JAMBIDAILY SENI, Budaya – “๐๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ณ๐ช๐ง๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ฅ๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฎ “๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ”. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ณ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐จ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ข๐ต, ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ญ๐ฆ๐ธ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข-๐ด๐ฆ๐ญ๐ข ๐ซ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช.” Kalimat pengantar Bungin pergelaran Teater AiR, naskah Titas Suwanda dengan Sutradara Oky Akbar, di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi (Jum’at, 11/11/2022).
Naskah drama/teater merupakan modalitas primer dalam memproduksi pementasan teater. Dibutuhkan kajian komprehensif dalam memilih dan menetapkan naskah yang akan dipentaskan. Setiap orang atau komunitas memiliki cara kajian tersendiri dalam memilih dan menetapkan naskah teater. Kami, Yayasan Teater AiR Jambi menggunakan cara safari diskusi. Secara maraton, naskah didiskusikan kepada tetua untuk mendapat petuah yang nantinya menjadi tuah.
Dalam pada itu, safari diskusi juga akan mengetengahkan sajian materi pementasan. Materi pementasan mesti dikaitkan dengan tematis kegiatan. Taman Budaya Jambi, tahun 2022 mengusung tema Upacara Adat. Oleh karena itu, setelah melewati safari diskusi, Teater AiR Jambi merespon upaya open call yang dihajatkan Taman Budaya Jambi dengan ikut serta mengajukan proposal pementasan melalui jalur pengolahan seni. Naskah Bungin karya Titas Suwanda terpilih menjadi naskah yang akan dipentaskan.
Bungin merupakan pemenang kedua Lomba Cipta Cerpen Media Salim. Bungin termaktub bersama 24 cerpen lainnya dalam Antologi Cerpen Buntung yang telah beredar sejak tahun 2016. Pementasan Bungin akan melalui tahapan alih wahana dari bentuk naratif (prosa) menjadi bentuk teks play (naskah drama) yang menekan pada bagaimana peristiwa disajikan di atas panggung pertunjukan (teater).
Pentas ini diselenggarakan Pemerintah provinsi Jambi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Jambi UPTD Taman Budaya Jambi, didukung penuh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dirjen Kebudayaan dalam bingkai Dana Alokasi Khusus (DAK).
Konsep upacara dalam pergelaran ini menurut Kepala Taman Budaya Jambi, Eri Argawan Sesuai kesepakatan seniman, bahwa tahun 2022 semua karya eksperimentasi, pengolahan dan Apresiasi di Taman Budaya Jambi wajib bertema Upacara.
โInilah program pengembangan seni tradisional, kegiatan pembinaan kesenian yang masyarakatnya pelaku lintas daerah kabupaten/kota pada sub kegiatan peningkatan kapasitas tata kelola lembaga kesenian tradisional dan sub kegiatan peningkatan pendidikan dan pelatihan SDM kesenian tradisional,โ Tandas Eri Argawan.
KONSEP GARAPAN
Pementasan Bungin mengusung konsep Realis-Absolut. Permainan realis menekankan pada kekuatan karakter tokoh. Aktor mengumpulkan banyak informasi terkait masa lalu, pengalaman, dan psikis tokoh yang dimainkan. Lalu, memadukannya dengan dialog, ucapan tokoh lain, dan reaksi yang ditimbulkan. Perpaduan tersebut akan diperkuat dengan pemahaman hukum panggung, gerak yang bermakna, dan motivasi-motivasi yang mendasarinya.
Sementara itu, absolut dimaknai sebagai ketidakterbatasan. Ketidakterbatasan akan difokuskan pada wujud latar dan sudut pandang. Untuk mewujudkan itu, pemanfaatan teknologi multimedia akan dihadirkan. Latar bagian belakang panggung akan โditembakโ proyektor. Proyektor menghadirkan video aktivitas aktor sebagai bagian dari alur pementasan. Dengan begitu, ada penciptaan video jauh hari sebelum pementasan dilaksanakan. Video yang ditayangkan bukan hanya menggambarkan setting peristiwa yang bersifat imajinasi melainkan menggeser sudut pandang menuju setting yang lebih alami, yang tidak mungkin dihadirkan di atas panggung. Begitu pun juga halnya dengan suara-suara yang terekam oleh kamera.
Mito-ekologi menjadi dasar penciptaan Bungin. Mitos kemunculan Bungin masih dipercaya oleh masyarakat. Apabila Bungin telah nimbul ke permukaan, tanda sungai akan meminta haknya. Sungai akan meminta tumbal. Tumbal berupa jiwa manusia. Mitos ini berkembang di tengah masyarakat Melayu Jambi yang mendiami sepanjang aliran sungai Batanghari, khususnya masyarakat yang bermukim di daerah Sengeti, Kabupaten Muaro Jambi.
Sementara itu, ekologi berkaitan dengan lingkungan yang dijadikan sebagai unsur ekstrinsik penciptaan Bungin. Sederhanya disebut ekologi-sastra. Muatan ekologi-sastra bertujuan memberi penyadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan (ecocriticsm). Itulah, yang menjadi muatan dan pesan penting Bungin.

Dalam teks Bungin, guna menghindari malapetaka dari mitos tersebut, oleh kesepakatan tokoh-tokoh cerita dalam Bungin, diadakanlah upacara tolak bala. Upacara tolak bala sebagai bentuk upacara tradisional yang mengacu pada rangkaian Upacara Mandi Shafar. Doa-doa dihaturkan kepada Yang Maha Kuasa untuk mendapat perlindungan, keberkahan, dan keselamatan. Doa-doa yang dihaturkan atau dilafazkan adalah doa tujuh ayat yang berasal dari Al-Quran yang berawalan kata ุณูู [Baca: Upacara Tradisional. Editor: Jaโfar Rassuh. Upaya Pelestarian Nilai-nilai Budaya Daerah yang dicetak oleh Pemerintah Provinsi Jambi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.].
ูุคูุงู
ูุฑุจุฑุญูู
ุณูู
ุณูู
(QS Ya-Sin: 58)
ุณูุงู
ุนูู ูุค ุญ ูู ุงูุนูู
ูู (QS As-Saffat: 79)
ุณูู
ุนูู ุงุจุฑ ููู
(QS As-Saffat: 109)
ุณูู
ุนูู ู
ุค ุณู ุค ูุฑ ุคู (QS As-Saffat: 120)
ุณูู
ุนูู ุงู ูุง ุณูู (QS As-Saffat: 130)
ุณูู
ุนุงููู
ุทุจุชู
ูุง ุฏ ุฎูุค ูุง ุฎูุฏ ูู (QS Az-Zumar: 73)
ุณูู
ููู ุญุชู ู
ุทูุน ุงููุฌุฑ (QS Al-Qadr: 5)
Rangkaian upacara tolak bala yang ditampilkan yakni:
1)Penulisan ayat di atas tujuh daun mangga;
2)Pembacaan niat;
3)Pelarungan daun mangga.
Dalam konsepsi adat yang dikemukakan Syaiful [Baca: Budaya Melayu Riau. Anuar Syaiful, Dkk. Lembaga Adat Melayu Riau bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata Riau (2018). Buku digital bisa diakses di https://www.gaharahati.com/2020/04/bab-iv-adat-dan-adab-melayu-riau-pdf.html], secara umum dikenal dengan empat konsep adat, yaitu: adat yang sebenar adat, adat yang diadatkan, adat yang teradatkan dan adat istiadat. Kehadiran upacara tolak bala (Upacara Mandi Shafar) dalam teks Bungin, mengacu pada bentuk adat yang diadatkan.
Dipaparkan Syaiful, adat yang diadatkan adalah hukum, norma atau adat buah pikiran leluhur manusia yang piawai, yang kemudian berperanan untuk mengatur lalu lintas pergaulan kehidupan manusia. Adat yang diadatkan bisa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan kemajuan zaman. Bisa ditambah dan dikurangi agar tetap dapat menjawab tantangan kehidupan masyarakatnya, dan mempunyai perbedaan antar wilayah budaya. Adat yang diadatkan ini maknanya mengarah kepada sistem-sistem sosial yang dibentuk secara bersama, dalam asas musyawarah untuk mencapai kesepakatan. Adat yang diadatkan juga berkait erat dengan sistem politik dan tata pemerintahan yang dibentuk berdasarkan nilai-nilai keagamaan, kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan polarisasi yang tepat sesuai dengan perkembangan dimensi ruang dan waktu yang dilalui masyarakat Melayu.














