi jadi komoditas
Kepala sekolah itu pemimpin. Dia yang putuskan arah kapal bernama sekolah. Kalau nahkodanya dipilih karena pesanan, maka kapalnya tidak berlayar. Kapalnya dijual kiloan.
Cerita di lapangan ngeri. Mau duduk di kursi kepala sekolah harus siap dana. Ada harga. Ada tawar menawar. Ada istilah halus: “mahar pembinaan”. Halusnya minta ampun, kotornya minta ampun juga.
Kalau kursi dibeli, lalu siapa yang membayar cicilannya? Murid. Lewat guru yang tertekan. Lewat program yang dipotong. Lewat integritas yang digadaikan sedikit demi sedikit.
Ki Hajar Dewantara pesan: Ing ngarso sung tulodo. Pemimpin harus di depan jadi contoh. Bagaimana mau jadi contoh kalau cara duduknya saja sudah salah, nggak patut dicontoh?
Kepala sekolah itu pelayan, bukan juragan
Secara tugas, kepala sekolah itu manajer pembelajaran. Dia yang pastikan guru mengajar, murid belajar, sekolah bergerak. Permendikdasmen sudah tulis panjang lebar: kepala sekolah itu pemimpin perubahan, bukan pemimpin transaksi.
Tapi kalau pemimpin logikanya jual beli, ada kepentingan, ada pesanan, maka semua teori runtuh. Robert Greenleaf punya istilah servant leadership. Pemimpin itu pelayan. Dalam kaitan sekolah, dia datang untuk melayani murid, bukan untuk balik modal.
UU ASN sudah pasang pagar: merit system. Jabatan diisi karena mampu, bukan karena mau. Karena pintar kelola kelas, bukan karena pintar kelola lobi. Kalau pagar itu dijebol, maka sekolah berubah fungsi. Dari tempat mencerdaskan jadi tempat menginvestasi.
Pembelajaran inspiratif: Cabut colokan, bongkar panel
Asap tidak hilang dengan kipas. Asap hilang kalau api dipadamkan. Tiga tindakan bedil langsung ke pusatnya:
Pertama, terang benderang. Semua proses pengangkatan dan mutasi dibuka. Kriteria ditempel di dinding. Hasil diumumkan ke publik. Rahasia itu pupuk subur untuk korupsi.
Kedua, pakai otak bukan pakai koneksi. Uji kompetensi dijalankan serius. Tim penilai orang independen, bukan orang titipan. Kepala sekolah dipilih karena rekam jejaknya bersih, bukan karena rekeningnya tebal.
Ketiga, hukum yang main. Ada mahar, laporkan. Ada upeti, kembalikan. Ada pemain, copot. Tanpa kompromi. Karena membiarkan satu kursi kotor sama saja meracuni ribuan murid.
Rekomendasi kedepan untuk sekolah pendidikan
Kembalikan sekolah ke anak dan guru. Cukup sandiwara di beranda sekolah. Pendidikan tidak butuh kepala sekolah yang jago lobi dan mudah dilobi. Pensidikan butuh kepala sekolah yang jago baca rapor murid. Butuh yang berani bilang tidak pada amplop, dan berani bilang iya pada anak yang tertinggal.
Jangan jadikan kursi kepala sekolah seperti colokan listrik. Dicabut pasang sesuai pesanan. Jadikan dia seperti tiang sekolah: berdiri di tempatnya, menahan atap, melindungi semua yang di bawahnya.
Kalau kursi kepala sekolah masih bisa dibeli, maka masa depan anak sekolah kita sedang dilelang.
Ingat pesan orang tua: guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau nahkodanya pedagang, jangan heran kalau anak didik kelak jadi calo.
Beranda pendidikan sekolah kita sedang dibincangkan, asap masih ngepul ditiup angin, tentu masih ada api, tentu masih ada yang kotor masih perlu dibersihkan agar pendidikan menjadi lahan persemaian anak bangsa generasi pemimpin masa depan. Jika kotor ya segera Bersihkan, jika ada asap ya segera matikan, sebelum apinya menghanguskan generasi.
———-












